Tinggal menghitung hari tahun ajaran baru akan dimulai. Orang tua yang akan melanjutkan pendidikan anaknya ke TK, SD, SMP, SMA dan PT mulai melirik, melihat, mendengar dan mencari sekolah yang pas buat buah hati mereka. Pertimbangan jarak dan biaya sering menjadi penentu utama pilihan orang tua. Padahal sebenarnya kualitas sekolahlah yang menjadi prioritas utama. Bagaimana sekolah berkualitas yang menjadi harapan orang tua tentunya punya tolok ukur berbeda setiap orang tua.
Sekolah berkualitas haruslah
sekolah yang menyenangkan. Hal ini tentu sesuai imbauan
Menteri Pendidikan Anies "Sekolah harus diubah menjadi tempat yang menyenangkan di manakalau siswa ke sekolah pasti ingin kembali bukan ingin segera pulang.
Sekolah Menyenangkan
Sekolah menyenangkan adalah sekolah yang selalu dirindukan. Apa saja
yang dirindukan itu ? Ruangan belajar yang homing.
Setiap ibu rumah tangga tentu berusaha agar rumah menjadi tempat yang
paling nyaman, sehat dan terjamin bagi anaknya. Ibu akan mendekorasi setiap
ruangan di rumah menjadi segar dan sehat. Misalnya saja ruangan tidur anak akan
dicat dengan warna
favorit dan dilengkapi berbagai perabot
sesuai selera anak apa itu sprei, bantal dan handuk yang serba Hello Kitty misalnya.
Maka sekolah sebagi rumah kedua anak juga harus dibuat sehoming mungkin. Jangan sampai ruangan 7x8 meter tersebut menjadi
kelas membosankan. Bayangkan dia akan duduk di sana selam 250 hari efektif
belajar per tahunnya. Berbagai usaha dapat dilakukan untuk membuat kelas
belajar menyenangkan seperti cat putih konvensional dapat diganti dengan
warna-warna segar seperti hijau, orens, atau biru muda. Tempat duduk
konvensioanal empat baris memanjang ke belakang juga dapat diganti menjadi tempat
duduk yang mudah diubah sesuai tema belajar. Misalnya model seminar bila
berdiskusi atau model panggung bila berpuisi. Cahaya juga harus cukup. Bila
cahaya tidak cukup atau silau mata akan dua kali bekerja keras untuk hanya bisa
membaca dan melihat tentunya hal-hal seperti inilah yang membuat anak cepat lelah
padahal belum mulai belajar untuk mencerna pelajaran. Udara juga diharapkan
bebas bersirkulasi. Semakin banyak oksigen terhirup anak maka akan semakin
lancar peredaran darah ke otak. Semakin lancar peredaran darah di otak maka
anak semakin mudah menyerap pelajaran. Memang sekolah di kota-kota besar
terhimpit di antara bangunan-bangunan besar sehingga sangat sulit membuat
ruangan kelas berudara. Sekarang banyak ruangan kelas ber-AC sebagai solusi mendapatkan
udara segar. Boleh juga ditambah pengharum ruangan untuk menyegarkan dan iringan musik untuk
menenangkan. Profil siswa yang tadinya foto warna 3x4
dapat diganti dengan foto selfie
setiap siswa. Remaja senang eksis narsis. Mengapa sekolah tidak menangkap gejolak tersebut? Hal
ini dapat juga dilanjutkan dengan memajang hasil karya siswa di ruangan kelas
masing-masing. Suasana kelas adalah
penentu psikologis belajar siswa.
Kebersihan tentunya harus menjadi budaya setiap siswa. Tetapi perlu
juga sekolah menyiapkan tenaga untuk pembersih sekolah khususnya yang mengurusi
sampah dan toilet. Kantin juga harus menjamin makanan sehat, halal dan bersih.
Sekolah layak anak. Sekolah berhak menyeleksi tender pengelola kantin dengan
melihat kebersihan pengolahan dan penyajian makanan. Keamanan sekolah juga menjadi pertimbangan
berikutnya. Tidak ada tempat gelap yang dipakai untuk cerita horor seperti yang
sering muncul di sinetron remaja saat ini. Bahwa sekolah sering dijadikan
syuting film horor ada lorong atau tangga gelap dan sunyi sebagai tempat
menakutkan.
Manajemen sekolah yang baik akan mengelola semua
prasarana di atas menjadi sinergis. Kemampuan manajemen sekolah dapat dilihat
dari penghargaan yang didapat. Manajemen sekolah akan memudahkan semua pihak
saling terhubung. Guru dengan mudah mendapatkan bahan ajar atau soal-soal dari wi-fi sekolah. Guru akan mengadaptasi
semua bahan ajar tersebut dengan metode pembelajaran yang tepat. Misalnya sudah
tidak zamanya lagi guru mengajar dengan metode ‘ceramah 24 jam’ artinya ceramah
melulu cas-cis-cus tetapi ceramah
dengan bantuan audio visual. Sebuah gambar lebih berarti dari seribu kata.
Hasil kerja siswa juga tidak harus lagi lewat kertas tetapi dapat lagsung dapat
diupload ke internet untuk sekolah
lebih terbuka ke luar selain itu guru juga dapat serta menjadi aktivis go green dengan mengoreksi tugas
anak-anak melalui cek email. Intinya
bagaimana sekolah harus berbenah menjadi tuan rumah dalam mempersiapkan acara
penting. Tamu agung yang diundang adalah siswa dan acara penting itu adalah
belajar. Belajar adalah pesta.
Tentu prasarana sekolah seperti yang disebutkan di atas terlalu ideal. Tetapi mengapa tidak ?
Sekolah swasta sedang berlomba-lomba membuka sekolah mahal. Ada harga maka ada
sarana. Bagi sekolah negeri dengan dana terbatas tentu sangat sulit menciptakan
ruangan kelas ideal di atas. Tetapi bukan tidak mungking. Di daerah saya kelas
ideal seperti di atas dibisniskan menjadi kelas plus. Orang tua akan dikutip dana tambahan yang
besar untuk menyediakan dan memelihara ruangan kelas ideal di atas.
Guru yang Mengispirasi
Sekalipun sekolah tersebut menyediakan sarana terlengkap dengan ruangan
komputer tercanggih. Laboratorium fisika, kimia biologi dan bahasa supernyaman.
Pembina ekskul terlatih dibidangnya bahkan sampai ada yang mendatangkan atlet
langsung sebagai pelatihnya dengan alasannnya guru tidak sempat dan tentu
kurang kompeten. Fasilitas Wi-fi anti lelet. Buku gratis dan kurikulum terbaru.
Semua itu hanya akan menjadi benda-benda
diam tak bergerak bila tak dihidupkan oleh guru. Penting bila orang tua juga memperhatikan profil
guru sekolah tersebut.
Dimulai dengan pendidikan minimal guru tersebut.
Untuk siswa TK minimal PGTK, siswa SD minimal PGSD, untuk SMP/SMA minimal SI
dan PT minimal S2. Hal ini menjadi lebih mudah karena syarat utama guru
memperoleh sertifikat pendidik adalah dengan memperhatikan pendidikan minimal.
Memang jenjang pendidikan bukan jaminan guru tersebut cerdas tetapi itu menjadi
tolok ukur minimal. Selanjutnya adalah prestasi guru. Guru
berprestasi akan menghantar siswa berprestasi. Tentu saja prestasi ini tidak harus wah. Prestasi-presatsi
sederhana juga boleh seperti guru dengan senyum termanis, guru dengan bahasa terlembut. Perhatikan juga bagaimana
sekolah tersebut selalu mengupdate
gurunya. Guru perlu terus dibaharukan ilmu dan
pedagogiknya. Karena itu, sekolah tidak boleh hanya menguras habis ilmu guru
tersebut untuk anak didik. Memaksa dia bekerja full time tetapi
lupa memberi hak guru untuk terus belajar juga. Sebagai
bandingan bila pegawai kantoran swasta dipromosikan akan disertai dengan diklat dan sebagainya.
Mengapa sekolah tidak menyiapkan pos atau dana khusus untuk pelatihan guru. Jangan
hanya menunggu seminar, diklat, MGMP atau workshop yang diselenggarakan oleh Dinas
Pendidikan. Tentunya guru dituntut mampu mengupdate diri sendiri, tetapi alangkah idelanya bila sekolah
juga dapat menfasilitasi tersebut. Terakhir mungkin adalah
kesejahteraan guru. Batasan sejahtera tentu berbeda-beda. Minimal upah minimum kabupaten. Sehingga bila
guru sejahtera akan senang hati mengajar. Bila gaji tidak mencukupi dari
sekolah tersebut, maka guru akan mencari sekolah atau tempat lain untuk menambah penghasilan. Sehingga guru tersebut akan mempunya dua
atasan. Dapatkah seseorang mengabdi kepada dua tuan?.
Saya percaya sudah banyak sekolah dengan kriteria
di atas dan saya semakin percaya akan semakin banyak sekolah yang sangat
memperhatikan kelengkapan belajar dan kinerja gurunya untuk Indonesia hebat.









