Saya bukanlah tokoh parenting seperti Ibu Ely Risman atau Ayah Edi bahkan saya bukanlah majalah parenting Theasiaparents yang terkenal itu. Justru saya adalah ibu yang sedang gagal. Ketiga putri saya (9), (7) dan (2) adalah peniru ulung. Mereka sering berteriak, mengancam, mencubit dan tertekan.
Melihat karakter anak saya yang
sekarang justru membuat saya makin tertekan dengan teori-teori parenting yang tampaknya sangat ideal tetapi saya jatuh bangun dalam kesehariannya. Saya semakin tenggelam
sebab bukan hal baik yang saya ingin lakukan tapi kebalikannya yang sering terjadi. Semoga
masih ada kesempatan menghapus hal-hal buruk dan menggantinya dengan hal baik
yang akan mereka kenang kelak.
Saya hanya mau menuliskan
hal-hal kecil (besar) yang akan saya lakukan sehari-hari di 2021 nanti, antara lain :
1. Punya waktu
khusus mendoakan mereka
Sehat, selamat, jauh dari celaka
dan cidera tentu kita panjatkan setiap harinya. Tapi ini khusus, mengkhususkan
mereka dalam topik doa pribadi setiap Senin pukul 5 pagi tentang pertumbuhan
mereka, tentang karakter mereka, tentang kebutuhan mereka saat ini dan
kebutuhan mereka nanti. Sebab hanya Allah yang sanggup mengubah hati. Sebab
indahlah sebuah lirik lagu 'di doa ibu namaku disebut'.
2. Punya waktu
khusus beribadah keluarga
Setiap Rabu pukul 19.30 adalah
kebiasaan baru kami selama pandemi karena imbaun gereja untuk melakukakan
'partangiangan weik' di rumah masing-masing. Ini akan tetap berlanjut sebab ibadah
keluarga melatih menghormati Allah untuk tidak mengantuk saat berdoa, memuji Allah lewat pujian buku ende (sekalian belajar bahasa Batak), mengasihi
sesama saat mendoakan Bou Lisbet tetap semangat, mendoakan Oppung Lubis yang
rumahnya di atas supaya sehat, mendoakan Kota Rantauprapat supaya aman saat
pilkada kemarin, mendoakan korona cepat berlalu sebab mereka sangat rindu
bersekolah.
3. Letakkan hape
saat anak sudah bilang “Ma”
Yang mereka tahu kalau mama
sedang pegang hape berarti mamanya sedang ngegame, ngeyoutube atau nge-fb.
Padahal sudah dijelaskan kalau mamanya sedang jualan buku di fb, jangan sampai slow respon nanti ditinggal
pembeli, transfer mbangking, ngezoom,
ngedit kine master, ngedit canva dll.
4. “Mak,
tili-tili”
Itu adalah permintan anak ketiga karena dihasut anak kedua untuk bermain klitian. Sering mereka meminta bermain sama mamanya dan saya mengalihkan ke ayahnya karena piring perlu dicuci dan kain perlu dilipat.😥 Ayahnya sering bilang "Mereka perempuan loh, jangan sampai lebih dekat sama ayahnya daripada mamanya"
Pliz help me 😢
5. Sempatkan
memeluk mereka
Saat menyapu rumah atau saat
menggoreng ikan, sempatkan bilang “Dek cium Mama dulu”, “Ka peluk mamak dulu”.
6. Telanjur
marah dan memukul jangan lupa minta maaf
Biasanya bila amarah mamake sudah reda atau malam harinya, harus saya menemani tidur untuk meminta maaf
pada mereka bila saya telanjur marah dan mencubit.
7. Rumah
berantakan, sebentar laginya itu
Yang pernah ke rumah kami pasti
sering melihat pecahnya kapal di sini. Baru selesai cuci piring, isinya sudah
dikeluarkan untuk jualan, “Bu mau pesan apa?”, kata kakak nomor dua ke anak ketiga.
Baru selesai lipat kain, isi lemari sudah keluar semua. Si Kakak bilang “Yang
mau, fix kuning ya, tinggalkan no wa”.
8. Tetap sediakan
buku
Si kakak nomor satu selalu bawa
buku klo mau tidur, “Ka baca buku jangan mau tidur”, teriak mamanya supaya
matanya tetap sehat. Si nomor dua bawa buku ke kamar untuk disusun jadi etalase
toko buku, si nomor tiga buku untuk dikoyak-koyaknya. Ampun dj, sayangnya
uangku yang beli buku itu 😥
9. Bongkar
celengan untuk meleskan mereka
Si kakak nomor satu kemarin
sempat sebulan les piano, lumayan sudah bisa mainkan Si Semut. Pandemi
menyerang, dia pun berhenti dan tak berminat lagi ke sana. Sekarang dia mau les
vokal tapi harus ditemani bila latihan.
10. Ucapkan terima kasih bila si Kakak sudah selesai susun piring
Terkadang dia masih cemberut,
terkadang dia masih bertengkar sama adiknya supaya mau membantunya. Apapun itu
tetaplah beri ‘upahnya’ di awal bulan karena sudah mau membantu emaknya nyusun
piring, nyusun kain dan menyapu rumah.
11. “Coba lihat Si
Tiur, Bisa gak Kakak seperti itu?”
Oopps, kalau mamaknya saja tidak suka dibanding-bandingkankan dengan
mamak-mamak lain, apalagilah anak, pasti dia juga tidak suka
dibanding-bandingkan.
12. Rumah boleh
tidak dipel, kain boleh tidak disterika
tapi memasak itu wajib
Meski emak bukan koki handal atau anak-anak
terlalu banyak permintaan: “kok diarsik”, “kok gak disambal”, “wuihh, ikan
banyak durinya”, “ayam gorenglah Ma” dll. Tetap prioritaskan masakan rumah.
13. Lipstikmu
patah, inden lagi 🥰
Putriku yang ketiga sekarang
punya pencapaian baru, matahkan lipstik, mecahkan bedak, curahkan lotion, bublekan sabun cair dll.
Terus mamake..
Cari lagi
Yang diskonan
Itupun inden
bayar gajian 😀
14. Sembunyikan high hell-mu di tempat yang tidak terjangkau 🥰
Sudah disimpan di lemari
tertutup, ditaruh di atas lemari, disusupkan di belakang lemari tetapi kenapa
ya masih saja dapat sepatu tumit merah mamaknya.
15. Tebalkan telinga bila ia menangis maksimal 30 menit
Si kakak nomor dua biasa tantrum
bila keinginannya tak terpenenuhi dan tampaknya itu diikuti anak nomor tiga. Si
ayah tahan tapi saya tak tahan mendengar ia menangis. Jangan tersulut untuk marah dan memukulnya karena menangis.
Bila dia menangis kelaparan
tentu saja kami yang salah, tapi kalau dia menangis untuk segera dibelikan bahan-bahan
milkshake sekarang padahal sudah dijanjikan nanti siang maka biarkan ia
menangis, tiga puluh menit pun biarlah.
16. Satu kata
untuk suami istri dan keluarga besar
Pernah dalam acara makan bersama
kami makan mi satu bungkus berdua. Si anak nomor dua menagis tidak mau berbagi
dan hanya untuk diri sendiri. Kami suami istri sudah tega bilang berbagi tapi
ada keluarga yang tidak tega melihat dia menangis, diambilnya uang dan
dibelikanlah khusus untuk dia. Akhirnya dia terus memanfaatkan itu dan menjadi
kebiasaannya terhadap bounya. Ah, semoga kedepannya semua keluarga besar satu
kata untuk mendidiknya.
17. Perhatikan
waktu-waktu kritis
Biasanya saat kapan emak gampang
berteriak ? Saat keuangan sekarat (aku yakin ekonomi kami akan bangkit), saat
tegangan tinggi dengan suami, saat konflik dengan mertua atau ipar, saat
dikejar deadline tugas sekolah, saat oyong menjaga anak yang sakit atau saat
letih dengan pekerjaan rumah yang tak pernah selesai. Waspada di saat-saat itu
Mak, dirimu gampang tertekan dan akhirnya tak terkendali.
18. Jaga kewarasan dengan ‘me time’
Ah, pengen sih me time itu seperti emak-emak lain pergi belanja, nongkrong di kafe, touring dll. Tapi me time ala gue gampang banget kok cukup di perpus, (tapi karena korona ngumpet di kamar saja) baca buku dan menulis seperti buat tulisan ini. Hemat banget kan Gue, tapi itupun susahnya minta ampun. Gak dilihat saja mereka saja mamanya sebentar sudah langsung, "Mana mama?".
19. Terima dirimu di angka 70
Lama saya mencari dres hijau botol, Ld 120 yang saya inginkan di online shop. Aduhhhh bahaya yang golongan berat ini, 70 Mak...Tak kuasa diriku. Semakin aku letih semakin kuat makan. Kucoba tak makan malam, subuhnya bisa gemetaran tubuh ini.
Gak usah ngoyo terima saja dirimu apa adanya saat ini. Akan datang waktunya sebentar lagi. Bangun tidur sarapan tersedia. Lalu mandi tanpa terbirit-birit. Melenggang berangkat mengajar. Sorenya berjoging cantik untuk tubuh idealmu. Malam harinya duduk manis depan laptop buat konten, ngisi blog berbayar tanpa dikejar dead line dan menerbitkan buku satu buku satu tahun. Wah..saya sangat merindukan bila waktu itu sudah datang
20. Kekang mulut untuk mengutuk
Setiap kali emosi, mulut ini terbiasa mengeluarkan kata-kata negatif. Yuk ganti,
“Yang rajinlah Ka Deo ini”
“Yang baiklah Si Gifty ini”,
“Baik budilah Si Mira kami ini”.









Wuih kerennya dirimu....
BalasHapusTrims ya
HapusSuper sekali kali kk..
BalasHapusTrims ya
Hapus