Curhatan Bunda

Jumat, 15 September 2017

SELAMAT DATANG DI KOTA RANTAUPRAPAT


“Wah, enak ya tiap hari bisa lihat danau ?”
“Bukan Mbak, itu Parapat. Kami Rantauprapat, Labuhan Batu.”
“Oh, Rantauprapat, kota dollar itu ya,
TUGU SELAMAT DATANG DI RANTAUPRAPAT

Begitulah selalu setiap kali saya memperkenalkan diri pada orang baru. Terlebih saat pertama kali saya pergi merantau ke luar kampung saya. Saya harus menegaskan bahwa Rantauprapat berbeda dengan Parapat. Bahkan orang kementerian pun sempat menuliskan Kota Siantar pada surat pemanggilan seleksi beasiswa tahun 2015 lalu karena kealpaan saya menuliskan nama kabupaten. Untung saja surat itu sampai di tangan saya karena pencantuman kode pos yang tepat.
Rantauprapat adalah ibu kota kabupaten Labuhan Batu. Salah satu dari 25 kabupaten yang ada dan kabupaten terluas kedua di Provinsi Sumatera Utara. Kereta api adalah kendaraan favorit bila kita berangkat dari Medan ibu kota provinsi kami.  Cukup membeli tiket kereta api bisnis  seharga Rp. 125.000  yang dapat juga dibeli di tiket.com dan Anda akan menikmati perjalanan kurang lebih enam jam untuk sampai di kota ini.
Kotanya cukup kecil, tapi perkebunan karet dan sawit yang mengelilinginya seluas 60.993 hektar atau 24 % dari 2.562,01 Km2 luas wilayah Kabupaten Labuhanbatu. Karet dan sawit tumbuh sangat subur di sini sehingga menjadi tanaman primadona di kota ini. Harganya seperti emas sehingga kota ini dijuluki kota dollar. Banyak perkebunan modal asing, perkebunan modal pemerintah dan banyak juga perkebunan modal sendiri. Saking bergengsinya berkebun sawit, orang tua dulu punya prinsip ‘buat apa habiskan biaya nguliahkan anak, mendingan buat modal buka kebun’. Syukurnya Bapakku punya prinsip ‘buat kebun untuk kuliahkan anak’. Gaji Bapak sebagai karyawan perkebunan asing hanya cukup membiayai kebutuhan sehari-hari. Sore harinya sepulang ‘menderes’, Bapak masih berpeluh lagi mengolah ladang miliknya sendiri. Aku kuliah dari hasil kebun karet Bapak.
Labuhan Batu raya mempunyai potensi alam untuk dikembangkan. Itulah sebabnya tahun 2008, kabupaten ini dimekarkan menjadi tiga kabupaten. Labuhan Batu Utara dengan ibu kotanya Aek Kanopan. Labuhan Batu induk berpusat di Rantauprapat dan Labuhan Batu Selatan dengan Kota Pinang sebagai pusat administrasinya.
Seiring perluasan kebunnya maka penduduknya juga bertambah banyak. Apakah sebagai pekerja kebun maupun sebagai pedagang. Itulah juga sebabnya Rantauprapat berpotensi sebagai pusat perdagangan. Kota kecil ini saja sudah mempunyai tiga supermaket besar seperti Suzuya Plaza, Suzuya Mall dan Brastagi Supermarket. Apalagi berbagai urusan pemerintahan seperti pendidikan, kesehatan dan perdagangan masih berpusat di Rantauprapat, di tambah lagi dengan rencana pembangunan bandara di Aek Nabara.
Penduduk aslinya bersuku Melayu yang sekarang banyak tinggal di daerah pantai. Kebanyakan penduduk pendatang sebagai pedagang, pekerja atau pegawai. Rata-rata mereka bertahan karena mampu menjejakkan ‘kemapanan’ dari hasil berkebun tadi. Selamat menggali surga ekonomi tersembunyi di sini.



1 komentar:

  1. Aku tinggal di kota kecil, sebuah kabupaten yang supermarketnya hanya dua. Namun orang2 sini kalau mau belanja banyak, jalan2 perginya ke Surabaya, sekitar 2 jam berkendara.

    BalasHapus