“Wah, enak ya tiap hari bisa lihat danau ?”
“Bukan Mbak, itu Parapat. Kami Rantauprapat,
Labuhan Batu.”
“Oh, Rantauprapat, kota dollar itu ya, ”
![]() |
| TUGU SELAMAT DATANG DI RANTAUPRAPAT |
Begitulah selalu setiap kali saya memperkenalkan diri pada orang baru.
Terlebih saat pertama kali saya pergi merantau ke luar kampung saya. Saya
harus menegaskan bahwa Rantauprapat berbeda dengan Parapat. Bahkan orang kementerian pun sempat menuliskan Kota Siantar
pada surat pemanggilan seleksi beasiswa tahun 2015 lalu karena kealpaan saya
menuliskan nama kabupaten. Untung saja surat itu sampai di tangan saya karena
pencantuman kode pos yang tepat.
Rantauprapat adalah ibu kota kabupaten Labuhan Batu. Salah satu dari 25
kabupaten yang ada dan kabupaten terluas kedua di Provinsi Sumatera Utara.
Kereta api adalah kendaraan favorit bila kita berangkat dari Medan ibu kota
provinsi kami. Cukup membeli tiket
kereta api bisnis seharga Rp. 125.000 yang dapat juga dibeli di tiket.com dan Anda akan
menikmati perjalanan kurang lebih enam jam untuk sampai di kota ini.
Kotanya cukup kecil, tapi perkebunan karet dan
sawit yang mengelilinginya seluas 60.993 hektar atau 24 % dari 2.562,01 Km2
luas wilayah Kabupaten Labuhanbatu. Karet dan sawit tumbuh sangat
subur di sini sehingga menjadi tanaman
primadona di kota ini. Harganya seperti emas sehingga kota ini dijuluki kota
dollar. Banyak perkebunan modal asing, perkebunan modal pemerintah dan banyak
juga perkebunan modal sendiri. Saking bergengsinya berkebun sawit, orang tua
dulu punya prinsip ‘buat apa habiskan
biaya nguliahkan anak, mendingan buat modal buka kebun’. Syukurnya Bapakku
punya prinsip ‘buat kebun untuk kuliahkan anak’. Gaji Bapak sebagai karyawan
perkebunan asing hanya cukup membiayai kebutuhan sehari-hari. Sore harinya
sepulang ‘menderes’, Bapak masih berpeluh lagi mengolah ladang miliknya sendiri.
Aku kuliah dari hasil kebun karet Bapak.
Labuhan Batu raya mempunyai potensi alam untuk dikembangkan. Itulah sebabnya
tahun 2008, kabupaten ini dimekarkan menjadi tiga kabupaten. Labuhan Batu Utara
dengan ibu kotanya Aek Kanopan. Labuhan Batu induk berpusat di Rantauprapat dan
Labuhan Batu Selatan dengan Kota Pinang sebagai pusat administrasinya.
Seiring perluasan kebunnya maka penduduknya juga bertambah banyak. Apakah
sebagai pekerja kebun maupun sebagai pedagang. Itulah juga sebabnya Rantauprapat
berpotensi sebagai pusat perdagangan. Kota kecil ini saja sudah mempunyai tiga supermaket besar seperti Suzuya Plaza, Suzuya Mall dan Brastagi Supermarket. Apalagi berbagai urusan pemerintahan seperti pendidikan,
kesehatan dan perdagangan masih berpusat di Rantauprapat, di tambah lagi dengan rencana pembangunan bandara di Aek Nabara.
Penduduk aslinya bersuku Melayu yang sekarang banyak tinggal di daerah
pantai. Kebanyakan penduduk pendatang sebagai pedagang, pekerja atau pegawai.
Rata-rata mereka bertahan karena mampu menjejakkan ‘kemapanan’ dari hasil
berkebun tadi. Selamat menggali surga ekonomi tersembunyi di sini.








Aku tinggal di kota kecil, sebuah kabupaten yang supermarketnya hanya dua. Namun orang2 sini kalau mau belanja banyak, jalan2 perginya ke Surabaya, sekitar 2 jam berkendara.
BalasHapus