Pendekatan Multiple Untuk Pemahaman
Salah seorang siswa Dr. Gardner
pernah bertanya, “Dr. Gardner bagaimana saya mempratikkan teori itu jika saya
tidak mengerti?”. Beliau beprikir sebentar lalu menjawab, “ Engkau tidak akan
pernah mengerti teori itu jika tidak mempraktikkannya dan mempraktikkannya
lagi”.
Masalah besar guru dalam mengajar
adalah bagaimana membuat anak didik benar-benar paham akan materi yang
diterangkan. Beberapa contoh anak yang ‘gagal paham’ :
- Fisika : anak SMA gagal menjelaskan usaha dari koin yang diundi atau alasan perbedaan suhu di musim panas atau salju. Jawaban mereka sama saja dengan anak kecil yang belum pernah mendengar fisika.
- Matematika : hanya menghapal rumus, bila diubah sedikit saja bentuk rumus sudah mulai bingung. Mereka tidak memahami benar-benar rumus itu.
- Ilmu sosial : tidak suka akan naskah yang panjang
Gardner
memberikan beberapa pendekatan untuk meningkatkan pemahaman :
- Pendekatan observasi : contohnya pergi langsung ke museum. Siswa bisa melihat dan meraba sendiri kemudian bisa menceritakan kembali di kelas.
- Pendekatan konfrontasi : selalu menggunakan rumus yang biasa, dapat ditantang memakai atau membuat rumus sendiri.
- Pendekatan sistematik : guru memberi tujuan pembelajaran secara eksplisit, korelasi, dan sharing perspektif kepada siswa.
Entri Poin
Dari
ketiga pendekatan itu Gardner lalu mengembangkan tujuh entri point dalam
membantu pemahaman siswa yang hampir sama dengan kecerdasan spesifik.
- Narasi: Bagi siswa yang menikmati belajar melalui cerita.
- Kuantitatif/numerik: bagi siswa yang suka memilih angka dan pola.
- Logika : kemampuan berpikir deduktif dan induktif
- Eksistensi : Ini bisa menjadi titik masuk bagi siswa yang ingin tahu tentang jenis pertanyaan yang mendasar.
- Estetika: Berniat untuk menarik siswa yang terinspirasi oleh karya seni.
- Kinestetik untuk siswa yang "belajar dengan berbuat"
- Sosial: Memanfaatkan dalam efektivitas kelompok belajar dimana siswa dapat berinteraksi satu sama lain dan menganggap peran yang berbeda.
Dibutuhkan Teknologi
Aliran
fundamental dengan tegas berkata bahwa makna dan tujuan pendidikan seharusnya
tidak bergantung pada teknologi tetapi menurut Gardner pendidikan tidak boleh
menolak teknologi. Bukankah pendidikan telah memakai tekologi itu walau dalam
bentuk sederhana sekalipun seperti buku, pensil, kertas, peralatan seni atau
laboratoriun biologi yang sederhana.
Guru
dapat membuat kurikulum sendiri di kelas tetapi teknologi dapat membantu
melayani guru dan siswa. Sangat mungkin menciptakan software untuk setiap kecerdasan
yang berbeda, menyediakan ruang untuk setiap entri poin, mengizinkan siswa
untuk mengungkapkan pemahaman mereka masing-masing dalam simbol yang berbeda
(bahasa, musik, grafis dll). Guru juga dapat memeriksa tugas siswa dengan cepat,
fleksibel atau sangat memungkinkan dilakukan walaupun dengan jarak jauh. Terima
kasih kepada email, web, video conference
dan sebagainya.
Pengetahuan tidak sama dengan
moralitas. Tetapi jika anak benar-benar paham suatu materi maka dapat
mempengaruhi anak-anak untuk berbuat baik atau buruk. Gardner dengan tegas
berkata ‘pendidikan harus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman’.
Implikasi Pada Pendidikan
Saya
setuju bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda seperti kecerdasan
ganda Howard Gardner yag terkenal itu. Pemahaman ini harus membuat guru belajar
keras untuk dapat memenuhi kebutuhan individu anak yang berbeda. Bersyukur
teknologi hadir membantu guru memfasilitasi gaya belajar siswa yang berbeda.
Ada
anak yang cerdas bahasa, maka guru dapat menerangkan dengan bahasa. Ada anak
yang cerdas musik maka guru dapat menyisipkan musik dalam ppt dan tentunya guru
harus belajar lagi bagaimana manambahkan musik dalam pptnya. Ada anak yang
cerdas gambar atau grafis maka guru bisa berangkat dari gambar-gambar saat
mulai menstimulasi anak. Ada yang cerdas kinetik maka guru dapat memakai metode
praktik dalam latihannya.
Selain
membantu mengajar, teknologi juga dapat membantu guru dalam mengoreksi dan
membuat nilai dengan cepat. Teknologi juga dapat membantu guru mengajar jarak
jauh bila berhalangan hadir, misalnya dengan meninggalkan video camtasia.
Dengan video ini guru tetap dapat menerangkan materi dan juga menuntun anak
mengerjakan latihan. Tidak seperti selama ini, bila guru tidak hadir hanya meninggalkan
catatan untuk disalin kembali pada anak-anak. Biasanya mereka akan menyalinnya
di kamera hp masing-masing.
Tampaknya
guru-guru kita belum siap dnegan pembelajaran berbasis teknologi ini :
1. Masih
banyak guru yang tidak bisa menggunakan laptop
Jangankan untuk menngunakan laptop,
memilikinyapun masih banyak yang belum. Bahkan ada sebuah kabupaten, kepala
dinasnya memaksa gurunya wajib membeli laptop khususnya yang baru pertama kali
menerima dana sertifikasi maka langsung dipotongkan untuk membeli laptop
tersebut.
Lima
Keterampilan TIK yang harus dimiliki seorang guru
1. Mampu mengoperasikan komputer.
Standarnya mampu menghidupkan, mengoperasikan, dan mematikan komputer dengan
benar. Lebih jauh lagi mengerti hardware dan software komputer plus skill ilmu
komputernya.
2. Menguasai aplikasi perkantoran
(Office), wordprocessor (word), spreadsheet (excel), oresentations
(powerpoint). Syukur-syukur mengerti aplikasi pengolah database semacam acces,
dan lainya.
3. Mengerti internet. Minimal akrab
dengan situs pencarian seperti google, email, wiki, upload-download, dan
pengetahuan internet standar lainya. Lebih bagus lagi mengerti blogging, dan
situs e-learning lainya.
4.
Mengerti manajerial data dikomputer. Standarnya mampu membuat folder,
copy-paste.
5. Memiliki pengetahuan standar
mengenai software pendukung lainya, semacam winrar, pdf, player, dan lainya.
Maka kepala
sekolah dapat membuat latihan di sekolah misalnya memotivasi guru-guru TIK atau
guru bidang studi lain tapi bisa dalam kemampuan dasar tersebut untuk mengajari
guru-guru yang belum bisa yang biasanya guru-guru seperti ini adalah guru tua
atau lebih halusnya lagi guru senior. Selain itu guru juga harus punya kemauan
belajar sendiri. Bukankah pemerintah memberikan dana sertifikasi untuk
meningkatkan profesionalisme guru.
2. Masih
banyak guru yang belum paham dengan kecerdasan ganda dan bagaimana
menerapkannya dalam kelas.
Saya
menyertakan beberapa penelitian yang menerapkan penggunaan teknologi dalam
pembelajaran kecerdasan ganda di kelas.
|
Jenis Kecerdasan
|
Metode
|
Alat
|
|
Linguistik
|
Membaca dan menghafal
|
Kartu istilah
Kertas Karton spidol warna warni
|
|
Matematis Logis
|
Uji urutan tahapan pengelolaan UP
Uji besaran UP
|
Potongan kertas yang berisi urutan
tahapan pengelolaan UP
|
|
Ruang / Spasial
|
Tebak kartu dan lafalkan angkanya
|
Kartu dengan berbagai bentuk dan
warna yang berisi angka pembukuan
|
|
Kinestetis
|
Berjalan, tulis dan hubungkan
|
Flip chart yang ditempel di
dinding sebagai lembar kerja
|
|
Musikal
|
Melalui musik, lagu nilai-nilai
Kemenkeu
|
Tape recorder
|
|
Interpersonal
|
Pesan berantai
|
Soal bersambung
|
|
Intrapersonal
|
Mengetahui diri sendiri melalui
orang lain, pembagian kelompok
|
Peluit, pensil buku tulis
|
|
Naturalis
|
Mind mapping
|
Kertas origami berbentuk bunga/
buah/ daun
|
|
Eksistensial
|
Pertanyaan “mengapa” dan
“bagaimana”
|
Post it
|
Contoh lain dari
beberapa affordances kecerdasan teknologi di dalam kelas CasaCanada (2000)
meliputi :
ü Wordprocessing,
desktop publishing, blogging dan email (linguistik)
ü Datahandling,
memecahkan masalah, petualangan permainan, pemrograman - menggaruk Logis [1] -
matematika)
ü Menggambar
/ paint program, 3D pemodelan perangkat lunak, robot lantai, penyu grafis [2]
(Visual - Spasial)
ü Podcasting,
komposisi software - Garageband (Musical - aural)
ü Titik
/ klik petualangan permainan, animasi (tubuh - kinestetik)
ü Program
kerjasama, sosial jaringan - Club Penguin dll (Interpersonal)
ü Blog
pribadi - reflektif (Intrapersonal)
Guru dapat belajar
mandiri membaca artikel dan menerapkannya. Mungkin belum bisa, tapi bila sudah
bisa akan menjadi biasa. Mungkin belum mengerti tetapi bila dipraktikan akan
mengerti. Sama seperti kalimat Gardner di awal makalah ini saya kutipkan
kembali sebagai penutup, “Engkau tidak akan mengerti teori itu jika tidak
mempraktikannya dan mempraktikkannya lagi”.
Sumber Literatur
1. Chapter
10 : Multiple Approaches To Understanding (Gardner, H.(1999). Intelegence
Reframed : Multiple Intellligences for 21 century








Setuju sekali dengan tulisan Mbak Diana, setiap siswa punya carayang berbeda atas penguasaan tiap materi... penedekatan berbeda yang disesuaikan dengan masing-masing karakter akan sangat membantu mempercepat penguasaan materi... thanks sharingnya mbak... sangat bermanfaat
BalasHapusKita sama-sama setuju mbak. Terima kasih sudah mampir mbak.
BalasHapus