Curhatan Bunda

Selasa, 24 Mei 2016

Multiples Approaches to Understanding

 Pendekatan Multiple Untuk Pemahaman
      Salah seorang siswa Dr. Gardner pernah bertanya, “Dr. Gardner bagaimana saya mempratikkan teori itu jika saya tidak mengerti?”. Beliau beprikir sebentar lalu menjawab, “ Engkau tidak akan pernah mengerti teori itu jika tidak mempraktikkannya dan mempraktikkannya lagi”.
     Masalah besar guru dalam mengajar adalah bagaimana membuat anak didik benar-benar paham akan materi yang diterangkan. Beberapa contoh anak yang ‘gagal paham’ :
  1.    Fisika : anak SMA gagal menjelaskan usaha dari koin yang diundi atau alasan perbedaan suhu di musim panas atau salju. Jawaban mereka sama saja dengan anak kecil yang belum pernah mendengar fisika. 
  2.     Matematika : hanya menghapal rumus, bila diubah sedikit saja bentuk rumus sudah mulai bingung. Mereka tidak memahami benar-benar rumus itu.
  3.     Ilmu sosial : tidak suka akan naskah yang panjang


    Gardner memberikan beberapa pendekatan untuk meningkatkan pemahaman :
  1. Pendekatan observasi : contohnya pergi langsung ke museum. Siswa bisa melihat dan meraba sendiri kemudian bisa menceritakan kembali di kelas.
  2. Pendekatan konfrontasi : selalu menggunakan rumus yang biasa, dapat ditantang memakai atau membuat rumus sendiri. 
  3. Pendekatan sistematik : guru memberi tujuan pembelajaran secara eksplisit, korelasi, dan sharing perspektif kepada siswa.


Entri Poin

Dari ketiga pendekatan itu Gardner lalu mengembangkan tujuh entri point dalam membantu pemahaman siswa yang hampir sama dengan kecerdasan spesifik.
  1.  Narasi: Bagi siswa yang menikmati belajar melalui cerita.
  2. Kuantitatif/numerik: bagi siswa yang suka memilih angka dan pola. 
  3. Logika : kemampuan berpikir deduktif dan induktif 
  4. Eksistensi : Ini bisa menjadi titik masuk bagi siswa yang ingin tahu tentang jenis pertanyaan yang mendasar. 
  5. Estetika: Berniat untuk menarik siswa yang terinspirasi oleh karya seni. 
  6. Kinestetik  untuk siswa yang "belajar dengan berbuat"
  7. Sosial: Memanfaatkan dalam efektivitas kelompok belajar dimana siswa dapat berinteraksi satu sama lain dan menganggap peran yang berbeda.

Dibutuhkan Teknologi
Aliran fundamental dengan tegas berkata bahwa makna dan tujuan pendidikan seharusnya tidak bergantung pada teknologi tetapi menurut Gardner pendidikan tidak boleh menolak teknologi. Bukankah pendidikan telah memakai tekologi itu walau dalam bentuk sederhana sekalipun seperti buku, pensil, kertas, peralatan seni atau laboratoriun biologi yang sederhana.
Guru dapat membuat kurikulum sendiri di kelas tetapi teknologi dapat membantu melayani guru dan siswa. Sangat mungkin menciptakan software untuk setiap kecerdasan yang berbeda, menyediakan ruang untuk setiap entri poin, mengizinkan siswa untuk mengungkapkan pemahaman mereka masing-masing dalam simbol yang berbeda (bahasa, musik, grafis dll). Guru juga  dapat memeriksa tugas siswa dengan cepat, fleksibel atau sangat memungkinkan dilakukan walaupun dengan jarak jauh. Terima kasih kepada email, web, video conference dan sebagainya.
            Pengetahuan tidak sama dengan moralitas. Tetapi jika anak benar-benar paham suatu materi maka dapat mempengaruhi anak-anak untuk berbuat baik atau buruk. Gardner dengan tegas berkata ‘pendidikan harus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman’.

Implikasi Pada Pendidikan
Saya setuju bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda seperti kecerdasan ganda Howard Gardner yag terkenal itu. Pemahaman ini harus membuat guru belajar keras untuk dapat memenuhi kebutuhan individu anak yang berbeda. Bersyukur teknologi hadir membantu guru memfasilitasi gaya belajar siswa yang berbeda.
Ada anak yang cerdas bahasa, maka guru dapat menerangkan dengan bahasa. Ada anak yang cerdas musik maka guru dapat menyisipkan musik dalam ppt dan tentunya guru harus belajar lagi bagaimana manambahkan musik dalam pptnya. Ada anak yang cerdas gambar atau grafis maka guru bisa berangkat dari gambar-gambar saat mulai menstimulasi anak. Ada yang cerdas kinetik maka guru dapat memakai metode praktik dalam latihannya.
Selain membantu mengajar, teknologi juga dapat membantu guru dalam mengoreksi dan membuat nilai dengan cepat. Teknologi juga dapat membantu guru mengajar jarak jauh bila berhalangan hadir, misalnya dengan meninggalkan video camtasia. Dengan video ini guru tetap dapat menerangkan materi dan juga menuntun anak mengerjakan latihan. Tidak seperti selama ini, bila guru tidak hadir hanya meninggalkan catatan untuk disalin kembali pada anak-anak. Biasanya mereka akan menyalinnya di kamera hp masing-masing.
Tampaknya guru-guru kita belum siap dnegan pembelajaran berbasis teknologi ini :
1.      Masih banyak guru yang tidak bisa menggunakan laptop
Jangankan untuk menngunakan laptop, memilikinyapun masih banyak yang belum. Bahkan ada sebuah kabupaten, kepala dinasnya memaksa gurunya wajib membeli laptop khususnya yang baru pertama kali menerima dana sertifikasi maka langsung dipotongkan untuk membeli laptop tersebut.

Lima Keterampilan TIK yang harus dimiliki seorang guru
1. Mampu mengoperasikan komputer. Standarnya mampu menghidupkan, mengoperasikan, dan mematikan komputer dengan benar. Lebih jauh lagi mengerti hardware dan software komputer plus skill ilmu komputernya.
2. Menguasai aplikasi perkantoran (Office), wordprocessor (word), spreadsheet (excel), oresentations (powerpoint). Syukur-syukur mengerti aplikasi pengolah database semacam acces, dan lainya.
3. Mengerti internet. Minimal akrab dengan situs pencarian seperti google, email, wiki, upload-download, dan pengetahuan internet standar lainya. Lebih bagus lagi mengerti blogging, dan situs e-learning lainya.
4.  Mengerti manajerial data dikomputer. Standarnya mampu membuat folder, copy-paste.
5. Memiliki pengetahuan standar mengenai software pendukung lainya, semacam winrar, pdf, player, dan lainya.

Maka kepala sekolah dapat membuat latihan di sekolah misalnya memotivasi guru-guru TIK atau guru bidang studi lain tapi bisa dalam kemampuan dasar tersebut untuk mengajari guru-guru yang belum bisa yang biasanya guru-guru seperti ini adalah guru tua atau lebih halusnya lagi guru senior. Selain itu guru juga harus punya kemauan belajar sendiri. Bukankah pemerintah memberikan dana sertifikasi untuk meningkatkan profesionalisme guru.



2.      Masih banyak guru yang belum paham dengan kecerdasan ganda dan bagaimana menerapkannya dalam kelas.

Saya menyertakan beberapa penelitian yang menerapkan penggunaan teknologi dalam pembelajaran kecerdasan ganda di kelas.
Jenis Kecerdasan
Metode
Alat
Linguistik
Membaca dan menghafal
Kartu istilah
Kertas Karton spidol warna warni
Matematis Logis
Uji urutan tahapan pengelolaan UP
Uji besaran UP
Potongan kertas yang berisi urutan tahapan pengelolaan UP
Ruang / Spasial
Tebak kartu dan lafalkan angkanya
Kartu dengan berbagai bentuk dan warna yang berisi angka pembukuan
Kinestetis
Berjalan, tulis dan hubungkan
Flip chart yang ditempel di dinding sebagai lembar kerja
Musikal
Melalui musik, lagu nilai-nilai Kemenkeu
Tape recorder
Interpersonal
Pesan berantai
Soal bersambung
Intrapersonal
Mengetahui diri sendiri melalui orang lain, pembagian kelompok
Peluit, pensil buku tulis
Naturalis
Mind mapping
Kertas origami berbentuk bunga/ buah/ daun
Eksistensial
Pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”
Post it

Contoh lain dari beberapa affordances kecerdasan teknologi di dalam kelas CasaCanada (2000) meliputi :
ü  Wordprocessing, desktop publishing, blogging dan email (linguistik)
ü  Datahandling, memecahkan masalah, petualangan permainan, pemrograman - menggaruk Logis [1] - matematika)
ü  Menggambar / paint program, 3D pemodelan perangkat lunak, robot lantai, penyu grafis [2] (Visual - Spasial)
ü  Podcasting, komposisi software - Garageband (Musical - aural)
ü  Titik / klik petualangan permainan, animasi (tubuh - kinestetik)
ü  Program kerjasama, sosial jaringan - Club Penguin dll (Interpersonal)
ü  Blog pribadi - reflektif (Intrapersonal)

Guru dapat belajar mandiri membaca artikel dan menerapkannya. Mungkin belum bisa, tapi bila sudah bisa akan menjadi biasa. Mungkin belum mengerti tetapi bila dipraktikan akan mengerti. Sama seperti kalimat Gardner di awal makalah ini saya kutipkan kembali sebagai penutup, “Engkau tidak akan mengerti teori itu jika tidak mempraktikannya dan mempraktikkannya lagi”.



Sumber Literatur
1.      Chapter 10 : Multiple Approaches To Understanding (Gardner, H.(1999). Intelegence Reframed : Multiple Intellligences for 21 century

2 komentar:

  1. Setuju sekali dengan tulisan Mbak Diana, setiap siswa punya carayang berbeda atas penguasaan tiap materi... penedekatan berbeda yang disesuaikan dengan masing-masing karakter akan sangat membantu mempercepat penguasaan materi... thanks sharingnya mbak... sangat bermanfaat

    BalasHapus
  2. Kita sama-sama setuju mbak. Terima kasih sudah mampir mbak.

    BalasHapus