“Mau ke Medan Dek?”, Tanyaku
pada pemuda fresh graduate yang duduk di sampingku di bangku
kereta api menuju Medan malam itu. Bukan karena ingin tahu tetapi sekedar
sapaku sebagai bentuk keramahan, masak enam jam perjalanan hanya ditemani
keheningan malam di antara kami berdua. Lagipula biasanya aku duduk sendiri
leluasa setiap kali pergi dan pulang dari Medan. Berbeda dengan malam ini,
kereta penuh sesak penumpang sebagai imbas libur Paskah.
Setelah tanya jawab pendek
formal : tinggal di mana di Rantau? Di Medan ngapaian? Kuliah di mana? Jurusan
apa? Dan lain-lainnya, sampailah aku pada pertanyaan yang sebenarnya biasa
tetapi menjadi luar biasa dalam perhatianku.
“Alumni SMA mana?”
“Smansa Ransel Bu.”
“Kenal dengan Ibu Elly?”
“Oh, guru kimiaku sewaktu kelas satu. Saya sangat ingat ibu
itu. Beliaulah yang pertama kali mengenalkanku kepada kimia. Ibu itu mampu
membuatku jatuh cinta pada IPA. Walau tidak lulus di PTN, tetapi tetap bisa
bertahan pada jurusan IPA dengan memilih jurusan psikologi....”
Matanya yang berbinar menerawang
masa SMA-nya dulu. Kalimat lancar mengalir tanpa putus dalam narasinya
menjadi perhatianku betapa leluasanya semua itu keluar dari rekaman memori
bertahun-tahun sebelumnya. Ternyata ibu Elly mampu membuat anak tersebut jatuh
cinta pada mata pelajaran yang diampunya. Mata pelajaran yang diminatinya dan
terimplementasi dalam hidupnya. Aku ingin menjadi guru seperti Ibu Elly,
dikenang oleh siswa karena menyentuh sisi nyata hidupnya. Dikenang karena mampu
membawa anak itu menemukan diri, minat dan hidupnya.
Hal itulah yang ditekankan Pak Munir dalam mata kuliah
‘Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan’.Guru harus mempunyai kompetensi
atas mata pelajaran yang diampuhnya. Guru bukan hanya pentransfer ilmu tetapi
harus menjadi motivator. Guru harus menjadi fasilitator dengan berbagai metode
dan strategi pembelajaran sehingga siswa mencintai mata pelajaran dan
memaknainya dalam hidupnya.
Salah satu kompetensi guru yang
dituntut masa sekarang ini adalah mampu melihat kecerdasan setiap siswa dan
melakukan pendekatan berdasarkan kecerdasan mereka. Setiap siswa cerdas.
Kecerdasan bukan hanya diukur oleh tingginya angka IQ. Jika sebelumnya
kesuksesan seseorang diukur oleh tingginy IQ, maka sekarang setiap anak berhak
untuk sukses. Meskipun IQ rendah, ia berhak untuk sukses dengan kecerdasan yang
dimilikinya.
Howard Gardner memperkenalkan
delapan kecerdasan majemuk, yaitu :
1. Kecerdasan linguistik:
mengacu pada sensitivitas untuk bahasa lisan dan tulisan, dan kemampuan untuk
secara efektif menggunakan bahasa untuk retorika atau ungkapan puitis;
2. Kecerdasan logis-matematis:
melibatkan kemampuan untuk menganalisis masalah secara logis dan melakukan
operasi matematika;
3. Kecerdasan Spasial: jenis
kecerdasan berkaitan dengan kemampuan untuk mengenali dan menggunakan pola
spasial secara efektif;
4. kecerdasan
Kinestetik-Jasmani: melibatkan kemampuan untuk menggunakan kemampuan mental
untuk mengkoordinasikan gerakan tubuh.
5. Kecerdasan musikal: mengacu
pada kemampuan untuk membuat dan mengenali suara musik;
6. Kecerdasan Interpersonal:
melibatkan kemampuan untuk memahami orang lain dan bekerja secara efektif di
sekitar orang;
7. Kecerdasan intrapersonal:
melibatkan kemampuan untuk memahami diri sendiri;
8. Kecerdasan naturalis:
ditambahkan ke daftar ini dengan Gardner kemudian di tahun 1996. Kecerdasan ini
berkaitan dengan mengamati, memahami dan mengatur pola dalam lingkungan alam.
Menurut Gardner, semua manusia
memiliki kombinasi dari berbagai jenis kecerdasan, dengan derajat yang berbeda
dari kekuatan dalam satu atau beberapa kecerdasan di atas yang lain. Meskipun
individu mungkin menunjukkan kekuatan lebih dalam kecerdasan tertentu,
pengembangan kekuatan di kecerdasan lain dapat didorong melalui praktek.
Jadi, setiap anak berhak sukses
dengan kecerdasan yang dimilikinya. orang tua dan guru wajib membantu anak
menemukan kecerdasannya.








