Curhatan Bunda

Rabu, 27 April 2016

Pendidikan Anti Galau

“Mau ke Medan Dek?”, Tanyaku pada pemuda fresh graduate yang duduk di sampingku di bangku kereta api menuju Medan malam itu. Bukan karena ingin tahu tetapi sekedar sapaku sebagai bentuk keramahan, masak enam jam perjalanan hanya ditemani keheningan malam di antara kami berdua. Lagipula biasanya aku duduk sendiri leluasa setiap kali pergi dan pulang dari Medan. Berbeda dengan malam ini, kereta penuh sesak penumpang sebagai imbas libur Paskah.

Setelah tanya jawab pendek formal : tinggal di mana di Rantau? Di Medan ngapaian? Kuliah di mana? Jurusan apa? Dan lain-lainnya, sampailah aku pada pertanyaan yang sebenarnya biasa tetapi menjadi luar biasa dalam perhatianku.
“Alumni SMA mana?”
“Smansa Ransel Bu.”
“Kenal dengan Ibu Elly?”
“Oh, guru kimiaku sewaktu kelas satu. Saya sangat ingat ibu itu. Beliaulah yang pertama kali mengenalkanku kepada kimia. Ibu itu mampu membuatku jatuh cinta pada IPA. Walau tidak lulus di PTN, tetapi tetap bisa bertahan pada jurusan IPA dengan memilih jurusan psikologi....”

Matanya yang berbinar menerawang masa SMA-nya dulu.  Kalimat lancar mengalir tanpa putus dalam narasinya menjadi perhatianku betapa leluasanya semua itu keluar dari rekaman memori bertahun-tahun sebelumnya. Ternyata ibu Elly mampu membuat anak tersebut jatuh cinta pada mata pelajaran yang diampunya. Mata pelajaran yang diminatinya dan terimplementasi dalam hidupnya. Aku ingin menjadi guru seperti Ibu Elly, dikenang oleh siswa karena menyentuh sisi nyata hidupnya. Dikenang karena mampu membawa anak itu menemukan diri, minat dan hidupnya.

Hal itulah yang ditekankan Pak Munir dalam mata kuliah ‘Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan’.Guru harus mempunyai kompetensi atas mata pelajaran yang diampuhnya. Guru bukan hanya pentransfer ilmu tetapi harus menjadi motivator. Guru harus menjadi fasilitator dengan berbagai metode dan strategi pembelajaran sehingga siswa mencintai mata pelajaran dan memaknainya dalam hidupnya.

Salah satu kompetensi guru yang dituntut masa sekarang ini adalah mampu melihat kecerdasan setiap siswa dan melakukan pendekatan berdasarkan kecerdasan mereka. Setiap siswa cerdas. Kecerdasan bukan hanya diukur oleh tingginya angka IQ. Jika sebelumnya kesuksesan seseorang diukur oleh tingginy IQ, maka sekarang setiap anak berhak untuk sukses. Meskipun IQ rendah, ia berhak untuk sukses dengan kecerdasan yang dimilikinya.

Howard Gardner memperkenalkan delapan kecerdasan majemuk, yaitu :
1. Kecerdasan linguistik: mengacu pada sensitivitas untuk bahasa lisan dan tulisan, dan kemampuan untuk secara efektif menggunakan bahasa untuk retorika atau ungkapan puitis;
2. Kecerdasan logis-matematis: melibatkan kemampuan untuk menganalisis masalah secara logis dan melakukan operasi matematika;
3. Kecerdasan Spasial: jenis kecerdasan berkaitan dengan kemampuan untuk mengenali dan menggunakan pola spasial secara efektif;
4. kecerdasan Kinestetik-Jasmani: melibatkan kemampuan untuk menggunakan kemampuan mental untuk mengkoordinasikan gerakan tubuh.
5. Kecerdasan musikal: mengacu pada kemampuan untuk membuat dan mengenali suara musik;
6. Kecerdasan Interpersonal: melibatkan kemampuan untuk memahami orang lain dan bekerja secara efektif di sekitar orang;
7. Kecerdasan intrapersonal: melibatkan kemampuan untuk memahami diri sendiri;
8. Kecerdasan naturalis: ditambahkan ke daftar ini dengan Gardner kemudian di tahun 1996. Kecerdasan ini berkaitan dengan mengamati, memahami dan mengatur pola dalam lingkungan alam.


Menurut Gardner, semua manusia memiliki kombinasi dari berbagai jenis kecerdasan, dengan derajat yang berbeda dari kekuatan dalam satu atau beberapa kecerdasan di atas yang lain. Meskipun individu mungkin menunjukkan kekuatan lebih dalam kecerdasan tertentu, pengembangan kekuatan di kecerdasan lain dapat didorong melalui praktek.

Jadi, setiap anak berhak sukses dengan kecerdasan yang dimilikinya. orang tua dan guru wajib membantu anak menemukan kecerdasannya.




Selasa, 19 April 2016

Keseleo Jangan Langsung Diurut



Saya tidak jadi berangkat ke Medan lagi  malam ini menuaikan tugas belajar sebagai mahasiswa kembali. Saya harus tetap di rumah menemani Gifty yang masih merintih kesakitan. Sebuah pilihan dan saya harus memilih. Menemani Gifty dan contrengan absen pak dosen harus saya terima. 


Kecelakaan kecil terjadi bukan saat ketiadaan saya, tetapi justru saya ada dan di depan mata saya sendiri. Ini membuktikan bahwa seorang mama pun tak sanggup melindungi anak. Hanya penjagaan Tuhanlah dan harus belajar memercayakan hidup dan keselamatan anak di tangan-Nya.



 Kelincahan pertumbuhan di usia 2,6 tahun membuat dia tak pernah berhenti duduk diam tenang. Aku duduk di kursi dan dia memanjati tubuhku. Ketika aku akan bangkit, ternyata tangan kanannya tersangkut di bawah kursi. Entah apa yang terjadi, dia menangis dan berseru ‘sakit’, ‘sakit’. Ada juga satu atau dua menit dia menangis. Langsung kubalur dengan minyak karo tangannya, menenangkan dan menidurkannya. Pikirku tak masalah dan akan sembuh saat dia terbangun. Eh, malah tangannya tak bisa diangkatnya.



 Dengan panik, langsung kupaksa ayahnya membawa kami mencari tukang urut. Kami pergi ke Aek Paing, tempat langganan biasanya. Nenek itu sakit dan tak bisa. Lalu, kami mencoba bertanya beberapa teman di mana lagi tempat tukang urut. Tak mudah karena kami berdua harus mempertimbangkan tukang urut harus bebas dengan klenik. Kami hanya percaya kepada tukang  urut hanya karena dia belajar dan pengalamannya belajar teknik arah urat dan otot bukan kepada tukang urut yang kepintarannya datang dari ‘roh’ yang merasukinya setelah ia melakukan ritual pemujaan terlebih dahulu sebelum ‘memegang’ pasien dan biasanya aroma kemenyan akan tersebar di sekitar tempatnya praktek.



 Akhirnya, kami pergi ke Jalan Basket masuk dalam lagi. Rumahnya tak bisa diraih sepeda motor. Artinya motor harus kami titip dan berjalan sekitar 2 kilometer dengan arena jalan yang rawan longsor. Pikirku, masih ada jalan seperti ini di tengah kota. Sisi kanan dan kiri bertembok, tetapi karena keluarga tukang urut ini belum mmepunyai dana untuk ‘mengeraskan’ akses ke rumah mereka, sehingga tanah itu habis digerus hujan dan longsor. Aku menjadi ragu, mengapa ‘rawan’ jalan ke rumah nenek itu. Tapi karena tukang urut ini hasil rekomendasi keluarga, pergi jugalah kami ke sana. Gifty menangis kencang saat diurut. Tak tega mendengarnya. Kami pulang ke rumah dengan harapan besok pagi dia sudah sembuh.



 Ketika selesai menidurkannya, aku mulai googling. Ternyata terkilir tak boleh diurut. Langsung aku tersirap dan merasa bersalah. Aku pikir justru tak boleh dilama-lamakan dan harus segera diurut. Ternyata dari semua laman yang saya buka, menyarankan menerapkan metode RICE sebagai pertolongan pertama bila ada cedera keseleo atau terkilir. Rest, istirahatkan. Bagian yang cedera harus diistirahatkan. Tidak boleh diberi beban apalagi diurut. Ice, kompres dengan air es. Otot terkoyak dan pembuluh darah ikut terbuka saat terjadisprain. Jadi harus dibekukan terlebih dahulu dengan kompresan air es yang dilapisi kain tipis. Dikompres selama 5-10 menit selama empat jam sekali. Compress, tekan. Bagian yang terluka dibebat untuk memberi tekanan terhadap urat yang bengkak tadi. Tidak boleh terlalu kencang yang menghambat peredaran darah dan harus memberi sirkulasi udara pada bagian yang dibebat tadi. Elevation, tinggikan. Bagian yang terkilir harus lebih ditinggikan posisinya, lebih tingi dari jantung. Baru setelah 48 jam lebih baru boleh melakukan tindakan lanjut terhadap bagian yang luka, semisal diurut atau dibalur ramuan beras kencur. Ah, cerobohnya saya. Akhirnya saya mengulangi dan menerapkannya. Semoga minggu ini sudah sembuh dan saya saya bisa kuliah lagi.