ASI, Obat Mujarab PJB Anakku
“Iya, ada kebocoran sedikit di antara serambi kiri dan kanannya dan akan
terus dievaluasi”, kata dokter kandungan itu.
Serasa kakiku tak berjejak lagi di bumi, entah tercampak di dunia mana
saat itu. Tak kutahu apa itu serambi
kiri dan kanan, tak kutahu apa itu evaluasi, yang kutahu ada masalah besar
dengan putriku yang baru tiga hari lahir. Masih dalam masa nifas, masih belum
kering bekas sayatan di abdomen bawah, masih dalam keadaan bersarung, kupaksa
suami untuk mempertemukanku dengan dokter anak.
Kucecar profesor itu dengan berbagai pertanyaan. Ia hanya menjawab
pendek-pendek atas berbagai jeritanku. Tidak diketahui apa penyebab, tidak
dijelaskan mengapa bisa terjadi seperti itu. “Tidak perlu diberi obat apa pun, hanya
akan dievaluasi per enam bulan”, itu
saja jawaban beliau atas ketidakberterimaanku akan apa yang terjadi pada
putriku.
Aku hantam suami dengan jeritan, teriakan dan raungan mengapa harus
terjadi pada anakku yang oleh para medis disebut Penyakit Jantung Bawaan (PJB).
Ternyata suami sudah mengetahui di 24 jam kelahirannya. Hanya saja khawatir aku
akan blooding bila disampaikan. Tapi
tidak mungkin tidak diberi tahu, aku ibunya. Maka, dokter itu sendiri yang
langsung menyataknanya, karena suami
sendiri pun masih terkejut, suami kelu.
Pulanglah kami dengan awan kelam terbentang di luar sana. “Yang lebih
berat dari sini sudah kita lalui bersama”, suami meyakinkanku sambil menuntunku
ke mobil setelah lima hari kami di rumah sakit ibu dan anak itu. Kabut hitam
mencekam sama seperti saat kami kehilangan putri pertama kami dulu.
HARUS ASI
Harus ASI. Hanya inilah yang melekat di tekadku. ASI akan membantu
pertumbuhan berat badannya. Pertumbuhan berat badan yang baik akan membantu
menutup kebocoran itu dengan sendirinya seiring pertambahan usianya.
| Sayur bangun-bangun, sayur masyarakat Batak untuk pelancar ASI |
Berbagai cara kulakukan untuk bisa ASI eksklusif. Minum pil pelancar ASI.
Bantai makan sayur daun katuk dan sayur khas orang batak bila melahirkan yaitu
sayur daun bangun-bangun. Sebulan masih belum bisa full, suami bilang karena
aku masih stress, belum pasrah sehingga ASImu tidak banyak. Aku berteriak dalam
doa, “Tuhan aku mau ASIku banyak demi kesembuhan putriku”. Maka, diberilah aku
kekuatan untuk meraih ponselku. Hanya sejangkauan jari, aku membaca, aku
belajar dan berubahlah pola pikirku.
Satu dari 10.000 kelahiran di Indonesia adalah bayi dengan Penderita
Jantung Bawaan. 90% tidak diketahui apa penyebabnya, 10 % itu bisa karena
virus, faktor keturunan dan juga asap rokok. Semakin cepat diketahui, semakin
baik untuk cepat ditangani. Bisa menutup sendiri sesuai pertumbuhan berat
badannya dan bisa juga harus disembuhkan di meja operasi.
Bayi PJB tidak bisa lama menyusui, sebentar mengisap sudah letih
karenanya harus sering-sering diberi ASI. Semakin sering diisap, semakin lancar
ASI keluar. Buatlah posisi menyusui senyaman mungkin. Bila ibu tenang, maka
proses menyusui sangat nikmat dan bonding
semakin melekat makin dalam.
Mulailah aku belajar di AIMI dan Forum Diskusi PJB, ternyata masih banyak yang
lebih parah dari anakku. Ternyata banyak yang tidak bisa tertolong walau masih
lebih banyak lagi yang dapat tertolong bila cepat diketahui. Ternyata aku tidak
sendiri. Ternyata aku mulai belajar bersyukur. Ternyata ASIku cukup untuknya.
Ternyata di bulan kedua Giftyku sudah full ASI tanpa bantuan sufor. Ternyata
berat badannya bertambah bulan ke bulan setiap kali imunisasi dan menimbang BB.
Betapa suami akan mencatat di agendanya ons demi ons yang kami saksikan di
neraca bayi itu. Betapa suami bergelut dalam doa puasanya. Betapa kami berjuang
demi dia yang kami namai Gifty Charisa. Kado pemberian Tuhan.
Selesai masa cuti PNS tiga bulan. Aku mulai mengajar lagi. Bayiku akan
kutinggalkan. Aku akan meninggalkan ASI perah seperti yang juga sudah
kupelajari dalam manajeman ASIP. Tetapi suami tidak mendukung, justru semakin
khawatir peralatan ASIP tidak steril. Maka kusharingkan kondisi bayiku pada
pimpinan di tempatku mengajar. Dengan kebijaksanaan beliau, aku boleh meninggalkan
ruangan kelas sekali dua jam asal kelas aman terkendali. Maka, mulailah aku
berlalu lalang antara rumah dan sekolah sekali dua jam yang memang hanya
sepuluh menit ditempuh dengan mengendarai sepeda motor.
Kami melakukan EKG ke Medan di semester pertama hidupnya. Bersyukur
kebocorannya mengecil dan aku semakin gigih lagi khususnya persiapan MPASI.
Lagi-lagi banyak belajar dari internet. Tahapan dalam MPASI, bagaimana tekstur,
bagaimana persiapan, pengolahan, penyimpanan sampai kepada cara memberikannya.
Bahwa baiknya memberi jus buah minimal tiga puluh menit sebelum makan supaya memudahkan dan
memaksimalkan penyerapan makanan dalam tubuh. Bahwa untuk menggenjjot berat
badannya maka perlu double karbo dan double protein dan tentu tidak lupa
dengan serat sayurannya. Maka, setiap malam aku harus merancang menu semisal
nasi dan kentang sebagai karbonya. Gabus berprotein tinggi dengan tahu sebagai
proteinnya. Begitu seterusnya, termasuk di dalamnya dalam memberi lemak
tambahan. O, iya, mengenai lemak tambahan ada cerita lucu di sana. Bisa dibaca
di sini ya.
![]() |
| Gifty di ulang tahun pertamanya |
Menjelang perayaan ulang tahunnya yang pertama ada sebuah kisah haru biru
juga di sini. Bersyukur kepada Sang Pemilik Hidup. Dia memberi ‘jantung yang
baru’. Berterima kasih untuk Dia, untuk
putriku, untukku, untuk suamiku, untuk
kakaknya, untuk doa keluarga, untuk doa teman-teman, untuk doa teman pelayanan.
Sebagai wujud terima kasihku, aku menjadi relawan pengampanye ASI bagi
orang-orang sekitarku, termasuk tulisan ini diikutkan dalam rangka Pekan ASI Dunia. Aku marah bila ada ibu yang tidak berjuang ASI eksklusif demi buah
hatinya. Apa pun alasannya, Tuhan tidak pernah salah memberi ASI pada setiap
wanita yang diberi kesempatan menjadi ibu.
Mau bilang, “ASIku sedikit”. Tidak ada ASI sedikit, semakin sering diisap
akan semakin banyak.
Mau bilang, “Anakku lebih suka sufor, mungkin ASIku tidak enak”. Semua ASI
lezat bagi anak, kalaupun anak lebih senang mengisap botol sufor karena lebih
gampang, lebih mudah keluar karena ujung karetnya sudah di beri lubang kecil
jadi tidak perlu bersusah payah mengisapnya. Bila mengisap ASI, mulutnya harus
bekerja keras mengisap supaya airnya keluar, jadi agak malas bayinya. Makanya
jangan sodorkan botol sufor, campakkan itu. Sodorkan ASI saja, mau tak mau bayi
akan berjuang mengisap untuk mendapatkan haknya. Sadar atau tidak sadar kita telah
mendidik anak bermental pekerja keras saat masih bayi. Sadar atau tidak sadar
kita sudah mendidik bayi bermental instan dengan memberi botol sufor.
Mau bilang, “Putingku lecet karena digigit bayi”. Tenang, ada kok obat
untuk itu. Selanjutnya menyusuilah dengan posisi yang benar. Posisi menyusui
yang salahlah yang membuat puting lecet saat menyusui.
Mau bilang, “Putingku kecil, jadi tidak bisa diisap”. Tenang puting kelelep bisa ditarik. Bahkan ada puting
bantuan tersedia di apotek.
Mau bilang, “Aku wanita pekerja”. Gampang, belajarlah manajemen ASI Perah
(ASIP), bahkan sekarang sudah tersedia layanan donor ASI.
Mau bilang, “ASIku kering”. Tenang, ASI itu Fleksibel. Walaupun misalnya
tidak keluar tiga bulan, bisa kok keluar lagi asal sering diisap.
Mau bilang, “Ah, ASI sama saja khasiatnya dengan sufor”. Apa ? Hei.. move on, selain praktis, murah, bersih,
sehat dan pastinya seperti ceritaku ini, ASI, Obat Mujarab PJB Anakku.
Ajaib benar ya, Sang pencipta ASI itu ya.









