Curhatan Bunda

Jumat, 15 September 2017

SELAMAT DATANG DI KOTA RANTAUPRAPAT


“Wah, enak ya tiap hari bisa lihat danau ?”
“Bukan Mbak, itu Parapat. Kami Rantauprapat, Labuhan Batu.”
“Oh, Rantauprapat, kota dollar itu ya,
TUGU SELAMAT DATANG DI RANTAUPRAPAT

Begitulah selalu setiap kali saya memperkenalkan diri pada orang baru. Terlebih saat pertama kali saya pergi merantau ke luar kampung saya. Saya harus menegaskan bahwa Rantauprapat berbeda dengan Parapat. Bahkan orang kementerian pun sempat menuliskan Kota Siantar pada surat pemanggilan seleksi beasiswa tahun 2015 lalu karena kealpaan saya menuliskan nama kabupaten. Untung saja surat itu sampai di tangan saya karena pencantuman kode pos yang tepat.
Rantauprapat adalah ibu kota kabupaten Labuhan Batu. Salah satu dari 25 kabupaten yang ada dan kabupaten terluas kedua di Provinsi Sumatera Utara. Kereta api adalah kendaraan favorit bila kita berangkat dari Medan ibu kota provinsi kami.  Cukup membeli tiket kereta api bisnis  seharga Rp. 125.000  yang dapat juga dibeli di tiket.com dan Anda akan menikmati perjalanan kurang lebih enam jam untuk sampai di kota ini.
Kotanya cukup kecil, tapi perkebunan karet dan sawit yang mengelilinginya seluas 60.993 hektar atau 24 % dari 2.562,01 Km2 luas wilayah Kabupaten Labuhanbatu. Karet dan sawit tumbuh sangat subur di sini sehingga menjadi tanaman primadona di kota ini. Harganya seperti emas sehingga kota ini dijuluki kota dollar. Banyak perkebunan modal asing, perkebunan modal pemerintah dan banyak juga perkebunan modal sendiri. Saking bergengsinya berkebun sawit, orang tua dulu punya prinsip ‘buat apa habiskan biaya nguliahkan anak, mendingan buat modal buka kebun’. Syukurnya Bapakku punya prinsip ‘buat kebun untuk kuliahkan anak’. Gaji Bapak sebagai karyawan perkebunan asing hanya cukup membiayai kebutuhan sehari-hari. Sore harinya sepulang ‘menderes’, Bapak masih berpeluh lagi mengolah ladang miliknya sendiri. Aku kuliah dari hasil kebun karet Bapak.
Labuhan Batu raya mempunyai potensi alam untuk dikembangkan. Itulah sebabnya tahun 2008, kabupaten ini dimekarkan menjadi tiga kabupaten. Labuhan Batu Utara dengan ibu kotanya Aek Kanopan. Labuhan Batu induk berpusat di Rantauprapat dan Labuhan Batu Selatan dengan Kota Pinang sebagai pusat administrasinya.
Seiring perluasan kebunnya maka penduduknya juga bertambah banyak. Apakah sebagai pekerja kebun maupun sebagai pedagang. Itulah juga sebabnya Rantauprapat berpotensi sebagai pusat perdagangan. Kota kecil ini saja sudah mempunyai tiga supermaket besar seperti Suzuya Plaza, Suzuya Mall dan Brastagi Supermarket. Apalagi berbagai urusan pemerintahan seperti pendidikan, kesehatan dan perdagangan masih berpusat di Rantauprapat, di tambah lagi dengan rencana pembangunan bandara di Aek Nabara.
Penduduk aslinya bersuku Melayu yang sekarang banyak tinggal di daerah pantai. Kebanyakan penduduk pendatang sebagai pedagang, pekerja atau pegawai. Rata-rata mereka bertahan karena mampu menjejakkan ‘kemapanan’ dari hasil berkebun tadi. Selamat menggali surga ekonomi tersembunyi di sini.



Jumat, 14 April 2017

Minyeuk Pret : Parfum Istimewa dari Daerah Istimewa

Minyeuk Pret : Parfum Istimewa dari Daerah Istimewa

Masih terang dalam ingatan sekolah dasar (SD) saya bagaimana kami harus menghapal 27 nama provinsi beserta ibukotanya dalam pelajaran IPS. Tidak boleh salah dalam penyebutan dua provinsi yang berlabel khusus atau istimewa. Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi istimewa karena sistem pemerintahan kesultanannya dan Daerah Istimewa Aceh yang kala itu saya belum tahu atau memang lupa mengapa menjadi daerah istimewa. Apakah hanya karena daerah kerajaan atau ada yang lain yang menjadikannya begitu istimewa.
Semasa SMP-SMA, pemahaman istimewa terhadap Aceh bertambah dari berita atau cerita orang-orang sekitar bahwa Aceh merupakan daerah operasi milter (dom) dan daerah di mana Cannabis Sativa tumbuh subur di hutan-hutannya serta mayoritas muslim yang khas sehingga disebut Serambi Mekah. Masa kuliah, Aceh menjadi sangat terkenal di daerah Padang Bulan dan Pancing Medan karena warung mie acehnya dan warung kopi acehnya. Rasanya tidak afdol bila tak mencicipi mie aceh saat kiriman bulanan sudah tiba.
Masa kuliah pascasarjana ini juga menjadi istimewa karena saya punya kesempatan istimewa mengenal lebih jauh lagi mengenai Aceh benar-benar menjadi daerah istimewa. Yang pertama, saya punya kesempatan berteman dengan berbagai teman-teman dari berbagai penjuru negeri Aceh. Ada yang dari Jambo Aye, Sama Dua, Tanah Luas, Takengon, Lhokseumawe, Langsa, Pasie Raja, Singkil dan lain-lain. Bayangkan dari 40-an mahasiswa pascarjana program beasiswa peningkatan kualifikasi guru untuk daerah se-Sumbagut, lebih dari setengahnya berasal dari Aceh. Konon, katanya Aceh dalam masa pembangunan pendidikan. Jadi, banyak memberi kesempatan beasiswa S2 untuk putra-putri terbaik mereka. Yang kedua dari hasil diskusi perkuliahan di kelas, bagaimana Aceh benar-benar masa pembangunan pendidikan, terlebih setelah badai Tsunami 2005 yang lalu. Yang ketiga dari hasil kebersamaan dan juga obrolan di grup, saya jadi tahu destinasi wisata luar biasa di Aceh. Seringkali dimunculkan dalam wacana kita akan outbound ke sana walau masih belum sempat direalisasikan. Ada Nol Kilometer. Ada Museum Tsunami. Ada Danau Laut Tawar dan masih banyak lagi. Bahkan yang berikutnya adalah keistimewaan kekayaan alamnya. Selain kopi ternyata ada juga hasil alam yang terkenal yaitu nilam. Nilam Aceh merupakan nilam terbaik di dunia, nilam ini tidak bisa disentetis atau dibuat menyerupai, dan ratusan tahun diekspor ke Perancis untuk bahan pembuatan parfum. Selain itu, 60 persen bahan baku untuk pembuatan parfum bahan bakunya dari Indonesia khususnya dari Aceh.
Bertolak dari latar itulah, sejak 1 April 2015, sekelompok anak muda merintis sebuah produk dengan merek terdaftar “Minyeuk Pret”. Keunggulan Minyeuk Pret ini merupakan brand parfum original Aceh yang mengangkat konten-konten lokal serta kandungan bahan baku yang bersumber dari tanah Aceh dengan menggunakan minyak nilam dari pantai barat selatan Aceh. Minyak wangi produk Aceh diharapkan menjadi lokomotif perusahaan parfum nasional yang memperkenalkan aroma Aceh untuk dunia.
Parfum dengan model spray ini berisi 30 mili liter dan dibanderol Rp 110.000 per botol untuk wilayah Banda Aceh. Segmen pasarnya merupakan kalangan menengah ke atas. Selain itu, juga dapat dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan mancanegara maupun nusantara yang berkunjung ke Aceh.
Ada tiga varian Minyeuk Pret ini yaitu
1. Coffe

Semangat heroik berbalutkan maskulinitas dan kemapanan seorang pria modern dengan aroma seduhan kopi murni tanah Aceh pada tingkat ketenangan tertinggi.

2. Seulanga


"Bunganya para bunga", eksotisme, keanggunan yang menyatu pada keharuman sempurna. Semerbak bunga khas Aceh dan kesegaran abad pertengahan.

3. Meulu

Kesucian aroma Meulu, mengalunkan deburan ombak senja hari. Memikat, memesona, menghadirkan kesan feminisme yang mewah dan bernuansakan putih elegan.
Ada juga yang terbaru seperti yang diinformasikan di Serambi Indonesia, yaitu  Jeumpa yang merupakan bunga iconnya Aceh dan Espreso yang pada awalnya merupakan permintaan para pejabat Aceh. 
Minyeuk Pret ini dapat diperoleh di Jalan Wedana, No.104, Lam Ara-Keutapang Dua, Kec. Banda Raya, Banda Aceh. Bisa juga didapatkan melalui website http://www.minyeukpret.com/, di situs ini pelanggan juga dilayani dengan berbagai informasi terkini tentang fashion, grooming, lifestyle, dan pastinya tips seputar parfum. Misalnya, bagaimana memakai parfum atau menjaga ketahanan aroma parfum. Yang menarik juga adalah kreativitas marketingnya, dalam rangka milad yang kedua mereka mengadakan lomba blog dan tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog tersebut. 
Minyeuk Pret ini juga dapat diperoleh di PLTD Apung, Museum Tsunami serta toko suvenir lainnya di Banda Aceh. Seperti Pusaka Souvenir Jl. Sri Ratu Safiatuddin No. 78 Peunayong, Banda Aceh (Samping BRI Cabang Peunayong)065132988 0852 7763 9620, Canting Batik Jl. Mr. Dr. Mohd Hasan, Batoh 0852 7754 4192, Piyoh Ulee Kareng Ulee Kareng, samping Solong Ayah, Simpang 7, Ulee Kareng 0813 6012 3093. 

Jadi, mari menikmati sensasi parfum istimewa dari daerah istimewa ini. 



Kamis, 16 Februari 2017

KULINER KENANGAN ; CABAI RAWIT, BAWANG MERAH, GARAM DAN ASAM


Ada banyak cita rasa kuliner Indonesia. Berkunjunglah ke Omiyago dan telusuRI, di sana kita akan mengenal dan menikmati rasa kuliner nusantara. Kuliner nusantara yang dulunya lahir di dapur setiap keluarga. Kuliner yang tidak hanya sekedar menyajikan menu tetapi menghidangkan kekayaan rasa kekeluargaan. Kuliner yang menjadi media felowship dan bonding keluarga. Kuliner yang disajikan dengan mengadukkan kasih sayang di sana. Kuliner yang akan menjadi kenangan pendidikan keluarga. Aku bersyukur Bapak meninggalkan resep kuliner andalannya padaku. Resep cita rasa alami yang ada di cabai rawit, bawang merah, garam dan asam.
                Cabai rawit, bawang merah, garam dan asam adalah rasa dasar. Si pedas cabai rawit memiliki  kandungan vitamin c tujuh kali lebih banyak dari buah jeruk berkhasiat sebagai  obat-obatan Ayurvedic dan digunakan sebagai tonik untuk menangkal berbagai penyakit. Si renyah bawang merah mentah mempunyai senyawa penting yang masih aktif dibandingkan saat sudah dimasak yaitu sulfur organik dan minyak atsiri yang memberi manfaat  tinggi karena mengandung antioksidan, quercetin. Senyawa ini baik untuk jantung, sistem imunitas tubuh dan banyak hal lain di tubuh. Si asin garam  meja yang biasa kita konsumsi, yang disebut sebagai natrium chlorida (40% natrium, 60% chlorida), amat penting untuk mempertahankan keseimbangan asam basa dalam tubuh.  Dan Si asam jeruk nipis mengandung cukup tinggi vitamin C , vitamin E , vitamin B , kalsium, zat besi, fosfor, kalium, mangan, dan serat. Beberapa senyawa organik penting lain dalam buah asem adalah antioksidan yang kuat dan agen anti – inflamasi.


Bumbu dasar kuliner Indonesia : Cabai, bawang, garam, dan asam


       Saya lahir dan dibesarkan di era 80-an dengan cita rasa alami itu. Beras sebagai karbohidrat utama berasal dari padi yang ditanam sendiri oleh orang tuaku. Lauk pauk datang dari ‘bubuh’ Bapak. Bubuh adalah semacam jaring penangkapan ikan yang dianyam dari bambu. Sore harinya, Bapak akan memasang bubuh itu di rawa besar belakang rumah oppung. Pagi harinya, sebelum ke ladang, Bapak akan akan memeriksa ikan yang sudah masuk dalam perangkap bubuh itu. Ikan yang didapat cukup untuk lauk satu hari dan bila sedang banjir akan ada ikan melimpah. Jenis lauk yang lain juga sering didapat dari hasil berburu seperti gundit, kera atau kura-kura. Bukan berati kami ini karnivora ya, itu lah yang disediakan alam untuk terus menyambung hidup. Cabai rawit dan asam tinggal dipetik  dari belakang rumah tetapi bawang harus dibeli ke pekan yang diselengarakan sekali seminggu dan itupun harus dijemput dengan jarak 30 km ke ibu kota Desa  Gunung Melayu Kecamatan Kualuh Selatan Labuhan Batu Utara Sumatera Utara.

Memasuki era 90-an, ladang padi dan rawa sumber ikan di belakang rumah oppung tergusur oleh pemilik modal dengan membuka perkebunan sawit di sana. Mau tak mau, Bapak pun harus mengikuti perubahan itu. Maka, mandahlah keluarga kami ke sebuah perkebunan di Kecamatan Aek Natas yang dulu masih dalam satu Kabupaten Labuhan Batu Raya. 


Bubuh
sumber : http://sophievettel.blogspot.co.id/2016/01/budaya-indonesia-antu-bubu-dari-belitung_5.html



Periuk nasi digantikan rice cooker. Gilingan batu digantikan blender. Panggangan kayu arang digantikan happy call. Bunga lawang, pala,  jintan, semakin memperkaya rempah-rempah kuliner bahkan yang berbau asing seperti teriyaki atau mayones. Rendang, gulai, kari, asam manis dan berbagai nama olahan lainnya semakin menambah keragaman kuliner Indonesia. Tetapi semua itu berasal dari bumbu dasar alami cabai, bawang, garam dan asam.
Setiap kali Bapak tidak selera makan, ia akan membakar ikan asin. Dagingnya disuir-suir lalu digiling bersama cabe rawit bawang merah dan garam kemudian ditambahkan dengan perasan air jeruk nipis. Saat aku pulang kampung sewaktu kuliah dulu dari ibukota provinsi atau pulang sekali seminggu dari ibu kota kabupaten saat aku sudah bekerja sebagai guru pun, Bapak akan memanjakan aku dengan resep adalannya itu. Memanggang ayam dengan sambal cocol, cabai, bawang, garam dan asam. Dan hanya kami berdua menikmatinya. Mama sampai bilang "gak malu lhoo anak gadis suka makan daging, padahal tiga adikmu yang laki-laki saja bukan 'siallang jagal'".  Bukannya malu, justru aku semakin bangga, justru itulah bentuk kebersamaan kami berdua, aku dan Bapakku.

Siang ini aku terkenang akan Bapak. Rindu kepada Bapak yang telah meninggalkan kami empat bulan lalu. Aku membuat sambal Bapak, Sambal Kenangan. Sambalnya tidak aku giling tetapi kuiris kecil-kecil dicampur suwiran daging ikan mujair. Ehm... cabai dan bawangnya serasa ‘hidup’  ya.  Yuk,......menikmati kuliner kenangan ini.





Senin, 23 Januari 2017

PENERBANGAN PERTAMAKU MELEWATI DUA BENUA, TIGA NEGARA, LIMA KOTA, DAN WAKTU 26 JAM

Sebenarnya saya ini baru belajar memakai Instagram. Saking barunya, saya hanya bisa upload foto di Instagram melalui android dan masih meraba-raba bagaimana caranya meng-upload foto di desktop. Namun, tetap saja ada kisah foto instagramku walau masih beberapa kiriman di sana.

Foto ini adalah salah satu rangkaian rekaman perjalanan kami ke negeri kangguru. Foto yang kuunggah di instagram untuk mengikuti kompetisi. Ada kisah panjang di balik foto instagram tersebut. Perjalanan 48 orang, 7 dosen dan 41  mahasiswa pascasarjana Unimed dalam rangka studi banding mulai tanggal 27 November sampai 4 Desember 2016 yang lalu.  

Kisah foto Instagramku
Di depan Opera House Sidney

Penerbangan dimulai dari Bandara Kuala Namu Medan pukul 7 pagi, sampai  di Batam pukul  9. Selanjutnya kami diantar bus mengelilingi kota Batam. Kota teritorial industri. Kota ‘kawean’ Singapura. Setelah itu kami menyeberang ke Singapura naik Ferry pada pukul 5 sorenya.  Lalu ke Changi Airport naik MRT atau kereta api listrik bawah tanah. Yang menarik dalam catatanku di sana adalah kecepatan eskalatornya disesuaikan kecepatan gerak langka warganya. Kota sibuk dan padat, setiap orang tampak berjalan terburu-buru, tergesa-gesa seolah diburu waktu.
Terbang dengan pesawat Qantas menuju Melbourne, berangkat pukul 11 malamnya dan tiba pukul 10 paginya di sana. Mengitari kota Melbourne dengan bus untuk selanjutnya beristirahat di Platinum Hotel. Pagi hari Selasanya, kami berkunjung ke sebuah sekolah menengah, Headmont College. Biasa saja, sepintas tidak ada yang berbeda dengan sekolah di sini. Pakaian kepala sekolah dan gurunya sama saja seperti layaknya guru kita. Pakaian siswanya sama seperti siswa kita juga yang dibalut seragam sekolah.  Ruangan kelasnya besar (dua kali dari ruang kelas di Indonesia), tetapi hanya memuat 20 orang siswa. Perkiraanku supaya cepat mobile seandainya kelas harus dibentuk tempat duduk konferensi, seminar atau tempat duduk kelas konvensional.  Dinding kelasnya juga sama berisi kliping portofolio siswa dan beraneka karya siswa mereka. Sistem mengajarnya juga sama, ada team teaching , satu kelas dibimbing dua guru. Tugas gurunya juga sama, semua rencana belajar, materi dan tugas harus disetor ke server sekolah sehingga tetap dapat dijalankan seandainya gurunya berhalangan dan digantikan dengan guru lain. Cara mengajarnya juga sama, ada ceramah, diskusi dan praktik. Gaji gurunya tentu besar berdasarkan nilai dolar mereka. Tetapi sertifikasi guru juga besar sesuai nilai rupiah kita dan persamaannya tetap berdasarkan masa kerja dan kinerja. Lalu apa bedanya ya ? Mengapa kita sering memuji  pendidikan luar negeri sangat maju?

Selanjutnya kami bergerak  menuju Dinas Pendidikan Melboure. Kami juga disambut dengan hangat mesra di sana, terlebih pimpinan yang menyambut kami sangat fasih berbahasa Indonesia karena beliau pernah belajar di Jawa sebagai mahasiswa asing pertukaran pelajar dan beberapa tahun bekerja sebagai pengacara di Jakarta. Berbekal kemampuan bahasa Inggris ala kadarnya saya mencoba menyimpulkan apa yang dipresentasikan tentang sistem pendidikan di sana. Lagi-lagi, sama juga seperti di Indonesia. Kurikulum harus diuji terlebih dahulu dan disosialisasikan sebelum dilaksanakan. Penerapannya bertahap dan harus terus dievaluasi. Ada juga lembaga penjamin mutu pendidikannya. Sekolah vokasionalnya juga wajib mengikuti ujian kompetensi nasional dan mendapatkan sertifikat.

Dinas Pendidikan Melbourne

Selanjutnya kami makan siang di Taman Viktoria dan menyempatkan foto di depan patung Robind Hood si penemu Benua Australia. Selain kami, ramai juga wisatawan asing, yang tentunya berdatangan dari Asia juga seperti Cina, Jepang, dan Taiwan. Danau toba dan legenda Batu gantung juga punya pesona tersendiri. Tetapi mengapa Australia lebih memikat mereka dibandingkan Indonesia ya?

Viktoria Garden
Di belakanganya ada patung Robin Hood

Kunjungan berikutnya adalah ke Victoria University. Tentu kami sangat antusias, karena fasilitas kampus bak  hotel atau supermarket. Kami dijamu dengan  presentasi berbagai  program kerja sama dengan Indonesia,  khususnya program beasiswa master dan doktor. Mereka juga sangat antusias tentunya. Bayangkan berapa biaya yang akan mereka keluarkan jika harus mengikuti pameran pendidikan di Indonesia atau kunjungan promosi ke kampus-kampus yang ada di Indonesia. Calon pelanggan datang sendiri ke ‘toko’ mereka. Terlebih lagi ada banyak universitas di Melbourne dan ketika pilihan jatuh pada Vitoria University bukankah itu adalah ‘victory’ bagi mereka? Betapa universitas di sana berlomba-lomba menjaring sebanyak mungkin mahasiswa asing termasuk dari Indonesia, negara terdekat mereka. Betapa mereka menjadikan pendidikan sebagai penghasil devisa negara.

Victoria University

Malam harinya kami melakukan perjalan bus dari Melbourne ke Sidney. Berharap kami akan berjumpa dengan kangguru. Konon katanya pelancong berkesempatan bertemu dengan kangguru pada malam harinya. Betapa luasnya ladang rumput berlemak terpampang di sepanjang perjalanan. Wajar saja sapi-sapi di peternakan menjadi gemuk dan menghasilkan susu segar murah meriah.

Dini hari kami tiba di Sidney dan beristirahat di Sebel Hotel daerah Castwood.  Kunjungan berikutnya ke Maquarie University seharusnya pukul 10 pagi, tetapi diundurkan ke pukul dua siangnya. Direkturnya sudah menunggu sejak jam 10 paginya dan hanya punya waktu 30 menit menyambut kami karena ia harus mengadiri rapat berikutnya. Tetapi karena kami terlambat, penyambutan itu diundur. Seharusnya Beliau kan bisa menunggu kami, secara kami ini kan tamu kenegaraan. Tetapi 'status' kami tidak dihiraukan demi profesionalismenya. Ia tidak mau karena terlambat satu agenda kerja mengorbankan agenda kerja lainnya menjadi molor juga. Ah, budaya kerja dosennya profesional banget. Lebih baik satu mundur daripada semua jadwal harus mundur. Ah, kami pun Indonesia banget ya ? Terlambat dengan dalih ‘kesalahan teknis’.  Kami turut memperkenalkan 'budaya telat' jauh sampai ke bangsa keturunan Aborigin  ini. Secara kami kan duta Indonesia. Gambaran calon pengawas pendidikan. Wajar saja menjadi budaya permisif, wong pengawas terlambat minta dimaklumi, lalu kepala sekolahpun terlambat akan dianggap wajar, lalu guru terlambatpun akan dimengerti, sehingga siswa terlambat menyerahkan PR-nya pun akan dianggap biasa saja.

Selanjutnya acara bebas. Jalan-jalan cantik  ke Opera House yang menjadi ikon kota Sidney. Selanjutnya kami berburu oleh-oleh  di Pady's Market. Ah,.. banyak yang ‘kawe’ di sini. Asesorisnya made in China dan pedagangnya mereka juga. Hasil indutri mereka bisa nongkrong cantik di negeri kangguru ini sementara industri kita yang paling dekat ke mana? Nah, mereka juga berhasil berdagang di sana, tentu pintu masuk ke sana adalah dapat berkomunikasi dalam  bahasa mereka sehari-hari. Lha, kita kok sombong  tidak mau ‘bertetangga’ dengan negara yang merupakan gambaran benua Eropa ini.

Terkesan dengan berbagai budaya mereka. Budaya sehat, minum air putih dari tempat air minum umum. Air putih sehat, segar dan gratis, selain itu juga dapat mengurangi sampah botol air mineral. Budaya bersih, tak ada sampah terlihat berserakan. Trotoar kota pun berkilau dilap oleh mesin pengepel besar. Budaya tepat waktu, beberapa kali ada saja peserta yang tertinggal karena tidak tepat waktu. Bayangkan saja seorang supir bus bisa sedisiplin itu, sedisplin manajer perusahaan bus. Budaya olah raga, pantes saja mereka tidak menderita kolesterol atau darah tinggi padahal tiap hari makan daging (seminggu di sana tidak jumpa ikan). Budaya tertib. Semua taat pada peraturan, misalnya saat hendak menyeberang. Walau kenderaan di depan kosong, mereka tak akan manfaatkan kesempaatan itu melainkan tetap akan berjalan bila tanda untuk berjalan sudah berbunyi. Saya yakin semua budaya itu lahir dari pembiasaan. Kebiasaan itu dimulai dari pendidikan. Nah lho, pendidikan mereka kan sama dengan pendidikan kita? Lalu mengapa budaya masyarakat kita berbeda ? Ntar ya, saya sambung ceritanya lagi, harus menemani anak tidur siang dulu ni.


Minggu, 08 Januari 2017

Tulislah Mimpi-Mimpimu

Tulislah mimpi-mimpimu! Ya, harus ditulis ya, dan lihatlahlah rahasia sebuah tulisan dan nikmatilah  keajaiban sebuah mimpi.

Saya selalu menulis resolusi sejak mengikuti sebuah seminar organisasi kerohanian kampus yang bertema manajemen diri.  Topik pengembangan diri meminta kita  menuliskan  mimpi 10 tahun yang  akan datang kemudian dirinci  dalam waktu lima tahun dan per tahunnya serta langkah-langkah hariannya. Saya sudah melihat rahasia tulisan itu dan menikmati keajaiban mimpi itu. Misalnya saja tahun ini untuk pertama kalinya saya naik pesawat. Pertama kalinya pergi ke luar negeri dan belajar sambil berwisata  di Australia. Mendapat beasiswa pascasarjana  dan menikmati hadiah dari lomba menulis blog. Biasanya saya menulis di agenda atau menempelkannya di meja belajar. Kali ini, saya harus berani terbuka membagikan mimpi-mimpi saya. Secara saya kan si introvert tertutup.

Sebelum membuat resolusi, tentu kita harus melihat diri sebelumnya. Melihat kekuatan dan kelemahan. Melihat apa yang tercapai dan apa yang gagal. Melihat apakah saya sedang jalan di tempat. Melihat grafik perjalanan hidup supaya menjadi lebih bermakna dan menjadi berkat.

Tahun 2016 bagiku menjadi tahun yang amat repot dan berat. Repot karena status baru sebagai mahasiswa pascasarjana membuatku harus bijak mengatur waktu. Tiga hari kuliah dan menjadi anak kost di ibu kota provinsi kemudian empat hari lagi harus ‘ada’ bersama anak-anakku di kota ini,  ibukota Kabupaten Labuhan Batu. Menjadi lebih repot lagi  karena aku harus  ‘nangkring’ di depan laptop hampir 24 jam demi tugas perkuliahan supaya bebas kendala dan bebas tugas kala bercengkerama bersama anak-anak.  Menjadi sangat berat apalagi bila anak-anak sakit. Sakit demam batuk, pilek tapi membuat saya sangat panik.  Soalnya bila si kakak terkena pasti akan menular pada si adik. Walaupun sudah dipisahkan tempat tidurnya, mereka tak bisa dilarang untuk saling bertengkar untuk kemudian semakin mesra bermain bersama lagi. Apalagi bila mendengar teman yang mencibir,
“Untuk apa si kau S2? Mau jadi kepala sekolah? Wong anak-anakmu rentan sakit”,  
“Sudahlah kau sudah sejahtera dengan gaji dan sertifikasimu, apalagi yang mau kau kejar”,
“Bukan hanya kau saja yang punya cita-cita, kami pun punya mimpi setinggi langitnya tapi kalu sudah punya anak semua  itu  harus dikesampingan”, .

Semua itu semakin melecutku untuk bangkit. Toh, tidak ada jaminan bila aku tidak S2 maka anakku tidak akan sakit. Semua ibu-ibu pasti mengalami balitanya rentan sakit bahkan bisa tiap bulan. Tekadku bahwa aku harus bisa sekolah pascasarjana hanya karena beasiswa. Selain karena memang aku tidak punya dana, beasiswa bagiku adalah prestasi dan prestise. Maka mulailah aku ‘mencari’ berbagai tawaran beasiswa. Mulailah aku ‘melihat’ bagaimana membuat esai diri. Mulailah aku ‘melirik’ tes TOEFL dan psikotes. Saat kesempatan itu di depan mata, haruskah kulepas ? Sementara ada teman-teman yang sudah tiga kali dalam tiga tahun mencoba ujian beasiswa itu. Ada juga yang begadang larut malam demi ujian itu. Ada juga yang sudah lulus tetapi tidak diizinkan oleh pemdanya untuk tugas belajar. Aku percaya studiku akan menjadi sesuatu yang baik, akan menjadi berkat.

Tahun ini juga menjadi tahun yang sangat berat karena pencobaan datang di trimester akhir . Mendadak Bapak sakit parah di awal Oktober. Kalut, galau dan berkecamuk saat Bapak diopname. Tuhan memanggil Bapak ke rumahNya. Tak beberapa hari berselang kami ‘piknik’ dari rumah sakit ke rumah sakit. Aku dan kedua putriku harus bolak-balik diopnamekan karena demam berdarah yang sedang mewabah di daerah kami. Biaya perobatan Bapak,  biaya adat pengebumian orang Batak yang menelan dana puluhan juta (walau ditanggung bersama anak-anaknya), biaya pengobatan di rumah sakit (rumah sakit umum dan rumah sakit swasta penerima BPJS  penuh, terpaksalah dua kali kami ke rumah sakit swasta dengan biaya delapan ratus ribu per malam), biaya perawatan pascasakit di rumah (yang biasanya daging hanya satu kali seminggu terpaksa dua kali sehari, yang biasanya buah pisang dan pepaya murah meriah terpaksa harus beli anggur dan apel untuk booster) telah menguras habis tabungan kami dan menyisakan 'tabungan utang'.

Berdasarkan kisahku tadi maka resolusi pertama di tahun 2017 adalah melunasi semua utang tersebut.

Yang kedua adalah menulis minimal lima artikel setiap bulannya. Saya yakin semakin sering menulis maka pikiran akan semakin tertib dan kalimatku pun akan semakin efektif. Dua tulisanku tahun lalu yaitu Kita dan Surat Lamaran dan ASI, Obat Mujarab PJB Anakku membuatku semakin semangat untuk menekuni dunia blogging.  Khususnya  ingin pindah dari dunia gratisan ke blog berbayar. Biar lebih profesional, toh motivasi awal menulis di blog adalah ingin mencari penghasilan tambahan.

Yang ketiga adalah menyelesaikan dan mengirimkan naskah buku yang sejak 2015 tertunda. Proyek kerjasama dengan temanku guru untuk membahas soal-soal ujian Bahasa Indonesia SMA. Rasanya aku sangat terutang apalagi sejak bukuku yang pertama terbit tahun 2008 lalu, sudah delapan tahun toh. Tetapi karena prioritas keluarga makanya tertunda.  “alah itu kan alasan pembelaan diri saja”, yang betul adalah saya terserang penyakit ‘kudis’ alias kurang disiplin.

Yang keempat adalah tentu  saja berkaitan dengan status saya sebagai mahasiswa. Saya harus segera menyelesaikan studi saya. Semoga saya bisa seminar proposal di Februari ini. Sidang tesis di Juli dan wisuda di Oktober. Sekali lagi magister saya bukan untuk kekayaan atau jabatan. Magister saya untuk sesuatu yang baik. Pendidikan untuk membuat orang terdidik.
#Resolusiku2017
Tulisan ini diikutsertalan dalam Hidayah-Art Giveaway "Resolusi Tahun 2017 Yang Paling Ingin Saya Wujudkan.