Sebenarnya saya ini baru belajar memakai Instagram. Saking barunya, saya hanya bisa upload
foto di Instagram melalui android dan masih meraba-raba bagaimana caranya meng-upload foto di desktop. Namun, tetap saja ada kisah
foto instagramku walau masih beberapa kiriman di sana.
Foto ini adalah salah satu rangkaian rekaman perjalanan kami ke negeri
kangguru. Foto yang kuunggah di instagram untuk mengikuti kompetisi. Ada kisah
panjang di balik foto instagram tersebut. Perjalanan 48 orang, 7 dosen dan 41 mahasiswa pascasarjana Unimed dalam rangka
studi banding mulai tanggal 27 November sampai 4 Desember 2016 yang lalu.
![]() |
| Kisah foto Instagramku Di depan Opera House Sidney |
Penerbangan dimulai dari Bandara Kuala Namu Medan pukul 7 pagi, sampai di Batam pukul
9. Selanjutnya kami diantar bus mengelilingi kota Batam. Kota teritorial
industri. Kota ‘kawean’ Singapura. Setelah itu kami menyeberang ke Singapura
naik Ferry pada pukul 5 sorenya. Lalu ke
Changi Airport naik MRT atau kereta api listrik bawah tanah. Yang menarik dalam
catatanku di sana adalah kecepatan eskalatornya disesuaikan kecepatan gerak
langka warganya. Kota sibuk dan padat, setiap orang tampak berjalan terburu-buru,
tergesa-gesa seolah diburu waktu.
Terbang dengan pesawat Qantas menuju Melbourne, berangkat pukul 11
malamnya dan tiba pukul 10 paginya di sana. Mengitari kota Melbourne dengan bus
untuk selanjutnya beristirahat di Platinum Hotel. Pagi hari Selasanya, kami
berkunjung ke sebuah sekolah menengah, Headmont College. Biasa saja, sepintas
tidak ada yang berbeda dengan sekolah di sini. Pakaian kepala sekolah dan
gurunya sama saja seperti layaknya guru kita. Pakaian siswanya sama seperti
siswa kita juga yang dibalut seragam sekolah. Ruangan kelasnya besar (dua kali dari ruang
kelas di Indonesia), tetapi hanya memuat 20 orang siswa. Perkiraanku supaya
cepat mobile seandainya kelas harus
dibentuk tempat duduk konferensi, seminar atau tempat duduk kelas konvensional. Dinding kelasnya juga sama berisi kliping
portofolio siswa dan beraneka karya siswa mereka. Sistem mengajarnya juga sama,
ada team teaching , satu kelas
dibimbing dua guru. Tugas gurunya juga sama, semua rencana belajar, materi dan
tugas harus disetor ke server sekolah
sehingga tetap dapat dijalankan seandainya gurunya berhalangan dan digantikan
dengan guru lain. Cara mengajarnya juga sama, ada ceramah, diskusi dan praktik.
Gaji gurunya tentu besar berdasarkan nilai dolar mereka. Tetapi sertifikasi
guru juga besar sesuai nilai rupiah kita dan persamaannya tetap berdasarkan
masa kerja dan kinerja. Lalu apa bedanya ya ? Mengapa kita sering memuji pendidikan luar negeri sangat maju?
Selanjutnya kami bergerak menuju
Dinas Pendidikan Melboure. Kami juga disambut dengan hangat mesra di sana, terlebih pimpinan yang menyambut kami sangat fasih berbahasa Indonesia karena beliau pernah belajar di Jawa sebagai
mahasiswa asing pertukaran pelajar dan beberapa tahun bekerja sebagai pengacara
di Jakarta. Berbekal kemampuan bahasa Inggris ala kadarnya saya mencoba
menyimpulkan apa yang dipresentasikan tentang sistem pendidikan di sana.
Lagi-lagi, sama juga seperti di Indonesia. Kurikulum harus diuji terlebih
dahulu dan disosialisasikan sebelum dilaksanakan. Penerapannya bertahap dan
harus terus dievaluasi. Ada juga lembaga penjamin mutu pendidikannya. Sekolah
vokasionalnya juga wajib mengikuti ujian kompetensi nasional dan mendapatkan
sertifikat.
![]() |
| Dinas Pendidikan Melbourne |
Selanjutnya kami makan siang di Taman Viktoria dan menyempatkan foto
di depan patung Robind Hood si penemu Benua Australia. Selain kami, ramai juga
wisatawan asing, yang tentunya berdatangan dari Asia juga seperti Cina, Jepang,
dan Taiwan. Danau toba dan legenda Batu gantung juga punya pesona tersendiri.
Tetapi mengapa Australia lebih memikat mereka dibandingkan Indonesia ya?
![]() |
| Viktoria Garden Di belakanganya ada patung Robin Hood |
Kunjungan berikutnya adalah ke Victoria University. Tentu kami sangat
antusias, karena fasilitas kampus bak hotel atau supermarket. Kami dijamu
dengan presentasi berbagai program kerja sama dengan Indonesia, khususnya program beasiswa master dan doktor.
Mereka juga sangat antusias tentunya. Bayangkan berapa biaya yang akan mereka
keluarkan jika harus mengikuti pameran pendidikan di Indonesia atau kunjungan
promosi ke kampus-kampus yang ada di Indonesia. Calon pelanggan datang sendiri
ke ‘toko’ mereka. Terlebih lagi ada banyak universitas di Melbourne dan ketika
pilihan jatuh pada Vitoria University bukankah itu adalah ‘victory’ bagi mereka?
Betapa universitas di sana berlomba-lomba menjaring sebanyak mungkin mahasiswa
asing termasuk dari Indonesia, negara terdekat mereka. Betapa
mereka menjadikan pendidikan sebagai penghasil devisa negara.
![]() |
| Victoria University |
Malam harinya kami melakukan perjalan bus dari Melbourne ke Sidney. Berharap
kami akan berjumpa dengan kangguru. Konon katanya pelancong berkesempatan bertemu
dengan kangguru pada malam harinya. Betapa luasnya ladang rumput berlemak
terpampang di sepanjang perjalanan. Wajar saja sapi-sapi di peternakan menjadi
gemuk dan menghasilkan susu segar murah meriah.
Dini hari kami tiba di Sidney dan beristirahat di Sebel Hotel daerah
Castwood. Kunjungan berikutnya ke
Maquarie University seharusnya pukul 10 pagi, tetapi diundurkan ke pukul dua siangnya. Direkturnya sudah menunggu sejak jam 10 paginya dan hanya punya waktu
30 menit menyambut kami karena ia harus mengadiri rapat berikutnya. Tetapi
karena kami terlambat, penyambutan itu diundur. Seharusnya Beliau kan bisa
menunggu kami, secara kami ini kan tamu kenegaraan. Tetapi 'status' kami tidak
dihiraukan demi profesionalismenya. Ia tidak mau karena terlambat satu agenda
kerja mengorbankan agenda kerja lainnya menjadi molor juga. Ah, budaya kerja
dosennya profesional banget. Lebih baik satu mundur daripada semua jadwal harus
mundur. Ah, kami pun Indonesia banget ya ? Terlambat dengan dalih ‘kesalahan
teknis’. Kami turut memperkenalkan 'budaya telat' jauh sampai ke bangsa keturunan Aborigin ini. Secara kami kan duta Indonesia. Gambaran
calon pengawas pendidikan. Wajar saja menjadi budaya permisif, wong pengawas terlambat
minta dimaklumi, lalu kepala sekolahpun terlambat akan dianggap wajar, lalu
guru terlambatpun akan dimengerti, sehingga siswa terlambat menyerahkan PR-nya pun akan dianggap biasa saja.
Selanjutnya acara bebas. Jalan-jalan cantik ke Opera House yang menjadi ikon kota Sidney.
Selanjutnya kami berburu oleh-oleh di Pady's
Market. Ah,.. banyak yang ‘kawe’ di sini. Asesorisnya made in China
dan pedagangnya mereka juga. Hasil indutri mereka bisa nongkrong cantik di
negeri kangguru ini sementara industri kita yang paling dekat ke mana? Nah, mereka
juga berhasil berdagang di sana, tentu pintu masuk ke sana adalah dapat
berkomunikasi dalam bahasa mereka
sehari-hari. Lha, kita kok sombong tidak
mau ‘bertetangga’ dengan negara yang merupakan gambaran benua Eropa ini.
Terkesan dengan berbagai budaya mereka. Budaya sehat, minum air putih dari tempat air minum umum. Air putih
sehat, segar dan gratis, selain itu juga dapat mengurangi sampah botol air
mineral. Budaya bersih, tak ada
sampah terlihat berserakan. Trotoar kota pun berkilau dilap oleh mesin pengepel
besar. Budaya tepat waktu, beberapa kali ada saja peserta yang tertinggal
karena tidak tepat waktu. Bayangkan saja seorang supir bus bisa sedisiplin itu,
sedisplin manajer perusahaan bus. Budaya
olah raga, pantes saja mereka tidak menderita kolesterol atau darah tinggi
padahal tiap hari makan daging (seminggu di sana tidak jumpa ikan). Budaya
tertib. Semua taat pada peraturan, misalnya saat hendak menyeberang. Walau kenderaan
di depan kosong, mereka tak akan manfaatkan kesempaatan itu melainkan tetap
akan berjalan bila tanda untuk berjalan sudah berbunyi. Saya yakin semua budaya
itu lahir dari pembiasaan. Kebiasaan itu dimulai dari pendidikan. Nah lho, pendidikan mereka kan sama dengan
pendidikan kita? Lalu mengapa budaya masyarakat kita berbeda ? Ntar ya, saya
sambung ceritanya lagi, harus menemani anak tidur siang dulu ni.












