Ada banyak cita rasa kuliner Indonesia. Berkunjunglah ke Omiyago dan
telusuRI, di sana kita akan mengenal dan menikmati rasa kuliner nusantara. Kuliner
nusantara yang dulunya lahir di dapur setiap keluarga. Kuliner yang tidak
hanya sekedar menyajikan menu tetapi menghidangkan kekayaan rasa kekeluargaan.
Kuliner yang menjadi media felowship dan bonding keluarga. Kuliner yang
disajikan dengan mengadukkan kasih sayang di sana. Kuliner yang akan menjadi
kenangan pendidikan keluarga. Aku bersyukur Bapak meninggalkan resep kuliner
andalannya padaku. Resep cita rasa alami yang ada di cabai rawit, bawang merah,
garam dan asam.
Cabai rawit, bawang merah, garam
dan asam adalah rasa dasar. Si pedas cabai rawit memiliki kandungan vitamin c tujuh kali lebih banyak
dari buah jeruk berkhasiat sebagai obat-obatan
Ayurvedic dan digunakan sebagai tonik untuk menangkal berbagai penyakit. Si renyah
bawang merah mentah mempunyai senyawa penting yang masih aktif dibandingkan
saat sudah dimasak yaitu sulfur organik dan minyak atsiri yang memberi manfaat tinggi karena mengandung antioksidan,
quercetin. Senyawa ini baik untuk jantung, sistem imunitas tubuh dan banyak hal
lain di tubuh. Si asin garam meja yang
biasa kita konsumsi, yang disebut sebagai natrium chlorida (40% natrium, 60%
chlorida), amat penting untuk mempertahankan keseimbangan asam basa dalam
tubuh. Dan Si asam jeruk nipis mengandung
cukup tinggi vitamin C , vitamin E , vitamin B , kalsium, zat besi, fosfor,
kalium, mangan, dan serat. Beberapa senyawa organik penting lain dalam buah
asem adalah antioksidan yang kuat dan agen anti – inflamasi.
![]() |
| Bumbu dasar kuliner Indonesia : Cabai, bawang, garam, dan asam |
Saya lahir dan
dibesarkan di era 80-an dengan cita rasa alami itu. Beras sebagai karbohidrat
utama berasal dari padi yang ditanam sendiri oleh orang tuaku. Lauk pauk datang dari ‘bubuh’ Bapak. Bubuh adalah semacam jaring penangkapan ikan yang dianyam dari
bambu. Sore harinya, Bapak akan memasang bubuh itu di rawa besar belakang rumah
oppung. Pagi harinya, sebelum ke
ladang, Bapak akan akan memeriksa ikan yang sudah masuk dalam perangkap bubuh
itu. Ikan yang didapat cukup untuk lauk satu hari dan bila sedang banjir akan
ada ikan melimpah. Jenis lauk yang lain juga sering didapat dari hasil berburu
seperti gundit, kera atau kura-kura. Bukan berati kami ini karnivora ya, itu
lah yang disediakan alam untuk terus menyambung hidup. Cabai rawit dan asam
tinggal dipetik dari belakang rumah
tetapi bawang harus dibeli ke pekan yang diselengarakan sekali seminggu dan itupun
harus dijemput dengan jarak 30 km ke ibu kota Desa Gunung Melayu Kecamatan Kualuh Selatan
Labuhan Batu Utara Sumatera Utara.
Memasuki era 90-an, ladang padi dan rawa sumber ikan di belakang rumah oppung tergusur oleh pemilik modal
dengan membuka perkebunan sawit di sana. Mau tak mau, Bapak pun harus mengikuti
perubahan itu. Maka, mandahlah keluarga kami ke sebuah perkebunan di Kecamatan Aek
Natas yang dulu masih dalam satu Kabupaten Labuhan Batu Raya.









