Curhatan Bunda

Kamis, 16 Februari 2017

KULINER KENANGAN ; CABAI RAWIT, BAWANG MERAH, GARAM DAN ASAM


Ada banyak cita rasa kuliner Indonesia. Berkunjunglah ke Omiyago dan telusuRI, di sana kita akan mengenal dan menikmati rasa kuliner nusantara. Kuliner nusantara yang dulunya lahir di dapur setiap keluarga. Kuliner yang tidak hanya sekedar menyajikan menu tetapi menghidangkan kekayaan rasa kekeluargaan. Kuliner yang menjadi media felowship dan bonding keluarga. Kuliner yang disajikan dengan mengadukkan kasih sayang di sana. Kuliner yang akan menjadi kenangan pendidikan keluarga. Aku bersyukur Bapak meninggalkan resep kuliner andalannya padaku. Resep cita rasa alami yang ada di cabai rawit, bawang merah, garam dan asam.
                Cabai rawit, bawang merah, garam dan asam adalah rasa dasar. Si pedas cabai rawit memiliki  kandungan vitamin c tujuh kali lebih banyak dari buah jeruk berkhasiat sebagai  obat-obatan Ayurvedic dan digunakan sebagai tonik untuk menangkal berbagai penyakit. Si renyah bawang merah mentah mempunyai senyawa penting yang masih aktif dibandingkan saat sudah dimasak yaitu sulfur organik dan minyak atsiri yang memberi manfaat  tinggi karena mengandung antioksidan, quercetin. Senyawa ini baik untuk jantung, sistem imunitas tubuh dan banyak hal lain di tubuh. Si asin garam  meja yang biasa kita konsumsi, yang disebut sebagai natrium chlorida (40% natrium, 60% chlorida), amat penting untuk mempertahankan keseimbangan asam basa dalam tubuh.  Dan Si asam jeruk nipis mengandung cukup tinggi vitamin C , vitamin E , vitamin B , kalsium, zat besi, fosfor, kalium, mangan, dan serat. Beberapa senyawa organik penting lain dalam buah asem adalah antioksidan yang kuat dan agen anti – inflamasi.


Bumbu dasar kuliner Indonesia : Cabai, bawang, garam, dan asam


       Saya lahir dan dibesarkan di era 80-an dengan cita rasa alami itu. Beras sebagai karbohidrat utama berasal dari padi yang ditanam sendiri oleh orang tuaku. Lauk pauk datang dari ‘bubuh’ Bapak. Bubuh adalah semacam jaring penangkapan ikan yang dianyam dari bambu. Sore harinya, Bapak akan memasang bubuh itu di rawa besar belakang rumah oppung. Pagi harinya, sebelum ke ladang, Bapak akan akan memeriksa ikan yang sudah masuk dalam perangkap bubuh itu. Ikan yang didapat cukup untuk lauk satu hari dan bila sedang banjir akan ada ikan melimpah. Jenis lauk yang lain juga sering didapat dari hasil berburu seperti gundit, kera atau kura-kura. Bukan berati kami ini karnivora ya, itu lah yang disediakan alam untuk terus menyambung hidup. Cabai rawit dan asam tinggal dipetik  dari belakang rumah tetapi bawang harus dibeli ke pekan yang diselengarakan sekali seminggu dan itupun harus dijemput dengan jarak 30 km ke ibu kota Desa  Gunung Melayu Kecamatan Kualuh Selatan Labuhan Batu Utara Sumatera Utara.

Memasuki era 90-an, ladang padi dan rawa sumber ikan di belakang rumah oppung tergusur oleh pemilik modal dengan membuka perkebunan sawit di sana. Mau tak mau, Bapak pun harus mengikuti perubahan itu. Maka, mandahlah keluarga kami ke sebuah perkebunan di Kecamatan Aek Natas yang dulu masih dalam satu Kabupaten Labuhan Batu Raya. 


Bubuh
sumber : http://sophievettel.blogspot.co.id/2016/01/budaya-indonesia-antu-bubu-dari-belitung_5.html



Periuk nasi digantikan rice cooker. Gilingan batu digantikan blender. Panggangan kayu arang digantikan happy call. Bunga lawang, pala,  jintan, semakin memperkaya rempah-rempah kuliner bahkan yang berbau asing seperti teriyaki atau mayones. Rendang, gulai, kari, asam manis dan berbagai nama olahan lainnya semakin menambah keragaman kuliner Indonesia. Tetapi semua itu berasal dari bumbu dasar alami cabai, bawang, garam dan asam.
Setiap kali Bapak tidak selera makan, ia akan membakar ikan asin. Dagingnya disuir-suir lalu digiling bersama cabe rawit bawang merah dan garam kemudian ditambahkan dengan perasan air jeruk nipis. Saat aku pulang kampung sewaktu kuliah dulu dari ibukota provinsi atau pulang sekali seminggu dari ibu kota kabupaten saat aku sudah bekerja sebagai guru pun, Bapak akan memanjakan aku dengan resep adalannya itu. Memanggang ayam dengan sambal cocol, cabai, bawang, garam dan asam. Dan hanya kami berdua menikmatinya. Mama sampai bilang "gak malu lhoo anak gadis suka makan daging, padahal tiga adikmu yang laki-laki saja bukan 'siallang jagal'".  Bukannya malu, justru aku semakin bangga, justru itulah bentuk kebersamaan kami berdua, aku dan Bapakku.

Siang ini aku terkenang akan Bapak. Rindu kepada Bapak yang telah meninggalkan kami empat bulan lalu. Aku membuat sambal Bapak, Sambal Kenangan. Sambalnya tidak aku giling tetapi kuiris kecil-kecil dicampur suwiran daging ikan mujair. Ehm... cabai dan bawangnya serasa ‘hidup’  ya.  Yuk,......menikmati kuliner kenangan ini.