Curhatan Bunda

Selasa, 15 September 2020

Bu, WAG Kelasnya Jangan Dikunci Ya

Wag atau wa grup kelas adalah media yang paling efektif untuk pembelajaran jarak jauh pandemi saat ini. Wag seperti kelas maya anak-anak, sayangnya banyak guru mengunci grup tersebut. Jika wag dikunci maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah, guru menyampaikan informasi dan siswa hanya menerima. Tidak ada terjadi interaksi antara guru dan siswa. Pada hal ini menjadi kebutuhan mereka saat ini ketika mereka berada di rumah dan mereka perlu berinteraksi dengan guru dan teman-temannya. 


Benar jika anak-anak akan mengirim berita sampah atau gambar-gambar yang tidak patut. Justru ini kesempatan untuk mendidik mereka untuk membedakan mana berita yang benar atau berita hoaks. Kita juga dapat menegur siswa tersebut, bila perlu men-wapri siswa yang mengirim gambar yang tak patut itu. Kesempatan memberikan pendidikan literasi pada mereka.




 Aduh, guru hanya 24 jam mengajar bukan 24 jam sehari? Pandemi ini telah mengubah guru menjadi lebih berlelah-lelah. Memang akan menjadi guru 24 jam sehari tapi guru juga harus bijaksana mengatur waktu saat kapan harus berinteraksi dan hadir dalam obrolan mereka. Terkadang di sela jam belajar atau di luar jam pelajaran kita harus tetap melayani mereka.

Contohnya seperti ini, kemarin siswa saya ngobrol di grup tentang korona yang masih panjang ini dan ada yang berkata “Bagimana korona ini akan berlalu Bu, sementara orang-orang yang menerima bantuan berdoa supaya korona ini panjang dan mereka terus mendapatkan bantuan”. “Justru jika mereka berdoa seperti itu, maka kita harus lebih berdoa lagi. Jika pahlawan merebut kemerdekaan Indonesia dengan bambu runcing, maka perjuangan kita saat ini adalah dengan tangan dan lutut. Ayo angkat tangan berdoa lebih kencang lagi bahkan sampai lutut lecet lecet supaya korona ini cepat berlalu dan bumi bisa sembuh”, balasku.


Bukankah kita sedang menanamkan nilai kebangsaan dan kerohanian dalam kalimat di atas? Ya, kita sedang menanamkan nilai-nilai karakter. Meski hanya dalam satu dua kalimat tapi saya yakin akan tertanam dalam benak anak-anak.



Jika di ruang kelas kita memilih perangkat kelas yang bertanggung jawab atas ketertiban kelas, maka di wag kelas pun kita dapat melakukannya. Jika di ruang kelas kita berusaha menciptakan, kebersihan, keindahan, kerapian dan kenyamanan kelas maka di wag kelas pun kita dapat melakukannya. Jika di ruang kelas, bapak dan ibu guru dapat menertibkan siswa yang malas, ribut, mau tidur, mengganggu temannya, maka saya yakin dengan kemampuan yang sama pun kita dapat melakukannya di wag kelas. Intinya mari menciptakan wag kelas yang nyaman bagi mereka. Wag kelas tempat yang mereka rindukan untuk berbagi dan berinteraksi. Wag kelas yang menjadi rumah kedua mereka. Jadi, wag kelasnyan jangan dikunci ya Bu.