Curhatan Bunda

Jumat, 05 Maret 2021

Lima Cara Emak Milenial Ciptakan Langit Tetap Biru

  


        Siapa di antara kita yang seperti saya belum pernah mendengar program langit biru? Tidak usah sedih, gak cuma kita doang kok yang belum pernah dengar meski sebenarnya Program Langit Biru (PLB) ini sudah seperempat abad.

    Saya membuat survei kecil-kecilan lewat google formulir terhadap komunitas-komunitas di sekitar saya lewat grup Wa yang karena pandemi ini memudahkan kita memohon izin berbagi link saja. Ternyata 76% pun belum pernah mendengar program langit biru. Responden yang 73% berjenis kelamin laki-laki dengan rentang usia 10—20 tahun ini sebenarnya sudah ikut melakukan program langit biru tanpa mereka ketahui dengan memilih BBM ramah lingkungan yaitu memilih pertalite sebesar 73%, bahkan ketika ditanya apa perbedaan premium, pertalite dan pertamax, masing-masing memberi jawaban panjang dengan sukarela seperti berikut :

1. Dari segi harga : Premium; harga nya murah,dan jarang terdapat di kedai eceran. Pertalite:harga nya terjangkau dan banyak yang menjualnya di kedai eceran, Pertamini,dll. Pertamax:harganya lumayan mahal dan hanya terjual di Pertamina, jarang kita temui di Pertamini, kedai eceran, karena jarang orang membelinya”.

2. Dari segi manfat : “Premium ; mengeluarkan polusi dalam jumlah besar. Pertalite ; mengeluarkan polusi dalam jumlah sedikit. Pertamax ; mengeluarkan polusi dalam jumlah sangat sedikit”.

“Pertalite harganya murah dan lebih irit sedangkan premium bahan bakarnya bersih dalam tangki. kalau Pertamax kualitas lebih tinggi harganya pun mahal serta asapnya tidak banyak”.

 



 Diskusi  Publik 
Kampanye BBM Ramah Lingkungan

        Saya mengikuti diskusi publik yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) berkolaborasi dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk mengampanyekan kepada masyarakat penggunaan BBM ramah lingkungan, yang diadakan 3 Maret 2021 lalu pukul 08.00-12.00 via Zoom Meeting, Facebook YLKI dan Youtube KBR.

       Tujuan dialog publik ini seperti yang disampaikan oleh Tulus Abadi, Ketua pengurus harian YLKI adalah :

1. Concern  YLKI mewujudkan pola konsumsi berkelanjutan dan BBM ramah lingkungan sejalan dengan pola konsumsi berkelanjutan.

2. Sebagai bentuk kritik dan keprihatinan atas lambatnya dan inkonsistensi pemerintah dalam mewujudkan program langit biru dan BBM ramah lingkungan.

3. Sebagai dukungan dan dorongan kepada regulator terutama Pemda, operator PT Pertamina dan masyarakat agar konsisten mewujudkan BBM ramah lingkungan.

  Diskusi publik ini menghadirkan perwakilan pemda di wilayah sumatera seperti Provinsi Sumatra Utara, Riau, Lampung, Kep. Bangka Belitung, dan Maluku. Selain itu diikuti juga jurnalis media, pers mahasiswa dan blogger untuk lebih menggaungkan PBL ini lebih luas ke masyarakat. Semakin krusial sebuah isu maka akan semakin banyak diperbincangkan masyarakat. Semakin banyak masyarakat yang kritis maka akan semakin banyak mendesak pemerintah lebih serius menangani real pandemi ini sama seperti Perpres miras yang bisa selesai hanya tiga hari.

 


Napak Tilas Progam Langit Biru

    Program langit biru digaungkan sejak 25 tahun silam oleh Kementerian Lingkungan Hidup melalui Permen LH No. 15/1996 dan Kepmen LH No 141 /2003 yang mengatur emisi gas buang motor pada ranmor (BBM standar Euro 2). Program langit biru bertujuan mengantisipasi krisis lingkungan akibat polusi udara yang dicetuskan oleh barang tidak bergerak seperti asap pabrik ataupun barang bergerak seperti asap kendaraan bermotor.

    Berbagai usaha dilakukan oleh kementerian dan pihak lainnya untuk mendukung program ini khususnya oleh Pertamina dengan program BBM ramah lingkungan karena 75% penyumbang polusi udara buruk adalah asap kendaraan bermotor yang BBM-nya tidak ramah lingkungan. Tetapi berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah jalan di tempat sebab adanya tarik ulur pengusaha dan penguasa. Masalah-masalah krusial seolah-olah tiada henti mulai dari ketersediaan BBM, distribusi ke daerah-daerah sampai kepada harga BBM itu sendiri.

    Nah, apakah kita menyerah dengan berbagai masalah tersebut? Tidak dong. Semua pihak harus aktif ambil bagian termasuk emak-emak. Mengapa emak-emak juga harus ikut? ya iya dong karena emak-emak ini paling ramai bersuara. Jika emak-emak sudah ribut maka banyak pihak akan mendengar dan merespon. Tapi saya bukan cerita emak-emak bersuara untuk demonstrasi tapi emak-emak bersuara melalui life style mencintai lingkungan untuk menjadikan langit di rumah masing-masing tetap biru,  untuk udara di lingkungan tetap sehat. Sebab anak-anak sehat tanpa polusi adalah generasi sehat bangsa Indonesia.

 

Peran Penting Emak Milenial Ciptakan Langit Biru

     Emak milineal itu lebih cerdas dan terbuka karena berlatar belakang pendidikan tinggi. Cerdas, terbuka dan kritis juga terhadap isu lingkungan. Emak milineal yang selalu identik dengan hape di tangan dengan mudah berselancar di internet untuk mendapatkan informasi. Nah, seharusnyalah emak-emak ini men-connecting-kan krisis iklim ini sebagai krisisnya juga. Emak-emak bukan sekadar gengsi dan ikut-ikutan beli dan tanam bunga aglo atau keladi yang sedang viral itu tapi dapat melihat lebih besar lagi dari itu. Ketika emak sadar bahwa menanam bunga/pohon, selain mempercantik rumah juga akan membuat udara rumah segar. Udara segar di sekitar rumah tidak akan membuat penghuni rumah mengantuk. Jika penghuni rumah sehat maka semua akan produktif. Jika udara rumahnya sehat maka ia ikut menyumbang udara bersih di Indonesia dan dunia. Bahkan lebih dari itu, merawat bumi adalah kewajiban dan haram hukumnya merusak alam, jadi bukan hanya miras saja yang haram sehingga emak-emak pada sewot.

    Jika emak-emak sudah aware bahwa kita dalam bahaya polusi udara, maka emak-emak paling banyak bisa berbuat. Yang pertama emak bisa mengedukasi keluarga. Edukasi ini akan disertai otoritas dalam bentuk perintah harus begini, harus begitu kepada suami dan anak-anaknya. Yang kedua adalah banyak hal-hal kecil pekerjaan rumah tangga yang sebenarnya bisa dilakukan di rumah untuk menjaga lingkungan bersih seperti memilih make up ramah lingkungan, detergen ramah lingkungan, sampai kepada makanan ramah lingkungan. Yang ketiga emak-emak adalah bendahara keluarga. Anak-anak milenial mudah mendapatkan informasi tentang BBM ramah lingkungan, mereka tahu perbedaan premium, pertalite dan pertamax seperti yang sudah disampaikan di awal tapi kan mereka tetap minta uang bensin pada emak. Meski BBM ramah lingkungan sedikit lebih mahal tapi ya itu tadi, kembali lagi kepada ini perintah emak loh. Kalau emak sudah perintah dan beri uang beli bensin BBM ramah lingkungan, si anak kan harus siap laksanakan.

 Lima Cara Besar Emak Milenial Dukung Langit Biru

    Lima cara ini saya sarikan dari sharing Ibu Citra Dyah Prastuti yang mewakili jurnalis dan  Mbak Olga Lydia yang adalah influencer dan aktivis lingkungan yang juga ikut dalam diskusi publik penggunaan BBM ramah lingkungan tersebut tentang hal-hal kecil tapi berdampak besar yang dapat menciptakan lingkungan bebas polusi yang semuanya itu sebenarnya paling banyak dilakukan oleh emak-emak milenial.

5. Mengurangi Belanja On Line

     Selama pandemi ini memang aktivitas belanja paling banyak dilakukan on line. Tapi pernah gak sih emak-emak perhatikan plastik sampah yang menumpuk dari belanja on line ini. Mulai dari isolatifnya, buble wrap dan kemasannya. Yang kemarin-kemarin itu sudah berhasil mengurangi plastik sekali pakai dan bangganya membawa wadah plastik bermerek untuk wadah berbelanja. Yuk, kita mulai lagi ya Mak.

4. Berpikir Dua Kali Untuk Setiap Kata Diskon

    Siapa sih emak-emak yang gak suka di kasih diskon. Apalagi kalau belanja baju, sudah bagus, murah eh dapat bonus diskon lagi. Tapi mari selektif ya emak, jangan karena diskon, eh kita mabuk memborong semua, Padahal baju diskonan bulan lalu saja belum kepakai, masih tergantung cantik di lemari. Karena untuk produksi satu baju saja memerlukan bergalon-galon air loh Mak.

3. Mengatur Makanan Keluarga Tidak Bersisa

    Seperti informasi yang dibaca oleh Mbak Olga bahwa emisi yang dihasilkan sampah sisa makanan urutan ke-4 dunia. Bahkan informasi dari Tirto.id, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara produsen sampah pangan terbanyak di dunia. Selain bijak mengonsumsi makanan, emak juga harus bijak menyimpan pangan dengan benar dan tentu saja kreatif mengolah sisa bahan makanan.

 2. Menanam pohon dan bunga

    Membuat taman di rumah selain dapat menyalurkan hobi, dapat juga mempercantik dan melengkapi arsitektur rumah. Menjadi tempat bermain dan belajar anak, juga tempat kita melepas penat dan menyegarkan tubuh. Taman juga menjadi area resapan air hujan dan dreinase serta yang paling pasti menghasilkan oksigen serta menyaring polusi udara.

 1. Beralih ke BBM Ramah Lingkungan

    BBM ramah lingkungan itu memakai skala pengukuran tingkat ketahanan suatu jenis bahan bakar jenis bensin dalam menerima kompresi atau yang sering disebut dengan Research Octane Number (RON).

    Bahan bakar minyak ( BBM) yang dijual di Indonesia memang terbagi menjadi beberapa jenis, dengan nilai oktan atau yang berbeda-beda. Berikut rinciannya:

1. Premium dengan nilai oktan 88

2. Pertalite dengan nilai oktan 90

3. Pertamax dengan nilai oktan 92

4. Pertamax Turbo dengan nilai oktan 98

    Prinsipnya semakin tinggi nilai oktan yang ada pada BBM maka bahan bakar akan terbakar dengan sempurna efeknya ketukan akan lebih jarang terjadi sehingga mesin pun jadi lebih awet. Selain itu emisi gas buangan dari kendaraan bermotor juga akan semakin sedikit sehingga menjadi lebih ramah lingkungan.

    Sulitnya semakin tinggi nilai oktannya semakin tinggi pula harganya sehingga pembeli lebih cenderung memilih harga BBM yang lebih murah. Langkah yang dilakukan Pertamina adalah membatasi penyedian premium dan memperbanyak pertalite. Maka BBM yang tersedia di masyarakat lewat penjual eceran atau pertamini kebanyakan adalah pertalite. Pertamina juga memberikan diskon sehingga harga pertalite tidak jauh beda dengan premium. Sayangnya pemberian diskon ini masih di Pulau Jawa saja dan akan bertahap ke daerah-daerah.

    Program langit biru Pertamina dengan menyediakan BBM ramah lingkungan di Jawa dianggap berhasil dan akan diteruskan ke daerah-daerah lainnya. Dan akan semakin berhasil lagi jika setiap emak di rumah-rumah seluruh Indonesia mau mengurangi belanja on line, berpikir dua kali untuk diskon, mengatur makanan keluarga tidak bersisa, membuat taman dan membeli BBM ramah lingkungan.

Semoga

Salam langit biru