Saya membuat survei kecil-kecilan lewat google formulir terhadap komunitas-komunitas di sekitar saya lewat grup Wa yang karena pandemi ini memudahkan kita memohon izin berbagi link saja. Ternyata 76% pun belum pernah mendengar program langit biru. Responden yang 73% berjenis kelamin laki-laki dengan rentang usia 10—20 tahun ini sebenarnya sudah ikut melakukan program langit biru tanpa mereka ketahui dengan memilih BBM ramah lingkungan yaitu memilih pertalite sebesar 73%, bahkan ketika ditanya apa perbedaan premium, pertalite dan pertamax, masing-masing memberi jawaban panjang dengan sukarela seperti berikut :
1. Dari segi
harga : Premium; harga nya murah,dan jarang terdapat di kedai eceran.
Pertalite:harga nya terjangkau dan banyak yang menjualnya di kedai eceran,
Pertamini,dll. Pertamax:harganya lumayan mahal dan hanya terjual di Pertamina,
jarang kita temui di Pertamini, kedai eceran, karena jarang orang membelinya”.
2. Dari segi
manfat : “Premium ; mengeluarkan polusi dalam jumlah besar. Pertalite ; mengeluarkan
polusi dalam jumlah sedikit. Pertamax ; mengeluarkan polusi dalam jumlah sangat
sedikit”.
“Pertalite harganya murah dan lebih irit sedangkan premium bahan bakarnya bersih dalam tangki. kalau Pertamax kualitas lebih tinggi harganya pun mahal serta asapnya tidak banyak”.
![]() |
Diskusi Publik
Kampanye BBM Ramah Lingkungan
Saya mengikuti diskusi publik yang diselenggarakan KBR (Kantor
Berita Radio) berkolaborasi dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)
untuk mengampanyekan kepada masyarakat penggunaan BBM ramah lingkungan, yang
diadakan 3 Maret 2021 lalu pukul 08.00-12.00 via Zoom Meeting, Facebook YLKI
dan Youtube KBR.
Tujuan dialog publik ini seperti
yang disampaikan oleh Tulus Abadi, Ketua pengurus harian YLKI adalah :
1. Concern YLKI mewujudkan pola konsumsi berkelanjutan
dan BBM ramah lingkungan sejalan dengan pola konsumsi berkelanjutan.
2. Sebagai
bentuk kritik dan keprihatinan atas lambatnya dan inkonsistensi pemerintah
dalam mewujudkan program langit biru dan BBM ramah lingkungan.
3. Sebagai
dukungan dan dorongan kepada regulator terutama Pemda, operator PT Pertamina
dan masyarakat agar konsisten mewujudkan BBM ramah lingkungan.
Diskusi publik ini menghadirkan
perwakilan pemda di wilayah sumatera seperti Provinsi Sumatra Utara, Riau,
Lampung, Kep. Bangka Belitung, dan Maluku. Selain itu diikuti juga jurnalis
media, pers mahasiswa dan blogger untuk lebih menggaungkan PBL ini lebih luas
ke masyarakat. Semakin krusial sebuah isu maka akan semakin banyak
diperbincangkan masyarakat. Semakin banyak masyarakat yang kritis maka akan
semakin banyak mendesak pemerintah lebih serius menangani real pandemi ini sama
seperti Perpres miras yang bisa selesai hanya tiga hari.
Napak Tilas Progam Langit Biru
Program langit
biru digaungkan sejak 25 tahun silam oleh Kementerian Lingkungan Hidup melalui
Permen LH No. 15/1996 dan Kepmen LH No 141 /2003 yang mengatur emisi gas buang
motor pada ranmor (BBM standar Euro 2). Program langit biru bertujuan
mengantisipasi krisis lingkungan akibat polusi udara yang dicetuskan oleh
barang tidak bergerak seperti asap pabrik ataupun barang bergerak seperti asap
kendaraan bermotor.
Berbagai usaha
dilakukan oleh kementerian dan pihak lainnya untuk mendukung program ini
khususnya oleh Pertamina dengan program BBM ramah lingkungan karena 75%
penyumbang polusi udara buruk adalah asap kendaraan bermotor yang BBM-nya tidak
ramah lingkungan. Tetapi berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah jalan di
tempat sebab adanya tarik ulur pengusaha dan penguasa. Masalah-masalah krusial
seolah-olah tiada henti mulai dari ketersediaan BBM, distribusi ke
daerah-daerah sampai kepada harga BBM itu sendiri.
Nah, apakah kita
menyerah dengan berbagai masalah tersebut? Tidak dong. Semua pihak harus aktif
ambil bagian termasuk emak-emak. Mengapa emak-emak juga harus ikut? ya iya dong
karena emak-emak ini paling ramai bersuara. Jika emak-emak sudah ribut maka
banyak pihak akan mendengar dan merespon. Tapi saya bukan cerita emak-emak
bersuara untuk demonstrasi tapi emak-emak bersuara melalui life style mencintai
lingkungan untuk menjadikan langit di rumah masing-masing tetap biru, untuk
udara di lingkungan tetap sehat. Sebab anak-anak sehat tanpa polusi adalah
generasi sehat bangsa Indonesia.
Peran Penting Emak Milenial Ciptakan Langit Biru
Emak milineal itu lebih cerdas
dan terbuka karena berlatar belakang pendidikan tinggi. Cerdas, terbuka dan
kritis juga terhadap isu lingkungan. Emak milineal yang selalu identik dengan
hape di tangan dengan mudah berselancar di internet untuk mendapatkan
informasi. Nah, seharusnyalah emak-emak ini men-connecting-kan krisis
iklim ini sebagai krisisnya juga. Emak-emak bukan sekadar gengsi dan
ikut-ikutan beli dan tanam bunga aglo atau keladi yang sedang viral itu tapi
dapat melihat lebih besar lagi dari itu. Ketika emak sadar bahwa menanam
bunga/pohon, selain mempercantik rumah juga akan membuat udara rumah segar. Udara
segar di sekitar rumah tidak akan membuat penghuni rumah mengantuk. Jika penghuni
rumah sehat maka semua akan produktif. Jika udara rumahnya sehat maka ia ikut
menyumbang udara bersih di Indonesia dan dunia. Bahkan lebih dari itu, merawat
bumi adalah kewajiban dan haram hukumnya merusak alam, jadi bukan hanya miras
saja yang haram sehingga emak-emak pada sewot.
Jika emak-emak sudah aware bahwa kita dalam bahaya polusi udara, maka emak-emak paling banyak bisa
berbuat. Yang pertama emak bisa mengedukasi keluarga. Edukasi ini akan disertai
otoritas dalam bentuk perintah harus begini, harus begitu kepada suami dan
anak-anaknya. Yang kedua adalah banyak hal-hal kecil pekerjaan rumah tangga
yang sebenarnya bisa dilakukan di rumah untuk menjaga lingkungan bersih seperti
memilih make up ramah lingkungan, detergen ramah lingkungan, sampai kepada
makanan ramah lingkungan. Yang ketiga emak-emak adalah bendahara keluarga.
Anak-anak milenial mudah mendapatkan informasi tentang BBM ramah lingkungan,
mereka tahu perbedaan premium, pertalite dan pertamax seperti yang sudah
disampaikan di awal tapi kan mereka tetap minta uang bensin pada emak. Meski
BBM ramah lingkungan sedikit lebih mahal tapi ya itu tadi, kembali lagi kepada
ini perintah emak loh. Kalau emak sudah perintah dan beri uang beli bensin BBM
ramah lingkungan, si anak kan harus siap laksanakan.
Lima
Cara Besar Emak Milenial Dukung Langit Biru
Lima cara ini
saya sarikan dari sharing Ibu Citra Dyah Prastuti yang mewakili jurnalis dan Mbak
Olga Lydia yang adalah influencer dan aktivis lingkungan yang juga ikut dalam
diskusi publik penggunaan BBM ramah lingkungan tersebut tentang hal-hal kecil tapi berdampak
besar yang dapat menciptakan lingkungan bebas polusi yang semuanya itu sebenarnya
paling banyak dilakukan oleh emak-emak milenial.
5. Mengurangi Belanja On Line
Selama pandemi ini memang
aktivitas belanja paling banyak dilakukan on line. Tapi pernah gak sih
emak-emak perhatikan plastik sampah yang menumpuk dari belanja on line ini.
Mulai dari isolatifnya, buble wrap dan kemasannya. Yang kemarin-kemarin itu
sudah berhasil mengurangi plastik sekali pakai dan bangganya membawa wadah
plastik bermerek untuk wadah berbelanja. Yuk, kita mulai lagi ya Mak.
4. Berpikir Dua Kali Untuk Setiap Kata Diskon
Siapa sih emak-emak yang gak
suka di kasih diskon. Apalagi kalau belanja baju, sudah bagus, murah eh dapat
bonus diskon lagi. Tapi mari selektif ya emak, jangan karena diskon, eh kita
mabuk memborong semua, Padahal baju diskonan bulan lalu saja belum
kepakai, masih tergantung cantik di lemari. Karena untuk produksi satu baju
saja memerlukan bergalon-galon air loh Mak.
3. Mengatur Makanan Keluarga Tidak Bersisa
Seperti
informasi yang dibaca oleh Mbak Olga bahwa emisi yang dihasilkan sampah sisa
makanan urutan ke-4 dunia. Bahkan informasi dari Tirto.id, Indonesia menempati
peringkat kedua sebagai negara produsen sampah pangan terbanyak di dunia.
Selain bijak mengonsumsi makanan, emak juga harus bijak menyimpan pangan dengan benar
dan tentu saja kreatif mengolah sisa bahan makanan.
2. Menanam pohon
dan bunga
Membuat taman di rumah selain dapat
menyalurkan hobi, dapat juga mempercantik dan melengkapi arsitektur rumah. Menjadi
tempat bermain dan belajar anak, juga tempat kita melepas penat dan menyegarkan
tubuh. Taman juga menjadi area resapan air hujan dan dreinase serta yang paling
pasti menghasilkan oksigen serta menyaring polusi udara.
1. Beralih ke BBM Ramah Lingkungan
BBM ramah lingkungan itu memakai
skala pengukuran tingkat ketahanan suatu jenis bahan bakar jenis bensin dalam
menerima kompresi atau yang sering disebut dengan Research Octane Number (RON).
Bahan bakar minyak ( BBM) yang
dijual di Indonesia memang terbagi menjadi beberapa jenis, dengan nilai oktan
atau yang berbeda-beda. Berikut rinciannya:
1. Premium dengan
nilai oktan 88
2. Pertalite dengan
nilai oktan 90
3. Pertamax dengan
nilai oktan 92
4. Pertamax
Turbo dengan nilai oktan 98
Prinsipnya semakin tinggi nilai oktan yang ada pada BBM maka bahan bakar akan terbakar dengan sempurna efeknya ketukan akan lebih jarang terjadi sehingga mesin pun jadi lebih awet. Selain itu emisi gas buangan dari kendaraan bermotor juga akan semakin sedikit sehingga menjadi lebih ramah lingkungan.
Sulitnya semakin tinggi nilai oktannya semakin tinggi pula harganya sehingga pembeli lebih cenderung memilih harga BBM yang lebih murah. Langkah yang dilakukan Pertamina adalah membatasi penyedian premium dan memperbanyak pertalite. Maka BBM yang tersedia di masyarakat lewat penjual eceran atau pertamini kebanyakan adalah pertalite. Pertamina juga memberikan diskon sehingga harga pertalite tidak jauh beda dengan premium. Sayangnya pemberian diskon ini masih di Pulau Jawa saja dan akan bertahap ke daerah-daerah.
Program langit
biru Pertamina dengan menyediakan BBM ramah lingkungan di Jawa dianggap
berhasil dan akan diteruskan ke daerah-daerah lainnya. Dan akan semakin
berhasil lagi jika setiap emak di rumah-rumah seluruh Indonesia mau mengurangi
belanja on line, berpikir dua kali untuk diskon, mengatur makanan keluarga
tidak bersisa, membuat taman dan membeli BBM ramah lingkungan.
Semoga
Salam langit
biru









