Curhatan Bunda

Jumat, 26 Februari 2016

URGENSI HUBUNGAN IESQ GURU DENGAN KOMITMEN NORMATIF GURU



Kecerdasan IQ (intellectual space) adalah potensi kecerdasan mengacu kepada kecepatan dan ketepatan memahami dan menyelesaikan masalah dengan kemampuan memori, numerik, logika, deduktif dan induktif. Kecerdasan intelektual yang diperkenalkan oleh  Alfred Binet pada tahun 1900 telah merumuskan bahwa  kepintaran adalah modal utama untuk mendapatkan kesuksesan. Kecerdasan diukur dengan nilai prestasi di sekolah. Itulah sebabnya orang tua selalu berpetuah ‘rajin belajar supaya rangking satu’.  Nilai dan rangking selalu tertanam bagi anak TK, SD, SMP, SMA, bahkan Sarjana. Demi mendapatkan nilai 100, terkadang berbagai hal ‘tak patut’ dilaksanankan karena tuntutan masyarakat pun demikian. Termasuk untuk mencari pekerjaan “Berapa Indeks Prestasi (IP) Anda ?”
Kemudian datang teori baru lagi bahwa Kecerdasan Emosi /Emotional Space (EQ) yang paling penting. Teori yang diperkenalkan oleh oleh Daniel Goleman tahun 1995  menghasilkan penelitian bahwa tidak cukup hanya cerdas IQ tetapi cerdas emosi  (EQ) juga. Mereka yang dulu selalu juara umum atau yang masuk sepuluh besar di bangku sekolah,  ujung-ujungnya hanya menjadi guru dan dosen dan cukup puas hanya sampai di situ. Tetapi justru anak yang biasa saja nilainya, yang dianggap paling bodoh, yang menduduki rangking terakhir atau yang dikelurkan dari sekolah atau kampus justru merekalah yang mendulang sukses menjadi pengusaha-pengusaha hebat, misalnya pendiri Microsoft, Bill Gates. Siapa yang bisa menyadari perasaan diri, mengelola suasana hati, mengendalikan perasaan negatif, memahami perasaan orang lain dan membangun hubungan dengan orang lain itulah yang menggapai sukses.
Teori terbaru muncul lagi,  Kecerdasan Spritual/Spiritual Space  (SQ) pada tahun 2000 oleh Danah Zohar.  Kecerdasan spritual adalah potensi kecerdasan mengacu kepada sifat-sifat mulia dan nilai-nilai kemanusiaan, meliputi membiasakan diri tetap sabar menghargai orang lain, bertahan melakukan yang baik terhadap sesama, tetap setia menjalankan ajaran agama yang dianut, mengedepakan sifat-sifat mulia dan nilai-nilai kemanusiaan.
 Indonesia tidak ketinggalan dengan perkembangan tersebut. Ini tampak sekali tertuang dalam kurikulum pendidikan.  Kurikulum 1974 - kurikulum 1994 masih mengutamakan kecerdasan intelegensia. Kurikulum 2004 dan 2006 menekankan kepada kompetensi dan  kurikulum karakter dan kemudian menerapkan kurikulum K13. K13 mengintegrasikan kecerdesan spritual (K1), kecerdesan emosi (K2) terhadap kecerdesan pengetahuan (K3) dan  dan kecerdesan kompetensi (k4). Penulis sangat setuju dengan K 13 ini. Alasannya dapat dibaca di sini  
Lalu, apakah dengan berbagai kecerdasan ini (IESQ) mutu pendidikan semakin baik ?
 “Pendidikan Indonesia dalam gawat darurat” ujar menteri pendidikan Anies Baswedan di hadapan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten /Kota se-Indonesia, Senin (1/12/2014)  :
1.      Sebanyak 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan. 
2.      Nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5. Padahal, nilai standar kompetensi guru adalah 75. 
3.      Indonesia masuk dalam peringkat 40 dari 40 negara, pada pemetaan kualitas pendidikan, menurut lembaga The Learning Curve. 
4.      Dalam pemetaan di bidang pendidikan tinggi, Indonesia berada di peringkat 49, dari 50 negara yang diteliti. 
5.      Pendidikan Indonesia masuk dalam peringkat 64, dari 65 negara yang dikeluarkan oleh lembaga Programme for International Study Assessment (PISA), pada tahun 2012. Anies mengatakan, tren kinerja pendidikan Indonesia pada pemetaan PISA pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan 2012, cenderung stagnan. 
6.      Indonesia menjadi peringkat 103 dunia, negara yang dunia pendidikannya diwarnai aksi suap- menyuap dan pungutan liar. Selain itu, Anies mengatakan, dalam dua bulan terakhir, yaitu pada Oktober hingga November, angka kekerasan yang melibatkan siswa di dalam dan luar sekolah di Indonesia mencapai 230 kasus.

Tulisan ini akan mengulas apakah kecerdasan IESQ guru Indonesia mampu menjawab masasalah pendidikan Indonesia. 
Berbagai penelitian yang melihat hubungan kecerdasan spritual dengan tingkat kinerja, diantaranya adalah Trihandini, R.A Fabiola Meirnayati (2005) Analisis Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosi, dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Kasus pada Hotel Horison Semarang). Masters Thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro menjelaskan “Implikasi pada penelitian ini adalah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual memiliki peran yang sama penting baik secara individu atau secara bersama-sama dalam meningkatkan kinerja karyawan”.
Melihat urgensi IESQ terhadap mutu pendidikan, sewajarnya konsep ini diterapkan pada kurikulum pendidikan. Bersyukur hal ini mulai diserap kurikulum 13 yang akan diajarkan pada anak-anak Indonesia. Tetapi konsep IESQ ini harus diterapkan terlebih dahulu pada guru-gurunya. Sudah sampai dimana kualitas guru Indonesia?
Pemerintah masih sibuk berbenah pada peningkatan kompetensi guru. Malaysia sudah sejak tahun 1900-an mengharuskan gurnya S1. Indonesia baru dimulai  sejak pemberlakuan UU No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Berbagai konsep dan gaya dirancang untuk melihat metode apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki guru terlebih setelah melihat hasil UKG  tahun 2015 lalu bahwa nilai rata-rata guru Indonesia adalah 55
Adakah jaminan bahwa kompetensi guru akan semakin membaik? Baiklah kita harus optimis akan tercapai kompetensi guru nasional dengan nilai rata-rata 65 tahun 2016.  Lalu apakah semua nilai di atas akan menjamin pendidikan semakin baik ?
Guru harus dikembalikan kepada esensinya sebagai guru. Bukan hanya kepada perbaikan teknik mengajar tetapi lebih kepada semangat guru (respritualisasi guru). Bukan hanya sekedar peningkatan kompetensi tetapi bagaiman tetap memelihara ‘ruh pendidikan’. Inilah yang terlupakan, lupa pada esensi. Seperti lupa pada esensi makanan adalah menyehatkan bukan sekedar enak, nikmat dan kenyang. Guru harus kembali pada esensi mendidik adalah mengubah karakter. The end of education is character. Education without character, this is the basis for all misery in the world.
Bukan tidak cerdas guru-guru Indonesia, terlebih sangat cerdas spritual. Sebagai negara yang berkeTuhanan Maha Esa, masyarakatnya diwarnai nila-nilai spritualitas termasuk guru-gurunya. Spritualitas  didapat dan dipelajari di rumah bersama orang tua dan keluarga, di lingkungan bertetangga dan di rumah ibadah masing-masing. Tetapi semua menjadi nol karena siswa tidak melihat itu di sekolah. Siswa gagal melihat ‘ajaran’ tersebut di dalam guru. Guru gagal membari contoh.
Larangan jangan mencuri sebagai perintah agama diterapkan di ruang belajar dengan perintah ‘jangan mencontek’.  Nyatanya guru yang memberikan jawaban Ujian Nasional. Lalu guru membela diri dengan alasan ini sudah ‘tersistem’, bila tidak bisa dipecat bagi guru swasta atau dimutasi ke daerah terpencil bila guru PNS. Beraikah guru keluar dari sistem ini ?
Ajaran untuk selalu iklas memberi seharusnya sangat dinikmati guru, tetapi menjadi ruwet melalui sertifikasi guru dengan berbagai polemiknya sertifikasi-guru) Beranikah guru berkata tidak untuk sistem yang tidak benar ini?
            Banyak lagi permasalahan pendididikan Indonesia yang semuanya bisa dikembalikan bila guru berani kembali pada esensinya. Guru dengan kecerdasan IESQ adalah guru dengan kepribadian berbasis kecerdasan terpadu. Potensi kecerdesan terpadu (IESQ) akan menghasilkan sikap positif, mindset esensi dan komitmen normatif guru. Komitmen normatif guru adalah kesetiaan total memberhasilkan semua pihak yaitu keberhasilan lembaga, keberhasilan siswa dan keberhasilan guru.
Hotdiana Nababan, mahasiswa pascasarjana Unimed, 2016.











Selasa, 23 Februari 2016

SIKAP ILMIAH YANG HARUS DIMILIKI SEORANG MAHASISWA (PASCASARJANA)

SIKAP ILMIAH YANG HARUS DIMILIKI SEORANG MAHASISWA (PASCASARJANA)
1.             Jangan malas berpikir
Tulisan ini berangkat dari sebuah tugas kuliah  menuliskan sikap ilmiah dalam hidup keseharian. Hanya 2-3 lembar. Mudah saja, tinggal ketik di Google ‘sikap ilmiah dalam hidup sehari-hari’, maka bermunculan berbagai halaman web, situs atau blog. Dari tujuh blog yang saya buka, ada empat blog yang isinya sama.  



Ternyata sesaat saja saya bertanya pada otak saya, apa contoh sikap ilmiah dalam kehidupan sehari-hari? Langsung saja otak mengeluarkan sederetan sikap : malas berpikir, malas membaca, malas menguji dan lain-lain. Masa sih untuk tulisan 2-3 halaman saja saya tidak bisa, bagaimana lagi untuk 5-6 lembar untuk tugas Profesor Belferik bahkan untuk berhalaman-halaman makalah tugas kuliah atau berbuku-buku persiapan tesis. Maka, jadilah saya nanti mahasiswa parcasajana copypaste alias ‘tambal sulam’ versi kelas kami.
Harus dipaksanya otak ini berpikir kemudian dituliskan. Biar sajalah apa adanya. Yang penting tuliskan apa yang Anda pikirkan. Bukankah itu definisi menulis? Menuangkan apa yang anda pikirkan?  Berangkat dari definisilah maka Si Facebook menuliskan “Apa yang Anda pikirkan?” setiap kali kita membuka Facebook dan lahirlah berjuta-juta tulisan status.

2.             Jangan malas membaca
Wah, jadi malu saya pada diri sendiri. Betapa berbinar-binarnya mata saya penuh kebahagiaan dan harapan bahwa saya kelak akan seperti dosen-dosen S1 saya yang berangkat kuliah S2 ke Jawa dengan membawa lima ratus buku wow...
Padahal bila saya mempergunakan satu juta biaya buku dari dana beasiswa itu maka saya sudah mendapatkan minimal sepuluh buku per semester dengan asumsi satu buku seratus ribu rupiah ? Pantas saja saya tidak bisa membuat tulisan 2-3 halaman karena inilah penyebabnya itu.
Pantas saja Kompas berkata seperti ini
3.        Jangan malas menguji
Tiap hari kita mendapat ratusan informasi dari sebuah benda ajaib di jemari tangan kata. Hanya sejauh jangkauan jari ternyata dunia ini. Berbagai informasi di media sosial yang bila kita tidak mau menguji akan sesat. Coba bandingkan dua berita ini :


 Maka harus hati-hatilah seorang penulis, bila sesat maka pembacanya akan sesat. Tetapi itu tadilah, wong menulis mudah kok? Cuma menuliskan apa yang Anda pikirkan.

4.        Jangan membeli buku bajakan
Saya pernah menuliskan sebuah surat kepada sebuah perusahaan yang mengirimkan buku-buku bagus ke sekolah sebagai apresiasi mereka terhadap pendidikan. Kecewa saya karena kualitas bukunya nyata sekali bajakan. Bagaimana mungkin satu sisi mereka menghargai  pendidikan dengan mengirim buku tetapi satu sisi menghina pendidikan dengan memberi buku bajakan. Mereka meminta maaf walau akhirnya saya dikecam oleh kepala sekolah karena terlalu berlebihan. Mereka perusahaan besar sibuk mengurusi masalah nasional demi kesejahteraan bangsa. Masa masalah kecil seperti ini harus disampaikan kepada mereka. Saya sama jeleknya juga dengan mereka. Saya ikut juga membajak buku demi alasan kolektif lebih murah. Malu saya.