SIKAP ILMIAH YANG HARUS DIMILIKI
SEORANG MAHASISWA (PASCASARJANA)
1.
Jangan malas berpikir
Tulisan ini berangkat
dari sebuah tugas kuliah menuliskan
sikap ilmiah dalam hidup keseharian. Hanya 2-3 lembar. Mudah saja, tinggal
ketik di Google ‘sikap ilmiah dalam
hidup sehari-hari’, maka bermunculan berbagai halaman web, situs atau blog. Dari
tujuh blog yang saya buka, ada empat blog yang isinya sama.
Ternyata
sesaat saja saya bertanya pada otak saya, apa contoh sikap ilmiah dalam
kehidupan sehari-hari? Langsung saja otak mengeluarkan sederetan sikap : malas
berpikir, malas membaca, malas menguji dan lain-lain. Masa sih untuk tulisan
2-3 halaman saja saya tidak bisa, bagaimana lagi untuk 5-6 lembar untuk tugas Profesor
Belferik bahkan untuk berhalaman-halaman makalah tugas kuliah atau berbuku-buku
persiapan tesis. Maka, jadilah saya nanti mahasiswa parcasajana copypaste alias ‘tambal sulam’ versi
kelas kami.
Harus dipaksanya
otak ini berpikir kemudian dituliskan. Biar sajalah apa adanya. Yang penting
tuliskan apa yang Anda pikirkan. Bukankah itu definisi menulis? Menuangkan apa
yang anda pikirkan? Berangkat dari
definisilah maka Si Facebook
menuliskan “Apa yang Anda pikirkan?” setiap kali kita membuka Facebook dan lahirlah berjuta-juta
tulisan status.
2.
Jangan malas membaca
Wah, jadi malu
saya pada diri sendiri. Betapa berbinar-binarnya mata saya penuh kebahagiaan
dan harapan bahwa saya kelak akan seperti dosen-dosen S1 saya yang berangkat
kuliah S2 ke Jawa dengan membawa lima ratus buku wow...
Padahal bila
saya mempergunakan satu juta biaya buku dari dana beasiswa itu maka saya sudah
mendapatkan minimal sepuluh buku per semester dengan asumsi satu buku seratus
ribu rupiah ? Pantas saja saya tidak bisa membuat tulisan 2-3 halaman karena
inilah penyebabnya itu.
Pantas
saja Kompas berkata seperti ini
3.
Jangan malas menguji
Tiap hari kita mendapat
ratusan informasi dari sebuah benda ajaib di jemari tangan kata. Hanya sejauh
jangkauan jari ternyata dunia ini. Berbagai informasi di media sosial yang bila
kita tidak mau menguji akan sesat. Coba bandingkan dua berita ini :
Maka harus
hati-hatilah seorang penulis, bila sesat maka pembacanya akan sesat. Tetapi itu
tadilah, wong menulis mudah kok? Cuma
menuliskan apa yang Anda pikirkan.
4.
Jangan membeli buku bajakan
Saya pernah
menuliskan sebuah surat kepada sebuah perusahaan yang mengirimkan buku-buku
bagus ke sekolah sebagai apresiasi mereka terhadap pendidikan. Kecewa saya
karena kualitas bukunya nyata sekali bajakan. Bagaimana mungkin satu sisi
mereka menghargai pendidikan dengan
mengirim buku tetapi satu sisi menghina pendidikan dengan memberi buku bajakan.
Mereka meminta maaf walau akhirnya saya dikecam oleh kepala sekolah karena
terlalu berlebihan. Mereka perusahaan besar sibuk mengurusi masalah nasional
demi kesejahteraan bangsa. Masa masalah kecil seperti ini harus disampaikan
kepada mereka. Saya sama jeleknya juga dengan mereka. Saya ikut juga membajak
buku demi alasan kolektif lebih murah. Malu saya.







0 komentar:
Posting Komentar