Curhatan Bunda

Selasa, 23 Februari 2016

SIKAP ILMIAH YANG HARUS DIMILIKI SEORANG MAHASISWA (PASCASARJANA)

SIKAP ILMIAH YANG HARUS DIMILIKI SEORANG MAHASISWA (PASCASARJANA)
1.             Jangan malas berpikir
Tulisan ini berangkat dari sebuah tugas kuliah  menuliskan sikap ilmiah dalam hidup keseharian. Hanya 2-3 lembar. Mudah saja, tinggal ketik di Google ‘sikap ilmiah dalam hidup sehari-hari’, maka bermunculan berbagai halaman web, situs atau blog. Dari tujuh blog yang saya buka, ada empat blog yang isinya sama.  



Ternyata sesaat saja saya bertanya pada otak saya, apa contoh sikap ilmiah dalam kehidupan sehari-hari? Langsung saja otak mengeluarkan sederetan sikap : malas berpikir, malas membaca, malas menguji dan lain-lain. Masa sih untuk tulisan 2-3 halaman saja saya tidak bisa, bagaimana lagi untuk 5-6 lembar untuk tugas Profesor Belferik bahkan untuk berhalaman-halaman makalah tugas kuliah atau berbuku-buku persiapan tesis. Maka, jadilah saya nanti mahasiswa parcasajana copypaste alias ‘tambal sulam’ versi kelas kami.
Harus dipaksanya otak ini berpikir kemudian dituliskan. Biar sajalah apa adanya. Yang penting tuliskan apa yang Anda pikirkan. Bukankah itu definisi menulis? Menuangkan apa yang anda pikirkan?  Berangkat dari definisilah maka Si Facebook menuliskan “Apa yang Anda pikirkan?” setiap kali kita membuka Facebook dan lahirlah berjuta-juta tulisan status.

2.             Jangan malas membaca
Wah, jadi malu saya pada diri sendiri. Betapa berbinar-binarnya mata saya penuh kebahagiaan dan harapan bahwa saya kelak akan seperti dosen-dosen S1 saya yang berangkat kuliah S2 ke Jawa dengan membawa lima ratus buku wow...
Padahal bila saya mempergunakan satu juta biaya buku dari dana beasiswa itu maka saya sudah mendapatkan minimal sepuluh buku per semester dengan asumsi satu buku seratus ribu rupiah ? Pantas saja saya tidak bisa membuat tulisan 2-3 halaman karena inilah penyebabnya itu.
Pantas saja Kompas berkata seperti ini
3.        Jangan malas menguji
Tiap hari kita mendapat ratusan informasi dari sebuah benda ajaib di jemari tangan kata. Hanya sejauh jangkauan jari ternyata dunia ini. Berbagai informasi di media sosial yang bila kita tidak mau menguji akan sesat. Coba bandingkan dua berita ini :


 Maka harus hati-hatilah seorang penulis, bila sesat maka pembacanya akan sesat. Tetapi itu tadilah, wong menulis mudah kok? Cuma menuliskan apa yang Anda pikirkan.

4.        Jangan membeli buku bajakan
Saya pernah menuliskan sebuah surat kepada sebuah perusahaan yang mengirimkan buku-buku bagus ke sekolah sebagai apresiasi mereka terhadap pendidikan. Kecewa saya karena kualitas bukunya nyata sekali bajakan. Bagaimana mungkin satu sisi mereka menghargai  pendidikan dengan mengirim buku tetapi satu sisi menghina pendidikan dengan memberi buku bajakan. Mereka meminta maaf walau akhirnya saya dikecam oleh kepala sekolah karena terlalu berlebihan. Mereka perusahaan besar sibuk mengurusi masalah nasional demi kesejahteraan bangsa. Masa masalah kecil seperti ini harus disampaikan kepada mereka. Saya sama jeleknya juga dengan mereka. Saya ikut juga membajak buku demi alasan kolektif lebih murah. Malu saya.


0 komentar:

Posting Komentar