Curhatan Bunda

Kamis, 06 Oktober 2016

Kita dan Surat Lamaran

Kita dan Surat Lamaran

Siswa saling membantu


"Pelajaran pagi ini adalah menulis surat lamaran kerja. Pelajaran ini diberikan untuk siswa kelas XII karena menulis surat lamaran menjadi kebutuhan kalian setelah lulus SMK ini, apalagi alumni SMK dipersiapkan untuk kebutuhan pasar kerja. Sebelum kita belajar bagaimana susunan atau struktur surat lamaran dan bahasanya, Ibu akan bercerita terlebih dahulu mengapa harus bekerja dan pekerjaan apa yang tepat untuk kita masing-masing. Mau mendengar cerita Ibu?", ujarku membuka kelas pagi itu.

“Adalah seorang pemuda yang sama dengan usia kalian. Namannya Alex PMD atau Alex pemuda masa depan..( dan aku mulai puas dan semangat atas senyum ketertarikan mereka). Alex sedang bingung akan ke mana dia setelah tamat SMK, kuliah atau kerja.....” ceritaku sembari menyisipkan pesan moral bagi mereka.

Seringkali guru langsung mempelajari bagian surat lamaran, di mulai dari tanggal, perihal, lampiran, alamat dalam, salam pembuka dan seterusnya. Langsung kepada contoh surat lamaran dan kalimat yang sering salah dalam surat lamaran.  Bila hanya teori, anak-anak dengan cepat mendapatkan dan menghapalkannya dari google tetapi yang paling sulit adalah untuk apa mereka belajar hal itu? Mencoba mengaitkan bahwa materi yang akan dipelajari sangat dibutuhkan mereka dalam hidup.

 Menarik minat siswa untuk mempelajarinya merupakan bagian yang sering terlupakan oleh guru dan itulah perlunya guru persiapan dengan banyak membaca apalagi sudah sangat dimudahkan dengan informasi sejangkaun jari di Android masing-masing. Misalnya, "Anak-anak sepanjang jalan usia Ibu menjadi guru, materi yang paling sering dikeluarkan di Ujian Nasional adalah ini dan minimal lima soal hanya dari contoh kalimat yang sering salah dalam surat lamaran”. Bukankah  sesuai dengan kebutuhan mereka ?

Setelah yakin anak-anak memahami semua teori melalui hasil koreksian masing-masing surat lamaran mereka dengan nilai 100, biasanya saya tidak cukup puas sampai di situ. Saya akan tuntut mereka untuk bisa mengirimkan surat lamaran ke email saya, sepuluh orang pengirim pertama akan mendapat nilai 100. Lagi-lagi ini kendala besar : tidak semua mereka punya laptop dari 30 siswa biasanya hanya lima siswa yang punya. Maka biasanya saya sarankan mereka mengirimnya di warnet. 

Daftar siswa yang mengirmkan surat lamarannya melalui email

Eh, permasalahan lain muncul lagi, tidak semua mereka bisa buat email. Maka saya menjadi heran, bagaimana mungkin tidak bisa membuat email, bukankah membuat akun baru facebook meminta alamat email. Padahal dari 30 siswa 20 diantaranya punya akun facebook yang mereka pakai lewat ponsel cerdas mereka.  Saya mendapatkan data ini karena saya memang membuka pertemanan dengan mereka. Selain saya bisa  mengawasi perilaku mereka di dunia nyata dan dunia maya maka FB juga akan saya jadikan media belajar.

Maka saya mencoba mendekati guru TIK mereka supaya diajari membuat email. Ketepatan guru TIK-nya adalah teman baik saya. Kami berteman baik karena satu pikiran dan satu semangat bahwa mengajar harus sepenuh hati dan menghadapi tantangan apa pun demi anak didik yang lebih baik. Waduh, guru TIK juga kewalahan dengan pelbagai permasalahannya. Dibawa ke lab komputer, hanya beberapa komputernya yang sehat belum lagi akses internet yang terbatas. (Semoga XL memberi wifi gratis untuk tiap sekolah) Gurunya lalu berinisiatif memakai paket data sendiri di kelas. Eh, tiba hendak pakai in fokus supaya bisa klasikal, eh, perlu birokrasi prosedur peminjaman alat-alat sekolah. Tak putus asa gurunya tetap lanjut dengan sebuah laptop guru dan satu per satu anak praktik membuat email. Lha, kapan materi TIK akan dituntaskan sebab hanya untuk membuat email saja memakan waktu beberapa kali pertemuan di luar rancangan pembelajaran. Maka kami sepakati, “Belajar pada yang bisa, bahkan bila tidak bisa juga, boleh titip email teman”, dan sekali lagi harus dengan memotivasi mereka terlebih dahulu.

Guru harus melek perubahan masa dan melihat apa yang menjadi kebutuhan mereka. "Walau kita di kota kecil, tidak boleh ketinggalan zaman, karena zaman sekarang dikit-dikit on line. Ujian Nasional on line, ujian CPNS juga on line, data guru on line, data siswa on line. Pokoknya dikit-dikit on line”, seruku menegaskan. Maka saya minta mereka men-scan surat lamaran mereka lalu mengirimkannya dalam bentuk PDF ke email saya. 
Surat Lamaran yang sudah discan siswa


Tak bisa dipungkiri bahwa kemajuan TIK ada di depan mata, dekat dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam mengajar. Guru harus melek IT. Guru harus belajar. Indonesia makin digital lewat guru. Membangun Indonesia lewat guru digital. Guru digital adalah kita. #KitaIndonesia.


0 komentar:

Posting Komentar