Curhatan Bunda

Senin, 23 Januari 2017

PENERBANGAN PERTAMAKU MELEWATI DUA BENUA, TIGA NEGARA, LIMA KOTA, DAN WAKTU 26 JAM

Sebenarnya saya ini baru belajar memakai Instagram. Saking barunya, saya hanya bisa upload foto di Instagram melalui android dan masih meraba-raba bagaimana caranya meng-upload foto di desktop. Namun, tetap saja ada kisah foto instagramku walau masih beberapa kiriman di sana.

Foto ini adalah salah satu rangkaian rekaman perjalanan kami ke negeri kangguru. Foto yang kuunggah di instagram untuk mengikuti kompetisi. Ada kisah panjang di balik foto instagram tersebut. Perjalanan 48 orang, 7 dosen dan 41  mahasiswa pascasarjana Unimed dalam rangka studi banding mulai tanggal 27 November sampai 4 Desember 2016 yang lalu.  

Kisah foto Instagramku
Di depan Opera House Sidney

Penerbangan dimulai dari Bandara Kuala Namu Medan pukul 7 pagi, sampai  di Batam pukul  9. Selanjutnya kami diantar bus mengelilingi kota Batam. Kota teritorial industri. Kota ‘kawean’ Singapura. Setelah itu kami menyeberang ke Singapura naik Ferry pada pukul 5 sorenya.  Lalu ke Changi Airport naik MRT atau kereta api listrik bawah tanah. Yang menarik dalam catatanku di sana adalah kecepatan eskalatornya disesuaikan kecepatan gerak langka warganya. Kota sibuk dan padat, setiap orang tampak berjalan terburu-buru, tergesa-gesa seolah diburu waktu.
Terbang dengan pesawat Qantas menuju Melbourne, berangkat pukul 11 malamnya dan tiba pukul 10 paginya di sana. Mengitari kota Melbourne dengan bus untuk selanjutnya beristirahat di Platinum Hotel. Pagi hari Selasanya, kami berkunjung ke sebuah sekolah menengah, Headmont College. Biasa saja, sepintas tidak ada yang berbeda dengan sekolah di sini. Pakaian kepala sekolah dan gurunya sama saja seperti layaknya guru kita. Pakaian siswanya sama seperti siswa kita juga yang dibalut seragam sekolah.  Ruangan kelasnya besar (dua kali dari ruang kelas di Indonesia), tetapi hanya memuat 20 orang siswa. Perkiraanku supaya cepat mobile seandainya kelas harus dibentuk tempat duduk konferensi, seminar atau tempat duduk kelas konvensional.  Dinding kelasnya juga sama berisi kliping portofolio siswa dan beraneka karya siswa mereka. Sistem mengajarnya juga sama, ada team teaching , satu kelas dibimbing dua guru. Tugas gurunya juga sama, semua rencana belajar, materi dan tugas harus disetor ke server sekolah sehingga tetap dapat dijalankan seandainya gurunya berhalangan dan digantikan dengan guru lain. Cara mengajarnya juga sama, ada ceramah, diskusi dan praktik. Gaji gurunya tentu besar berdasarkan nilai dolar mereka. Tetapi sertifikasi guru juga besar sesuai nilai rupiah kita dan persamaannya tetap berdasarkan masa kerja dan kinerja. Lalu apa bedanya ya ? Mengapa kita sering memuji  pendidikan luar negeri sangat maju?

Selanjutnya kami bergerak  menuju Dinas Pendidikan Melboure. Kami juga disambut dengan hangat mesra di sana, terlebih pimpinan yang menyambut kami sangat fasih berbahasa Indonesia karena beliau pernah belajar di Jawa sebagai mahasiswa asing pertukaran pelajar dan beberapa tahun bekerja sebagai pengacara di Jakarta. Berbekal kemampuan bahasa Inggris ala kadarnya saya mencoba menyimpulkan apa yang dipresentasikan tentang sistem pendidikan di sana. Lagi-lagi, sama juga seperti di Indonesia. Kurikulum harus diuji terlebih dahulu dan disosialisasikan sebelum dilaksanakan. Penerapannya bertahap dan harus terus dievaluasi. Ada juga lembaga penjamin mutu pendidikannya. Sekolah vokasionalnya juga wajib mengikuti ujian kompetensi nasional dan mendapatkan sertifikat.

Dinas Pendidikan Melbourne

Selanjutnya kami makan siang di Taman Viktoria dan menyempatkan foto di depan patung Robind Hood si penemu Benua Australia. Selain kami, ramai juga wisatawan asing, yang tentunya berdatangan dari Asia juga seperti Cina, Jepang, dan Taiwan. Danau toba dan legenda Batu gantung juga punya pesona tersendiri. Tetapi mengapa Australia lebih memikat mereka dibandingkan Indonesia ya?

Viktoria Garden
Di belakanganya ada patung Robin Hood

Kunjungan berikutnya adalah ke Victoria University. Tentu kami sangat antusias, karena fasilitas kampus bak  hotel atau supermarket. Kami dijamu dengan  presentasi berbagai  program kerja sama dengan Indonesia,  khususnya program beasiswa master dan doktor. Mereka juga sangat antusias tentunya. Bayangkan berapa biaya yang akan mereka keluarkan jika harus mengikuti pameran pendidikan di Indonesia atau kunjungan promosi ke kampus-kampus yang ada di Indonesia. Calon pelanggan datang sendiri ke ‘toko’ mereka. Terlebih lagi ada banyak universitas di Melbourne dan ketika pilihan jatuh pada Vitoria University bukankah itu adalah ‘victory’ bagi mereka? Betapa universitas di sana berlomba-lomba menjaring sebanyak mungkin mahasiswa asing termasuk dari Indonesia, negara terdekat mereka. Betapa mereka menjadikan pendidikan sebagai penghasil devisa negara.

Victoria University

Malam harinya kami melakukan perjalan bus dari Melbourne ke Sidney. Berharap kami akan berjumpa dengan kangguru. Konon katanya pelancong berkesempatan bertemu dengan kangguru pada malam harinya. Betapa luasnya ladang rumput berlemak terpampang di sepanjang perjalanan. Wajar saja sapi-sapi di peternakan menjadi gemuk dan menghasilkan susu segar murah meriah.

Dini hari kami tiba di Sidney dan beristirahat di Sebel Hotel daerah Castwood.  Kunjungan berikutnya ke Maquarie University seharusnya pukul 10 pagi, tetapi diundurkan ke pukul dua siangnya. Direkturnya sudah menunggu sejak jam 10 paginya dan hanya punya waktu 30 menit menyambut kami karena ia harus mengadiri rapat berikutnya. Tetapi karena kami terlambat, penyambutan itu diundur. Seharusnya Beliau kan bisa menunggu kami, secara kami ini kan tamu kenegaraan. Tetapi 'status' kami tidak dihiraukan demi profesionalismenya. Ia tidak mau karena terlambat satu agenda kerja mengorbankan agenda kerja lainnya menjadi molor juga. Ah, budaya kerja dosennya profesional banget. Lebih baik satu mundur daripada semua jadwal harus mundur. Ah, kami pun Indonesia banget ya ? Terlambat dengan dalih ‘kesalahan teknis’.  Kami turut memperkenalkan 'budaya telat' jauh sampai ke bangsa keturunan Aborigin  ini. Secara kami kan duta Indonesia. Gambaran calon pengawas pendidikan. Wajar saja menjadi budaya permisif, wong pengawas terlambat minta dimaklumi, lalu kepala sekolahpun terlambat akan dianggap wajar, lalu guru terlambatpun akan dimengerti, sehingga siswa terlambat menyerahkan PR-nya pun akan dianggap biasa saja.

Selanjutnya acara bebas. Jalan-jalan cantik  ke Opera House yang menjadi ikon kota Sidney. Selanjutnya kami berburu oleh-oleh  di Pady's Market. Ah,.. banyak yang ‘kawe’ di sini. Asesorisnya made in China dan pedagangnya mereka juga. Hasil indutri mereka bisa nongkrong cantik di negeri kangguru ini sementara industri kita yang paling dekat ke mana? Nah, mereka juga berhasil berdagang di sana, tentu pintu masuk ke sana adalah dapat berkomunikasi dalam  bahasa mereka sehari-hari. Lha, kita kok sombong  tidak mau ‘bertetangga’ dengan negara yang merupakan gambaran benua Eropa ini.

Terkesan dengan berbagai budaya mereka. Budaya sehat, minum air putih dari tempat air minum umum. Air putih sehat, segar dan gratis, selain itu juga dapat mengurangi sampah botol air mineral. Budaya bersih, tak ada sampah terlihat berserakan. Trotoar kota pun berkilau dilap oleh mesin pengepel besar. Budaya tepat waktu, beberapa kali ada saja peserta yang tertinggal karena tidak tepat waktu. Bayangkan saja seorang supir bus bisa sedisiplin itu, sedisplin manajer perusahaan bus. Budaya olah raga, pantes saja mereka tidak menderita kolesterol atau darah tinggi padahal tiap hari makan daging (seminggu di sana tidak jumpa ikan). Budaya tertib. Semua taat pada peraturan, misalnya saat hendak menyeberang. Walau kenderaan di depan kosong, mereka tak akan manfaatkan kesempaatan itu melainkan tetap akan berjalan bila tanda untuk berjalan sudah berbunyi. Saya yakin semua budaya itu lahir dari pembiasaan. Kebiasaan itu dimulai dari pendidikan. Nah lho, pendidikan mereka kan sama dengan pendidikan kita? Lalu mengapa budaya masyarakat kita berbeda ? Ntar ya, saya sambung ceritanya lagi, harus menemani anak tidur siang dulu ni.


9 komentar:

  1. Disiplin itu harus dimulai dari hal-hal kecil, dan juga dilaksanakan oleh pembuat disiplin. Saat Indonesia dipenuhi oleh orang-orang dengan hanya penih retorika, namun action nol. Maka sama saja seperti tidak ada aturan. Sipembuat aturan saja tidak patuh, konon lagi yang lain. Tp saya yakin Indonesia akan semakin berbenah. Meskipun kalau di dalam kelas, ketika siswa bertanya "bagaimana merubah Indonesia menjadi lebih baik dengan cara cepat buk?"
    Sy hanya bisa memberi solusi dengan kalimat "bom dengan bom atom seluruhnya. Maka akan lahir manusia-manusia baru dengan karakter yang baru".

    Konyol memang, tetapi itu lbh masuk akal. Karena lebih banyak orang "sok pintar" di negara ini ketimbang orang pintar yang sesungguhnya.

    Teruskan tulisan kk. Aku tunggu kisah berikutnya ��
    Termasuk cerita 2 malam aku tidur d karpet yaaaa...��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha...ha...tidur di karpet ya Niar? Kan pesan sponsor, ceritakan yang baik-baiknya saja. Tapi ntar ya..saya akan lanjutkan lg nanti.

      Hapus
  2. Salut eda, kiranya ilmu yang didapat bisa di terapkan untuk membangun SDM di Indonesia juga. Amin...

    BalasHapus
  3. Hai mbak Diana, kayaknya saya baru pertama kesini ya
    Dari judulnya aja udah kereeen, itu Robin Hoodnya bercelana ketat ya (malah fokus kesitu :D)

    BalasHapus
  4. Hai mbak.. Maaf kunjungan balik saya terlamat, klo di sini..kunjungan tepat waktu yang perlu dibudayakan. Soalnya budaya molor masih membudaya

    BalasHapus