Awalnya aku hanya sekedar
melihat, tak berhasrat untuk mengetahuinya. Sebagai alumni pascasarjana tentu
tuntutan untuk mengembangkan diri itu ada. Tuntutan guru mulia karena karya itu
ada. Berhubung saya masih mempunyai bayi
yang sekarang berusia delapan bulan, membuat saya membatasi diri ‘jadi ibu yang
baik dan benar sajalah dulu’ pikirku. Bahkan kemarin saya tidak bisa berangakt
ke ibukota provinsi untuk mengikuti Olimpiade Guru Bahasa Indonesia batal meski
saya sudah lolos administrasi dan artikel ilmiah sebagai prasyarat mengikuti
OGN tersebut.
Teman saya, Siti Zakia, yang
juga instruktur di VCT 45 BATCH 3, selalu men-share kegaitan Seameo di grup alumni pascasarjana. Mulai dia akan
presentase di Sarasehan Dalam Jaringan (SADAR), lomba hibah penelitian Seameo
bahkan Camp Soar Seameo di Bali 2018 silam. Aku pun tak ingat apakah aku pernah
mendaftar kegiatan VCT ini. Tiba-tiba saya sudah masuk dalam sebuah grup VCT 45
wilayah Sumatera Bacth 3. Karena belajarnya hanya sejangkauan jari, atinya
hanya lewat hape, saya pikir tidak
salah saya ikuti. Toh, saya masih bisa tetap menggendong bayi saya sambil
mengikuti vicon mereka.
Akhirnya
pikiran saya terbuka ketika mengikuti diskusi virtual tantangan industri 4.0
dan cara menyikapinya yang langsung dibawakan oleh Dr. Gatot Hari Priowirjanto
pada tangal 5 Maret 2019 lalu dalam rangka pidato pembukaan kegiatan VCT
se-Indonesia.
Beberapa hal yang beliau
sampaikan adalah:
1. 1. Seameo
(The Southeast Asian Ministers of Education Organization) adalah organisasi
antar pemerintah regional yang didirikan pada tahun 1965 di antara pemerintah
negara-negara Asia Tenggara untuk mempromosikan kerja sama regional dalam
pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya di wilayah tersebut. Pembuat kebijakan
tertinggi pada organisasi ini adalah SEAMEO Council, yang merupakan menteri
pendidikan dari 11 negara Asia Tenggara: Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia,
Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan
Vietnam. Sekretariat SEAMEO terletak di Bangkok, Thailand.
2. 2. Seamolec
(SEAMEO Regional Open Learning Centre) adalah salah satu dari 24 pusat yang
berada di bawah naungan Southeast Asian Ministers of Education Organization
(SEAMEO) dan memiliki fokus bidang Pendidikan Terbuka Jarak Jauh (PTJJ). Dengan
berbagai program yang menjadi tugas intinya, seperti; pelatihan, konsultasi,
riset dan pengembangan, dan penyebaran informasi, SEAMOLEC membantu
negara-negara anggota SEAMEO untuk menemukan solusi alternatif untuk
meningkatkan kualitas manusia melalui PTJJ. Tugas utama SEAMOLEC adalah
membantu berbagai institusi dan negara, terutama di Asia Tenggara, dalam
mengembangkan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pendidikan dan
menemukan solusi alternatif melalui pemanfaatan PJJ terutama yang berbasis TIK.
Itulah sebabnya dalam setiap flyer yang ditampilkan ketiga logo lembaga ini
ditampilkan berurutan dan proporsional. Dimulai dari logi Seameo, Seamolec dan
logo Tut Wuri Handayani Kemendikbud.
3.
Virtual
Coordinator Training (VCT) adalah pelatihan
yang diselenggarakan oleh SEAMOLEC untuk mempersiapkan guru dalam pembelajaran
jarak jauh yang berbasis Webex. Dengan mengikuti pelatihan ini, Guru akan
dibimbing agar siap melaksanakan pembelajaran jarak jauh, baik sebagai host,
moderator, maupun pemateri (presenter). VCT ini merupakan bagian dari persiapan
Indonesia menghadapi era Industri 4.0, dimana salah satunya adalah
kolaborasi/kerjasama antar negara, antar provinsi, antar MGMP, antar sekolah,
untuk meningkatkan pengetahuan, skill,pertukaran ilmu pengetahuan, maupun BEST
PRACTICE antar sekolah, di tingkat Kota/Kabupaten, Provinsi, maupun Negara.
4.
Video
Conference (vicon) membuka batasan
waktu, tempat dan dana untuk guru terus belajar. Ke depannya kegiatan Kemendikbud
baik seminar, diklat ataupun PPG akan berbentuk vicon untuk menghemat dana.
5.
Ada
bantuan PSMK untuk sekolah SMK yang mengharuskan sekolah penerimanya harus memiliki
minimal satu alumni VCT.
6.
Kegiatan
VCT mengharuskan peserta melakukan tugas 2x sebagai host, 2x sebagai moderator
dan 2x sebagai presenter. Seorang host bertugas membuka acara, memperkenalkan
presenter dan moderator, menyerahkan kegiatan pada moderator, mengatur tampilan
shooting camera dan microfon peserta saat vicon dan membantu
moderator selama acara berlangsung demi kelancaran vicon. Tugas moderator
antara lain memperkenalkan presenter,
memberi kesempatan pada presenter untuk menyampaikan materi, dan merekap
pertanyaan peserta dari kolom chatting. Sementara tugas presenter adalah memaparkan
materi dengan singkat padat dan berisi, menjawab pertanyaan peserta vicon, mengakhiri kegiatan dengan menyampaikan
kesimpulan rangkuman pernyataan sebelum mengakhiri materi.
7.
Peserta
akan mendapatkan sertifikat untuk satu tahun dan dapat diperbaharui bila masih
aktif dalam kegaiatan VCT
Lalu apa yang terasa meng-exciting saya adalah sensasi belajar
hal-hal baru terlebih karena saya memang menyukai hal yang berbau internet dan
teknologi. Sudah belajarnya bisa lewat hape
jadi tidak perlu pergi ke luar kota meninggalkan anak di rumah. Selanjutnya
saya bisa sambil belajar dan mengasuh bayi saya. Hal-hal baru tersebut antara
lain :
1.
Belajar
menjadi seorang virtual coordinator.
Seorang virtual coordinator harus memiliki kecakapan mengelola pelatihan
atau pembelajaran berbasis dunia maya menggunakan platform video conference.
Dimulai dengan merancang kegiatan dari awal hingga publikasi ke sosial media.
Kegiatan persiapan meliputi :
a.
Membuat
flyer atau poster digital untuk
mengajak dunia luar bergabung. Tool yang
dapat digunakan seperti Photoshop Coreldraw, Powerpoint atau yang berbasis on line seperti postermywall.com.
b.
Menulis
narasi kegiatan untuk mendukung flyer
yang telah dibuat. Virtual Coordinator harus
mempunyai kecakapan menulis narasi berisi pengetahuan awal tentang hal yang
akan disampaikan, jadwal kegiatan serta informasi link video conference, room number
dan password.
c.
Melakukan
rekrutmen peserta secara on line jika
kegiatannya terbatas pada kalangan tertentu melalui diantaranya Google form.
Kegiatan vicon antara lain :
a.
Melakukan
kegiatan video conference. Tool yang dipakai adalah Webex karena memiliki
kekuatan gambar dan video yang stabil, membuat room pertemuan secara mandiri baik dari hape maupun dari laptop, tambahan lagi website memiliki fitur-fitur
yang sederhana dan mudah dipelajari dibanding vicon yang lain seperti Edmodo,
Google Hangouts atau Skype for business. Webex ini sudah sangat familiar bagi
teman saya para anggota Oriflame atau NU Skin karena mereka sering ditraining
lewat Webex. Hai ini sangat menggelorakan saya karena Webex dapat dipakai dalam
pembelajaran.
Webex
dapat didownload di playstore bila melalui hape
atau membuka websitenya bila dari laptop. Seorang VC juga harus mengenal dan
dapat atau presenter.
Hal
yang sangat berkesan adalah saat saya menjadi presenter ternyata suara tangis
bayiku dan suara suami yang menenangkannya terdengar oleh peserta lain dan ikut
mewarnai rekaman vicon saya juga. Sepintas membuat saya tengsin tetapi justru
saya mampu mengalahkan berbagai rintangan untuk menyelesaikan tugas-tugas di
VCT ini. Di pertengahan jalan saya sudah ingin keluar karena jadwal saya
presentasi dua kali diundur karena anak saya sakit. Bersyukur saya dapat
menyelesaikan apa yang sudah saya mulaii.
b.
Membuat
ppt minimal sepuluh slide untuk
disajikan sebagai presenter dan mampu men-sharenya
saat vicon berlangsung.
c. Membuat presensi kegiatan on line sebagai dokumentasi peserta yang
mengikuti kegiatan presentasi ini dapat dilakukan di Google form atau Zoho serta mampu men-share presensi ini untuk semua peserta. Kemudian mampu me-recordnya di Google Spreadsheet dan
mengubahnya ke bentuk pdf supaya tidak
dapat diisi atau diedit orang lain lagi.
d.
Memperpendek
link yang panjang. Absensi online
yang kita buat tadi di Google Form itu mempunyai link yang panjang dan seharusnya diperpendek agar pemirsa dapat
mengetik ulang link yang sudah
dibagikan. Nama link juga dapat
diganti dengan nama khusus supaya cepat dibaca dan dibedakan. Misalnya untuk
absen sesi pertama dapat diberi nama absensesi1 dan seterusnya, hindari juga
menggunakan huruf kapital atau huruf kecil. Memperpendek link ini sangat menjawab kebutuhan saya selama ini. Misalnya selama
ini saya bila mengikuti lomba blog yang mengharuskan peserta men-share link ke media sosial dan sering
terkagum bila ada peserta yang men-share
linknya dengan nama yang unik dan singkat.
e.
Mendokumentasikan
kegiatan dengan merekam layar melalui DU
Recorder atau V Recorder di HP sementara untuk laptop bisa menggunakan Camtasia
atau Fastone.
Kegiatan akhir berupa :
a.
Mengupload
video kegiatan VCT ke youtube sebagai dokumen dan juga dapat menjadi bahan
referensi bagi orang lain.
b.
Membuat
laporan presensi menjadi host, moderator dan presenter dengan menyatukan absen
dan flyer berdasarkan tanggalnya ke kantong tugas. Di sini juga seorang VC
belajar mencompress atau meresize file atau foto keukuran yang lebih kecil.
c.
Mampu
mencari dan mengunduh sendiri sertifikat on line VCT dari ribuan sertifikat
peserta.
2.
Mampu
bekerja sama, berkolaborasi dan bersinergi dengan guru-guru hebat
Siapa sangka saya bisa bertemu dengan
Ibu Winarti, guru kimia di SMK Tanjung Balai atau Ibu Tiomas, guru bahasa
Indonesia SMP di Langkat. Semua dipersatukan dalam sebuah grup VCT. Seluruh
peserta VCT 45 batch 3 berjumlah 200-an bergabung dalam sebuat grup whatsapp
sehingga kita harus aktif dan selektif membaca informasi. Terkadang kita harus
‘memanjat’ atau scrool jauh ke atas
bila sehari saja tak membuka obrolan grup. Bersyukur saya mendapat ilmu baru
untuk memberi tanda bintang untuk setiap pesan penting dan segera menghapus
ratusan chat setiap harinya. Selain
kita lebih cepat mendapatkan informasi, hape
juga jadi lebih terasa ‘lebih ringan’.
Selanjutnya setiap peserta yang akan
bertugas esok harinya akan dimasukkan ke dalam grup kecil untuk lebih
memudahkan kordinasi pembagian tugas. Siapa yang menjadi host, presenter dan
moderator setiap sesinya dan mempersiapkan atau mencek keperluan yang
dibutuhkan seperti flyer atau
absensi.
3.
Semangat
VCT ini sebenarnya ingin saya tuang di blog, tetapi berhubung saya masih ‘kudis’
kurang disiplin belum saya posting juga. Padahal banyak ilmu baru yang saya
dapat untuk mengembangkan ilmu blogging saya. Misalnya ternyata ada gerakan Sagusablog
atau Satu Guru Satu Blog yang merupakan salah satu kanal Ikatan Guru Indonesia.
Akhirnya, semua kesan
mengikuti VCT ini saya tuangkan di antologi 3 ini sebagai bagian mengawetkan pikiran,
meninggalkan jejak ilmu, menambah koleksi literasi Indonesia. Terima kasih
kepada Seameo yang telah memfasilitasi alumni untuk menerbitkan buku digital
ber-ISBN dalam bentuk antologi.
![]() |
| sertifikat vct |









0 komentar:
Posting Komentar