Curhatan Bunda

Jumat, 06 September 2019

Virtual Coordinator Training, Guru Penjaga Tol Langit Pendidikan



Awalnya aku hanya sekedar melihat, tak berhasrat untuk mengetahuinya. Sebagai alumni pascasarjana tentu tuntutan untuk mengembangkan diri itu ada. Tuntutan guru mulia karena karya itu ada.  Berhubung saya masih mempunyai bayi yang sekarang berusia delapan bulan, membuat saya membatasi diri ‘jadi ibu yang baik dan benar sajalah dulu’ pikirku. Bahkan kemarin saya tidak bisa berangakt ke ibukota provinsi untuk mengikuti Olimpiade Guru Bahasa Indonesia batal meski saya sudah lolos administrasi dan artikel ilmiah sebagai prasyarat mengikuti OGN tersebut.
Teman saya, Siti Zakia, yang juga instruktur di VCT 45 BATCH 3, selalu men-share kegaitan Seameo di grup alumni pascasarjana. Mulai dia akan presentase di Sarasehan Dalam Jaringan (SADAR), lomba hibah penelitian Seameo bahkan Camp Soar Seameo di Bali 2018 silam. Aku pun tak ingat apakah aku pernah mendaftar kegiatan VCT ini. Tiba-tiba saya sudah masuk dalam sebuah grup VCT 45 wilayah Sumatera Bacth 3. Karena belajarnya hanya sejangkauan jari, atinya hanya lewat hape, saya pikir tidak salah saya ikuti. Toh, saya masih bisa tetap menggendong bayi saya sambil mengikuti vicon mereka.
            Akhirnya pikiran saya terbuka ketika mengikuti diskusi virtual tantangan industri 4.0 dan cara menyikapinya yang langsung dibawakan oleh Dr. Gatot Hari Priowirjanto pada tangal 5 Maret 2019 lalu dalam rangka pidato pembukaan kegiatan VCT se-Indonesia.
Beberapa hal yang beliau sampaikan adalah:
1. 1.   Seameo (The Southeast Asian Ministers of Education Organization) adalah organisasi antar pemerintah regional yang didirikan pada tahun 1965 di antara pemerintah negara-negara Asia Tenggara untuk mempromosikan kerja sama regional dalam pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya di wilayah tersebut. Pembuat kebijakan tertinggi pada organisasi ini adalah SEAMEO Council, yang merupakan menteri pendidikan dari 11 negara Asia Tenggara: Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam. Sekretariat SEAMEO terletak di Bangkok, Thailand.
2. 2.    Seamolec (SEAMEO Regional Open Learning Centre) adalah salah satu dari 24 pusat yang berada di bawah naungan Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) dan memiliki fokus bidang Pendidikan Terbuka Jarak Jauh (PTJJ). Dengan berbagai program yang menjadi tugas intinya, seperti; pelatihan, konsultasi, riset dan pengembangan, dan penyebaran informasi, SEAMOLEC membantu negara-negara anggota SEAMEO untuk menemukan solusi alternatif untuk meningkatkan kualitas manusia melalui PTJJ. Tugas utama SEAMOLEC adalah membantu berbagai institusi dan negara, terutama di Asia Tenggara, dalam mengembangkan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pendidikan dan menemukan solusi alternatif melalui pemanfaatan PJJ terutama yang berbasis TIK. Itulah sebabnya dalam setiap flyer yang ditampilkan ketiga logo lembaga ini ditampilkan berurutan dan proporsional. Dimulai dari logi Seameo, Seamolec dan logo Tut Wuri Handayani Kemendikbud.
3.    Virtual Coordinator Training  (VCT) adalah pelatihan yang diselenggarakan oleh SEAMOLEC untuk mempersiapkan guru dalam pembelajaran jarak jauh yang berbasis Webex. Dengan mengikuti pelatihan ini, Guru akan dibimbing agar siap melaksanakan pembelajaran jarak jauh, baik sebagai host, moderator, maupun pemateri (presenter). VCT ini merupakan bagian dari persiapan Indonesia menghadapi era Industri 4.0, dimana salah satunya adalah kolaborasi/kerjasama antar negara, antar provinsi, antar MGMP, antar sekolah, untuk meningkatkan pengetahuan, skill,pertukaran ilmu pengetahuan, maupun BEST PRACTICE antar sekolah, di tingkat Kota/Kabupaten, Provinsi, maupun Negara.
4.    Video Conference (vicon)  membuka batasan waktu, tempat dan dana untuk guru terus belajar. Ke depannya kegiatan Kemendikbud baik seminar, diklat ataupun PPG akan berbentuk vicon untuk menghemat dana.
5.    Ada bantuan PSMK untuk sekolah SMK yang mengharuskan sekolah penerimanya harus memiliki minimal satu alumni VCT.
6.    Kegiatan VCT mengharuskan peserta melakukan tugas 2x sebagai host, 2x sebagai moderator dan 2x sebagai presenter. Seorang host bertugas membuka acara, memperkenalkan presenter dan moderator, menyerahkan kegiatan pada moderator, mengatur tampilan shooting camera dan microfon peserta saat vicon dan membantu moderator selama acara berlangsung demi kelancaran vicon. Tugas moderator antara lain memperkenalkan presenter,  memberi kesempatan pada presenter untuk menyampaikan materi, dan merekap pertanyaan peserta dari kolom chatting. Sementara tugas presenter adalah memaparkan materi dengan singkat padat dan berisi, menjawab pertanyaan peserta vicon,  mengakhiri kegiatan dengan menyampaikan kesimpulan rangkuman pernyataan sebelum mengakhiri materi.
7.    Peserta akan mendapatkan sertifikat untuk satu tahun dan dapat diperbaharui bila masih aktif dalam kegaiatan VCT
Lalu apa yang terasa meng-exciting saya adalah sensasi belajar hal-hal baru terlebih karena saya memang menyukai hal yang berbau internet dan teknologi. Sudah belajarnya bisa lewat hape jadi tidak perlu pergi ke luar kota meninggalkan anak di rumah. Selanjutnya saya bisa sambil belajar dan mengasuh bayi saya. Hal-hal baru tersebut antara lain :
1.    Belajar menjadi seorang virtual coordinator.
Seorang virtual coordinator harus memiliki kecakapan mengelola pelatihan atau pembelajaran berbasis dunia maya menggunakan platform video conference. Dimulai dengan merancang kegiatan dari awal hingga publikasi ke sosial media.

Kegiatan persiapan meliputi :
a.    Membuat flyer atau poster digital untuk mengajak dunia luar bergabung. Tool yang dapat digunakan seperti Photoshop Coreldraw, Powerpoint atau yang berbasis on line seperti postermywall.com.
b.    Menulis narasi kegiatan untuk mendukung flyer yang telah dibuat. Virtual Coordinator harus mempunyai kecakapan menulis narasi berisi pengetahuan awal tentang hal yang akan disampaikan, jadwal kegiatan serta informasi link  video conference, room number dan password.
c.    Melakukan rekrutmen peserta secara on line jika kegiatannya terbatas pada kalangan tertentu melalui diantaranya Google form.

Kegiatan vicon antara lain :
a.    Melakukan kegiatan video conference.  Tool yang dipakai adalah Webex karena memiliki kekuatan gambar dan video yang stabil, membuat room pertemuan secara mandiri baik dari hape maupun dari laptop, tambahan lagi website memiliki fitur-fitur yang sederhana dan mudah dipelajari dibanding vicon yang lain seperti Edmodo, Google Hangouts atau Skype for business. Webex ini sudah sangat familiar bagi teman saya para anggota Oriflame atau NU Skin karena mereka sering ditraining lewat Webex. Hai ini sangat menggelorakan saya karena Webex dapat dipakai dalam pembelajaran.

Webex dapat didownload di playstore bila melalui hape atau membuka websitenya bila dari laptop. Seorang VC juga harus mengenal dan dapat atau presenter.
Hal yang sangat berkesan adalah saat saya menjadi presenter ternyata suara tangis bayiku dan suara suami yang menenangkannya terdengar oleh peserta lain dan ikut mewarnai rekaman vicon saya juga. Sepintas membuat saya tengsin tetapi justru saya mampu mengalahkan berbagai rintangan untuk menyelesaikan tugas-tugas di VCT ini. Di pertengahan jalan saya sudah ingin keluar karena jadwal saya presentasi dua kali diundur karena anak saya sakit. Bersyukur saya dapat menyelesaikan apa yang sudah saya mulaii.
b.    Membuat ppt minimal sepuluh slide untuk disajikan sebagai presenter dan mampu men-sharenya saat vicon berlangsung.
c.    Membuat presensi kegiatan on line sebagai dokumentasi peserta yang mengikuti kegiatan presentasi ini dapat dilakukan di Google form atau Zoho serta mampu men-share presensi ini untuk semua peserta. Kemudian mampu me-recordnya di Google Spreadsheet dan mengubahnya ke bentuk pdf supaya tidak dapat diisi atau diedit orang lain lagi.
d.    Memperpendek link yang panjang. Absensi online yang kita buat tadi di Google Form itu mempunyai link yang panjang dan seharusnya diperpendek agar pemirsa dapat mengetik ulang link yang sudah dibagikan. Nama link juga dapat diganti dengan nama khusus supaya cepat dibaca dan dibedakan. Misalnya untuk absen sesi pertama dapat diberi nama absensesi1 dan seterusnya, hindari juga menggunakan huruf kapital atau huruf kecil. Memperpendek link ini sangat menjawab kebutuhan saya selama ini. Misalnya selama ini saya bila mengikuti lomba blog yang mengharuskan peserta men-share link ke media sosial dan sering terkagum bila ada peserta yang men-share linknya dengan nama yang unik dan singkat.
e.    Mendokumentasikan kegiatan dengan  merekam layar melalui DU Recorder atau V Recorder di HP sementara untuk laptop bisa menggunakan Camtasia atau Fastone.

Kegiatan akhir berupa :
a.    Mengupload video kegiatan VCT ke youtube sebagai dokumen dan juga dapat menjadi bahan referensi bagi orang lain.
b.    Membuat laporan presensi menjadi host, moderator dan presenter dengan menyatukan absen dan flyer berdasarkan tanggalnya ke kantong tugas. Di sini juga seorang VC belajar mencompress atau meresize file atau foto keukuran yang lebih kecil.
c.    Mampu mencari dan mengunduh sendiri sertifikat on line VCT dari ribuan sertifikat peserta.
2.    Mampu bekerja sama, berkolaborasi dan bersinergi dengan guru-guru hebat
Siapa sangka saya bisa bertemu dengan Ibu Winarti, guru kimia di SMK Tanjung Balai atau Ibu Tiomas, guru bahasa Indonesia SMP di Langkat. Semua dipersatukan dalam sebuah grup VCT. Seluruh peserta VCT 45 batch 3 berjumlah 200-an bergabung dalam sebuat grup whatsapp sehingga kita harus aktif dan selektif membaca informasi. Terkadang kita harus ‘memanjat’ atau scrool jauh ke atas bila sehari saja tak membuka obrolan grup. Bersyukur saya mendapat ilmu baru untuk memberi tanda bintang untuk setiap pesan penting dan segera menghapus ratusan chat setiap harinya. Selain kita lebih cepat mendapatkan informasi, hape juga jadi lebih terasa ‘lebih ringan’.
Selanjutnya setiap peserta yang akan bertugas esok harinya akan dimasukkan ke dalam grup kecil untuk lebih memudahkan kordinasi pembagian tugas. Siapa yang menjadi host, presenter dan moderator setiap sesinya dan mempersiapkan atau mencek keperluan yang dibutuhkan seperti flyer atau absensi.
3.    Semangat VCT ini sebenarnya ingin saya tuang di blog, tetapi berhubung saya masih ‘kudis’ kurang disiplin belum saya posting juga. Padahal banyak ilmu baru yang saya dapat untuk mengembangkan ilmu blogging saya. Misalnya ternyata ada gerakan Sagusablog atau Satu Guru Satu Blog yang merupakan salah satu kanal Ikatan Guru Indonesia.
Akhirnya, semua kesan mengikuti VCT ini saya tuangkan di antologi 3 ini sebagai bagian mengawetkan pikiran, meninggalkan jejak ilmu, menambah koleksi literasi Indonesia. Terima kasih kepada Seameo yang telah memfasilitasi alumni untuk menerbitkan buku digital ber-ISBN dalam bentuk antologi.
sertifikat vct


0 komentar:

Posting Komentar