Curhatan Bunda

Sabtu, 08 Januari 2022

Wawancara Penghargaan Penulis

Sejak Kapan Menulis?

Sejauh saya mengingat ternyata saya sudah menulis kelas 6 SD. Waktu itu saya hanya meringkas ekstensifikasi dan intensifikasi pangan di Indonesia dari buku IPS. Ringkasan tulis tangan dalam folio tersebut diikutsertakan dalam lomba mengarang ke kecamatan. Saya tidak pernah tahu apa hasilnya tetapi sampai sekarang saya ingat betul judul itu karena berkali-kali saya mengulangnya. Selanjutnya semasa kuliah dalam sebuah buletin kecil organisasi kerohanian kampus. Kemudian aktif lagi setelah saya menikah dan punya anak. Menulis nonfiksi di media online dan blog pribadi.


Mengapa Tertarik Menulis?

Menulis bagi saya adalah menenangkan karena tempat curhat. Beberapa kali curhatan itu saya ikutkan lomba blog dan menang dan ketagihan. Bergabung dalam komunitas blogger dan menjadi influencer juga seperti Faber Castle,  Program langit biru Pertamina dan yang terakhir ini ada menulis dari Kementerian Pariwisata tentang pariwisata Danau Toba.


Menulis itu Apa?

Menulis bagi saya lebih dari hobi atau fashion. Menulis bagi saya adalah self healing atau terapi. Ketika saya sudah menikah berkeluarga punya anak ternyata hidup itu lebih rumit, lebih kompleks dan saya lebih sering menuangkannya lewat tulisan. Selesai menulis rasanya lebih tenang dan lebih bisa merefleksikan diri. Saya sering menuliskan apa yang saya alami di keluarga  dan menuliskan apa yang saya alami sebagai guru, itulah sebabnya blog saya berjudul Catatan Diana artinya catatan saya sebagai seorang ibu dan catatan saya sebagai seorang guru.  Catatan saya sebagai guru membawa berkah, dari tulisan saya sering diundang menjadi narasumber di seminar/webinar pendidikan.


Karya Saya yang Paling Berkesan

Buku solo saya yang pertama berjudul Intisari Bahasa Indonesia SMA tahun 2018 yang diterbitkan Kawan Pustaka Jakarta. Terkesan karena ini buku pertama saya, akhirnya saya bisa menerbitkan sebuah buku. Terkesan karena dari buku ini saya pernah merasakan nikmatnya royalti penjualan buku.  Karya saya yang kedua yang berkesan adalah sebuah cerpen yang berjudul Oleh-oleh dari Makassar. Saya baru pertama ini menulis cerpen dan langsung dalam sebuah lomba menulis cerpen yang diadakan sebuah organisasi kerohanian yaitu Perkantas Jakarta. Pertama menulis cerpen langsung nyangkut di juara kedua dan tentunya hadiahnya itu loh. 


Visi untuk Literasi Labuhan Batu Raya Lima Tahun Ke Depan

Visi Literasi untuk Labuhanbatu Raya lima tahun ke depan sudah kami mulai dari sekarang yaitu tantangan bagi calon guru penggerak angkatan 3 Labuhanbatu. Harapannya akan terbit sebuah buku yang merekam perjalanan calon guru penggerak angkatan 3. Dari generasi ini harapan ke depan mereka akan mampu menerbitkan sebuah buku ajar atau modul ajar untuk siswa-siswa mereka sendiri sebab buku yang baik untuk orang Indonesia harus ditulis oleh orang Indonesia, Buku yang baik untuk orang Labuhanbatu harus ditulis oleh orang Labuhan Batu sendiri.





0 komentar:

Posting Komentar