Curhatan Bunda

Kamis, 06 Oktober 2016

Kita dan Surat Lamaran

Kita dan Surat Lamaran

Siswa saling membantu


"Pelajaran pagi ini adalah menulis surat lamaran kerja. Pelajaran ini diberikan untuk siswa kelas XII karena menulis surat lamaran menjadi kebutuhan kalian setelah lulus SMK ini, apalagi alumni SMK dipersiapkan untuk kebutuhan pasar kerja. Sebelum kita belajar bagaimana susunan atau struktur surat lamaran dan bahasanya, Ibu akan bercerita terlebih dahulu mengapa harus bekerja dan pekerjaan apa yang tepat untuk kita masing-masing. Mau mendengar cerita Ibu?", ujarku membuka kelas pagi itu.

“Adalah seorang pemuda yang sama dengan usia kalian. Namannya Alex PMD atau Alex pemuda masa depan..( dan aku mulai puas dan semangat atas senyum ketertarikan mereka). Alex sedang bingung akan ke mana dia setelah tamat SMK, kuliah atau kerja.....” ceritaku sembari menyisipkan pesan moral bagi mereka.

Seringkali guru langsung mempelajari bagian surat lamaran, di mulai dari tanggal, perihal, lampiran, alamat dalam, salam pembuka dan seterusnya. Langsung kepada contoh surat lamaran dan kalimat yang sering salah dalam surat lamaran.  Bila hanya teori, anak-anak dengan cepat mendapatkan dan menghapalkannya dari google tetapi yang paling sulit adalah untuk apa mereka belajar hal itu? Mencoba mengaitkan bahwa materi yang akan dipelajari sangat dibutuhkan mereka dalam hidup.

 Menarik minat siswa untuk mempelajarinya merupakan bagian yang sering terlupakan oleh guru dan itulah perlunya guru persiapan dengan banyak membaca apalagi sudah sangat dimudahkan dengan informasi sejangkaun jari di Android masing-masing. Misalnya, "Anak-anak sepanjang jalan usia Ibu menjadi guru, materi yang paling sering dikeluarkan di Ujian Nasional adalah ini dan minimal lima soal hanya dari contoh kalimat yang sering salah dalam surat lamaran”. Bukankah  sesuai dengan kebutuhan mereka ?

Setelah yakin anak-anak memahami semua teori melalui hasil koreksian masing-masing surat lamaran mereka dengan nilai 100, biasanya saya tidak cukup puas sampai di situ. Saya akan tuntut mereka untuk bisa mengirimkan surat lamaran ke email saya, sepuluh orang pengirim pertama akan mendapat nilai 100. Lagi-lagi ini kendala besar : tidak semua mereka punya laptop dari 30 siswa biasanya hanya lima siswa yang punya. Maka biasanya saya sarankan mereka mengirimnya di warnet. 

Daftar siswa yang mengirmkan surat lamarannya melalui email

Eh, permasalahan lain muncul lagi, tidak semua mereka bisa buat email. Maka saya menjadi heran, bagaimana mungkin tidak bisa membuat email, bukankah membuat akun baru facebook meminta alamat email. Padahal dari 30 siswa 20 diantaranya punya akun facebook yang mereka pakai lewat ponsel cerdas mereka.  Saya mendapatkan data ini karena saya memang membuka pertemanan dengan mereka. Selain saya bisa  mengawasi perilaku mereka di dunia nyata dan dunia maya maka FB juga akan saya jadikan media belajar.

Maka saya mencoba mendekati guru TIK mereka supaya diajari membuat email. Ketepatan guru TIK-nya adalah teman baik saya. Kami berteman baik karena satu pikiran dan satu semangat bahwa mengajar harus sepenuh hati dan menghadapi tantangan apa pun demi anak didik yang lebih baik. Waduh, guru TIK juga kewalahan dengan pelbagai permasalahannya. Dibawa ke lab komputer, hanya beberapa komputernya yang sehat belum lagi akses internet yang terbatas. (Semoga XL memberi wifi gratis untuk tiap sekolah) Gurunya lalu berinisiatif memakai paket data sendiri di kelas. Eh, tiba hendak pakai in fokus supaya bisa klasikal, eh, perlu birokrasi prosedur peminjaman alat-alat sekolah. Tak putus asa gurunya tetap lanjut dengan sebuah laptop guru dan satu per satu anak praktik membuat email. Lha, kapan materi TIK akan dituntaskan sebab hanya untuk membuat email saja memakan waktu beberapa kali pertemuan di luar rancangan pembelajaran. Maka kami sepakati, “Belajar pada yang bisa, bahkan bila tidak bisa juga, boleh titip email teman”, dan sekali lagi harus dengan memotivasi mereka terlebih dahulu.

Guru harus melek perubahan masa dan melihat apa yang menjadi kebutuhan mereka. "Walau kita di kota kecil, tidak boleh ketinggalan zaman, karena zaman sekarang dikit-dikit on line. Ujian Nasional on line, ujian CPNS juga on line, data guru on line, data siswa on line. Pokoknya dikit-dikit on line”, seruku menegaskan. Maka saya minta mereka men-scan surat lamaran mereka lalu mengirimkannya dalam bentuk PDF ke email saya. 
Surat Lamaran yang sudah discan siswa


Tak bisa dipungkiri bahwa kemajuan TIK ada di depan mata, dekat dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam mengajar. Guru harus melek IT. Guru harus belajar. Indonesia makin digital lewat guru. Membangun Indonesia lewat guru digital. Guru digital adalah kita. #KitaIndonesia.


EMAK-EMAK DILARANG SAKIT

                      EMAK-EMAK DILARANG SAKIT

Bersama kedua putriku di taman bermain
 "Emak-emak dilarang sakit’ adalah semacam hukum taurat bagi saya dan beberapa teman dekat saya.  Betapa tidak, khususnya untuk kami para ibu muda dengan anak-anak balita yang masih rentan sakit. Bila ibu sakit maka rentetan pekerjaan rumah akan terbengkalai. Bila ibu sakit, rumah menjadi sepi ‘kicauan mama’. Bila ibu sakit, biasanya akan menular ke anak juga. Anak tidak bisa berpisah sedetik pun dari ibunya. Setiap saat mencari kehadiran bundanya. Bila anak menjadi sakit, hanya dekapan bunda tempat ternyaman bagi mereka. Tapi sang bunda kan juga sedang sakit ?

       Maka segala upaya harus dilakukan agar sang bunda tetap fit. Terlebih lagi bagi saya yang sedang menempuh pendidikan tugas belajar selama setahun ini. Tiga hari meninggalkan anak-anak demi studi. Empat hari lagi bercengkerama bersama mereka. Terkadang perasaan bersalah melanda meninggalkan anak-anak, tetapi percaya semua ini demi masa depan mereka menguatkanku untuk menjalaninya.

      Bila sudah di rumah, jangan harap bisa membuka laptop mengerjakan tugas kuliah. Bila dibuka pasti anak-anak minta main game atau menonton film. Belum lagi harus minta ditemanin menontonnya. Bila sudah di rumah, harus beberes lagi. Apalagi bila hari minggu adalah hari terempong bagiku. Bila bagi kebanyakan orang, hari minggu adalah hari libur dan bersantai, maka tidak bagiku. Pukul 6 pagi harus ke pasar yang berjarak 15 menit bila bersepeda motor. Kegiatan ini wajib, sebab harus menyediakan ikan dan sayur segar untuk di kulkas sebagai bekal mereka selama tiga hari.(Ada ‘bounya’ (kakak suami) yang akan memasak, membereskan rumah dan menemani kedua putriku selama aku di Medan). Selesai belanja, menyiapkan sarapan, membereskan anak-anak dan diri ke gereja pukul sembilannya. Jam 11 sepulang gereja, lanjut lagi berkutat di dapur dengan masak-memasak. Membereskan pakaian mulai dari mencuci, menjemur, mengangkat, melipat dan harus menyetrika. Apalagi pakaian seragam anak TK  dan seragam kerja suami. Di sore hari pukul limanya wajib membawa anak-anak  ke luar rumah. Entah bermain di taman anak atau naik odong-odong atau nongkrong di tempat makan atau ke plaza sambil belanja kebutuhan-kebutuhan yang sudah habis semisal diapers atau sampo anak-anak. Pukul delapan malam harus mengantarkan anak-anak tidur dengan cerita atau lagu  nina bobo. Kemudian berkemas untuk berangkat jam 11 malam dengan kereta api untuk tiba di Medan jam lima paginya. Belum lagi tantangan untuk tetap tidur duduk bila penumpang padat merayap. Tak terbayangkan penatnya raga ini. Berharap ‘seandainya tubuh ini terbuat dari baja’.

     Luar biasa, maka saya harus tetap fit. Sesampai di Medan harus mencari teh manis atau susu hangat demi mengusir si angin. Saya hanya berada di dua tempat, kamar kost dan kampus tetapi tetap memerlukan ‘makanan yang banyak’. Perlu si susu murni, perlu si kue manis, perlu si madu sesendok, perlu si telur sebutir, perlu si buah vitamin C yang biasa saya beli di ibu pedagang buah potong di pintu masuk kampus.

      Makanan bukan untuk energi bergerak tetapi energi otak berpikir. Sebab raga memang diam di depan notebook, tetapi mata, telinga, otak dan hati bisa ke penjuru dunia. Sebab saya harus menerjemahkan buku Initiatives to Improve Quality of Education in the Kurdistan Region—Iraq  yang ditulis  oleh Georges Vernez, Shelly Culbertson, Louay Constant, Rita Karam  dan diterbitkan Rand Publishing tahun 2016 mengenai usaha-usaha peningkatan mutu pendidikan di Irak untuk tugas Critical Review Book. Saya harus membuat analisa SWOT apakah sekolah saya berada pada tahap konsolidasi atau ekspansi untuk tugas Renstra Sekolah sembari mengetik tulisan ini juga. Saya harus menyelesaikan tugas perkuliahan sebab mereka tak akan sempat dilirik bila dibawa pulang ke rumah. Terkadang notebook-nya hang karena di standby hampir 24 jam sehari selama tiga hari penuh. Untung saja bukan pemiliknya yang hang, he..he...

   Tetapi tubuh memang lemah. Batuk-batuk ringan adalah signal bahwa tubuh sedang tidak baik. Maka pesan itu langsung dibaca otak bahwa daya tahan tubuh menurun. Untung saja teman saya si memori mengingatkan ‘emak-emak tidak boleh sakit’. Inginnya istirahat sehari saja, bergelayut dengan guling dan bantal di 'pulau kapuk'. Oh tidak....kedua anakku langsung menyerbu mamanya dan jumping on the bed. Mamanya mengingatkan lewat penggalan lagu bersama suara paraunya ‘mama go to the docter and the docter said no more mongkey jumping on the bed’.
Jus apel dan wortel sebagai booster di kala batuk melanda

        Terpaksalah mama mengeluarkan jurusan andalan yaitu : sekilo apel ditambah tiga buah wortel dimasukkan ke ekstraktor menghasilkan setengah gelas booster alami untukku. Saya percaya sekali pepatah ‘apel sehari akan menjauhkanmu dari dokter’. Sayanganya harga apel lebih mahal lebih beras itulah sebabnya saya membeli  buah apel hanya untuk ‘obat’ saja. Sehari-harinya kami sekeluarga cukup bersyukur mengonsumsi buah lokal yang murah dan sehat : pisang, pepaya, sirsak, jambu merah, tiwung, nenas dll. Selanjutnya, lauk tak boleh digoreng, harus 'diarsik' tanpa cabe dan andaliman (rempah ciri khas masyarakat Batak) dan aku memang suka sekali akan arsik. Apapun boleh diarsik : ikan, tahu, tempe atau ikan teri. Sayur juga tak boleh ‘banyak gaya dulu’. Cukup direbus dengan si bawang putih yang telah dikeprek dan ditumis. Disertai banyak minum hangat. Biasanya satu atau dua hari saja, si batuk akan minggat pulang kampung. Bila belum juga, maka saya akan tetap lanjut denga pola di atas ditambah suplemen.
Ikan arsik ciri khas Batak
Bicara tentang suplemen, ada yang baru ini.  suplemen kaya vitamin dan mineral untuk daya tahan tubuh. Vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Yuk, mencoba si mungil Theragran-M.



"Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho."




Kamis, 25 Agustus 2016

ASI, Obat Mujarab PJB Anakku

 ASI, Obat Mujarab PJB Anakku 

“Iya, ada kebocoran sedikit di antara serambi kiri dan kanannya dan akan terus dievaluasi”, kata dokter kandungan itu.
Serasa kakiku tak berjejak lagi di bumi, entah tercampak di dunia mana saat itu. Tak  kutahu apa itu serambi kiri dan kanan, tak kutahu apa itu evaluasi, yang kutahu ada masalah besar dengan putriku yang baru tiga hari lahir. Masih dalam masa nifas, masih belum kering bekas sayatan di abdomen bawah, masih dalam keadaan bersarung, kupaksa suami untuk mempertemukanku dengan dokter anak.

Kucecar profesor itu dengan berbagai pertanyaan. Ia hanya menjawab pendek-pendek atas berbagai jeritanku. Tidak diketahui apa penyebab, tidak dijelaskan mengapa bisa terjadi seperti itu. “Tidak perlu diberi obat apa pun, hanya akan dievaluasi per enam bulan”,  itu saja jawaban beliau atas ketidakberterimaanku akan apa yang terjadi pada putriku.

Aku hantam suami dengan jeritan, teriakan dan raungan mengapa harus terjadi pada anakku yang oleh para medis disebut Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Ternyata suami sudah mengetahui di 24 jam kelahirannya. Hanya saja khawatir aku akan blooding bila disampaikan. Tapi tidak mungkin tidak diberi tahu, aku ibunya. Maka, dokter itu sendiri yang langsung menyataknanya,  karena suami sendiri pun masih terkejut, suami kelu.

Pulanglah kami dengan awan kelam terbentang di luar sana. “Yang lebih berat dari sini sudah kita lalui bersama”, suami meyakinkanku sambil menuntunku ke mobil setelah lima hari kami di rumah sakit ibu dan anak itu. Kabut hitam mencekam sama seperti saat kami kehilangan putri pertama kami dulu.


HARUS ASI


Harus ASI. Hanya inilah yang melekat di tekadku. ASI akan membantu pertumbuhan berat badannya. Pertumbuhan berat badan yang baik akan membantu menutup kebocoran itu dengan sendirinya seiring pertambahan usianya.

Sayur bangun-bangun, sayur masyarakat Batak untuk pelancar ASI

Berbagai cara kulakukan untuk bisa ASI eksklusif. Minum pil pelancar ASI. Bantai makan sayur daun katuk dan sayur khas orang batak bila melahirkan yaitu sayur daun bangun-bangun. Sebulan masih belum bisa full,  suami bilang karena aku masih stress, belum pasrah sehingga ASImu tidak banyak. Aku berteriak dalam doa, “Tuhan aku mau ASIku banyak demi kesembuhan putriku”. Maka, diberilah aku kekuatan untuk meraih ponselku. Hanya sejangkauan jari, aku membaca, aku belajar dan berubahlah pola pikirku.

Satu dari 10.000 kelahiran di Indonesia adalah bayi dengan Penderita Jantung Bawaan. 90% tidak diketahui apa penyebabnya, 10 % itu bisa karena virus, faktor keturunan dan juga asap rokok. Semakin cepat diketahui, semakin baik untuk cepat ditangani. Bisa menutup sendiri sesuai pertumbuhan berat badannya dan bisa juga harus disembuhkan di meja operasi.

Bayi PJB tidak bisa lama menyusui, sebentar mengisap sudah letih karenanya harus sering-sering diberi ASI. Semakin sering diisap, semakin lancar ASI keluar. Buatlah posisi menyusui senyaman mungkin. Bila ibu tenang, maka proses menyusui sangat nikmat dan bonding semakin melekat makin dalam.

Mulailah aku belajar di AIMI dan Forum Diskusi PJB, ternyata masih banyak yang lebih parah dari anakku. Ternyata banyak yang tidak bisa tertolong walau masih lebih banyak lagi yang dapat tertolong bila cepat diketahui. Ternyata aku tidak sendiri. Ternyata aku mulai belajar bersyukur. Ternyata ASIku cukup untuknya. Ternyata di bulan kedua Giftyku sudah full ASI tanpa bantuan sufor. Ternyata berat badannya bertambah bulan ke bulan setiap kali imunisasi dan menimbang BB. Betapa suami akan mencatat di agendanya ons demi ons yang kami saksikan di neraca bayi itu. Betapa suami bergelut dalam doa puasanya. Betapa kami berjuang demi dia yang kami namai Gifty Charisa. Kado pemberian Tuhan.

Selesai masa cuti PNS tiga bulan. Aku mulai mengajar lagi. Bayiku akan kutinggalkan. Aku akan meninggalkan ASI perah seperti yang juga sudah kupelajari dalam manajeman ASIP. Tetapi suami tidak mendukung, justru semakin khawatir peralatan ASIP tidak steril. Maka kusharingkan kondisi bayiku pada pimpinan di tempatku mengajar. Dengan kebijaksanaan beliau, aku boleh meninggalkan ruangan kelas sekali dua jam asal kelas aman terkendali. Maka, mulailah aku berlalu lalang antara rumah dan sekolah sekali dua jam yang memang hanya sepuluh menit ditempuh dengan mengendarai sepeda motor.

Kami melakukan EKG ke Medan di semester pertama hidupnya. Bersyukur kebocorannya mengecil dan aku semakin gigih lagi khususnya persiapan MPASI. Lagi-lagi banyak belajar dari internet. Tahapan dalam MPASI, bagaimana tekstur, bagaimana persiapan, pengolahan, penyimpanan sampai kepada cara memberikannya. Bahwa baiknya memberi jus buah minimal tiga puluh menit  sebelum makan supaya memudahkan dan memaksimalkan penyerapan makanan dalam tubuh. Bahwa untuk menggenjjot berat badannya maka perlu double karbo dan double protein dan tentu tidak lupa dengan serat sayurannya. Maka, setiap malam aku harus merancang menu semisal nasi dan kentang sebagai karbonya. Gabus berprotein tinggi dengan tahu sebagai proteinnya. Begitu seterusnya, termasuk di dalamnya dalam memberi lemak tambahan. O, iya, mengenai lemak tambahan ada cerita lucu di sana. Bisa dibaca di sini ya.



Gifty di ulang tahun pertamanya

Menjelang perayaan ulang tahunnya yang pertama ada sebuah kisah haru biru juga di sini. Bersyukur kepada Sang Pemilik Hidup. Dia memberi ‘jantung yang baru’.  Berterima kasih untuk Dia, untuk putriku,  untukku, untuk suamiku, untuk kakaknya, untuk doa keluarga, untuk doa teman-teman, untuk doa teman pelayanan. Sebagai wujud terima kasihku, aku menjadi relawan pengampanye ASI bagi orang-orang sekitarku, termasuk tulisan ini diikutkan dalam rangka Pekan ASI Dunia. Aku marah bila ada ibu yang tidak berjuang ASI eksklusif demi buah hatinya. Apa pun alasannya, Tuhan tidak pernah salah memberi ASI pada setiap wanita yang diberi kesempatan menjadi ibu.

Mau bilang, “ASIku sedikit”. Tidak ada ASI sedikit, semakin sering diisap akan semakin banyak.

Mau bilang, “Anakku lebih suka sufor, mungkin ASIku tidak enak”. Semua ASI lezat bagi anak, kalaupun anak lebih senang mengisap botol sufor karena lebih gampang, lebih mudah keluar karena ujung karetnya sudah di beri lubang kecil jadi tidak perlu bersusah payah mengisapnya. Bila mengisap ASI, mulutnya harus bekerja keras mengisap supaya airnya keluar, jadi agak malas bayinya. Makanya jangan sodorkan botol sufor, campakkan itu. Sodorkan ASI saja, mau tak mau bayi akan berjuang mengisap untuk mendapatkan haknya. Sadar atau tidak sadar kita telah mendidik anak bermental pekerja keras saat masih bayi. Sadar atau tidak sadar kita sudah mendidik bayi bermental instan dengan memberi botol sufor.

Mau bilang, “Putingku lecet karena digigit bayi”. Tenang, ada kok obat untuk itu. Selanjutnya menyusuilah dengan posisi yang benar. Posisi menyusui yang salahlah yang membuat puting lecet saat menyusui.

Mau bilang, “Putingku kecil, jadi tidak bisa diisap”. Tenang puting kelelep bisa ditarik. Bahkan ada puting bantuan tersedia di apotek.

Mau bilang, “Aku wanita pekerja”. Gampang, belajarlah manajemen ASI Perah (ASIP), bahkan sekarang sudah tersedia layanan donor ASI.

Mau bilang, “ASIku kering”. Tenang, ASI itu Fleksibel. Walaupun misalnya tidak keluar tiga bulan, bisa kok keluar lagi asal sering diisap.

Mau bilang, “Ah, ASI sama saja khasiatnya dengan sufor”. Apa ? Hei.. move on, selain praktis, murah, bersih, sehat dan pastinya seperti ceritaku ini, ASI, Obat Mujarab PJB Anakku.

Ajaib benar ya, Sang pencipta ASI itu ya.


Salam ASI



Selasa, 24 Mei 2016

Kado Pemberian (Gifty Charisa)


Jangan pernah mencoba mengatur waktu Tuhan. Sebab hanya Dia yang mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaNya. Bukan rancangan kecelakaan tetapi rancangan damai sejahtera,  masa depan yang penuh harapan.

Begitulah aku mencoba memaksa Tuhan menjawab doaku di 12 Agustus 2014. Aku ingin saat ulang tahun pertamanya dia sudah sembuh total. Usia enam bulan pertamanya, lubang itu sudah mengecil saat di EKG. Saran dokter untuk diperiksa kembali saat berusia satu tahun.

Aku mencoba menjumpai Prof.Afif di akhir Juli. Semoga beliau mengizinkan putri cilikku di EKG kurang beberapa hari sebelum hari H. Aku berharap izin itu menjawab doa kesembuhan supayalah penuhlah sukacita kami tepat saat perayaan pertama tahun bahagianya. Ternyata dokter sarankan lewat beberapa hari setelah ulang tahunnya.

Wah, pas di hari itu. Aku tak boleh murung hanya karena harapanku tak berwujud. Aku tak boleh egois, langsung diam dan mengurangi kebahagiaanku. Mengapa tak bersyukur bahwa Tuhan sudah memberi kesempatan membesarkan putri keduaku dengan selamat selama satu tahun. Seandainya bila dia di EKG, lalu hasilnya bilang belum tertutup, apakah aku tetap bahagia atau seperti biasa akau akan merengek-rengek dan merajuk padaNya. Ah, aku tak boleh berlaku begitu kepadaNya dan kepadanya, putri manisku. Dia yang sudah kuminta dari Tuhan. Lantas karena ada sedikit kekurangan lantas aku ingin mencampakkannya. Ah Diana, dia insan berharga, dia milik Sang Pencipta. Jangan pernah menggemgamnya dalam tanganmu. Apapun yang terjadi padanya itu sepengetahuanNya. Tak sehelai rambutnya pun dibiarkan terjatuh tanpa sepengetahuan Sang Penguasa.

Syukurilah kau diberi kesempatan membesarkan, khususnya melalui hari-hari di sepanjang tahun pertama kehidupannya. Pergumulan berbulan-bulan menerima keputusanNYa. Doa berminggu-minggu supaya ASI lancar dengan berbagai sayuran dan obat pelancar. Latihan berminggu-minggu menyuarakan pada pikiran sendiri "jangan stres supaya ASI lancar". Belajar dan belajar lagi metode ASI yang tepat untuknnya. Betapa dia hanya tahan 10-15 menit mengisap, lalu berhenti lagi seolah-olah ASIku habis padahal ASI tak akan pernah habis. Hanya karena mengingat bahwa ASIlah makanan paling baik di seluruh dunia yang bisa menutup lubang kecil itu. Mengharapkan  mujizat terjadi setiap bulan saat akan imunisasi dan berat badannya akan bertambah walau hanya beberapa ons. 

Berterima kasih atas malam-malam panjang kau belajar dari AIMI, HHBF, dan Forum Diskusi PJB. Berterima kasih kepada kepala sekolah yang telah mengizinkanku meninggalkan kelas asal aman terkendali demi menyetor ASI sekali satu atau dua jam. Aku belum belajar membuat ASI perah saat itu. Suami khawatir justru semakin tidak bersih atau steril. Lagipula selain akan semakin banyak dan lancar bila sering diisap, aku ingin bonding kami berdua semakin melekat. Mendoakan supaya ASI menjadi obat dan membisikkan kasih sayangku betapa dia sangat dicintai dan disayangi.

Setelah fakta bahwa lubangnya semakin kecil. Aku semakin semangat memberinya makan di enam bulan pertamanya. Belajar bahwa memberi buah minimal 30 menit sebelum makan akan memaksimalkan penyerapan gizi, maka aku selalu memvariasikan jus buah apa yang harus kuberi. Belajar bahwa memberi double karbo dan double protein mempercepat pertambahan berat badan, maka aku selalu melihat jenis karbo dan jenis protein apa yang paling tinggi. Balajar bahwa anak kecil perlu diberi lemak tambahan, maka aku berburu mencari minyak zaitun. Kalau minyak zaitun untuk kecantikan banyak beredar, tetapi minyak zaitun untuk makanan itu semacam barang mahal di kotaku yang kecil ini.

Begitu banyak alasan untuk bersyukur. Akhirnya aku mengajak suami berfoto studio. Foto yang terpajang besar di ruang tengah rumahku. Gambar yang kujadikan foto sampul FBku sebagai pengingat betapa kuharus bersyukur atas usia satu tahunnya itu.
Foto Bersama 12 Agustus 2013

Saya dan suami sepakat akan membuat perayaan bersama keluarga besar kami pada tanggal 26 Agustus, bersamaan ulang tahun kakaknya yang ketiga. Iya, aku hanya mempunyai dua orang putri yang bulan kelahirannya sama di bulan kemerdekaan kita.

Perayaan Ulang Tahun Pertama Gifty bersama kakaknya 26 Agustus 2013

Akhirnya, doa itu terjawab di akhir bulan. Hasil EKG menyatakan bahwa kebocoran jantung bayiku sudap tertutup. Terima kasih Tuhan. Inilah kado terindah buat putriku di ulang tahunnya. Kado yang diberikan dalam waktu Tuhan. Kami menamainya Gifty Charisa boru Marpaung. Kado pemberian Tuhan.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke lima Warung Blogger



Multiples Approaches to Understanding

 Pendekatan Multiple Untuk Pemahaman
      Salah seorang siswa Dr. Gardner pernah bertanya, “Dr. Gardner bagaimana saya mempratikkan teori itu jika saya tidak mengerti?”. Beliau beprikir sebentar lalu menjawab, “ Engkau tidak akan pernah mengerti teori itu jika tidak mempraktikkannya dan mempraktikkannya lagi”.
     Masalah besar guru dalam mengajar adalah bagaimana membuat anak didik benar-benar paham akan materi yang diterangkan. Beberapa contoh anak yang ‘gagal paham’ :
  1.    Fisika : anak SMA gagal menjelaskan usaha dari koin yang diundi atau alasan perbedaan suhu di musim panas atau salju. Jawaban mereka sama saja dengan anak kecil yang belum pernah mendengar fisika. 
  2.     Matematika : hanya menghapal rumus, bila diubah sedikit saja bentuk rumus sudah mulai bingung. Mereka tidak memahami benar-benar rumus itu.
  3.     Ilmu sosial : tidak suka akan naskah yang panjang


    Gardner memberikan beberapa pendekatan untuk meningkatkan pemahaman :
  1. Pendekatan observasi : contohnya pergi langsung ke museum. Siswa bisa melihat dan meraba sendiri kemudian bisa menceritakan kembali di kelas.
  2. Pendekatan konfrontasi : selalu menggunakan rumus yang biasa, dapat ditantang memakai atau membuat rumus sendiri. 
  3. Pendekatan sistematik : guru memberi tujuan pembelajaran secara eksplisit, korelasi, dan sharing perspektif kepada siswa.


Entri Poin

Dari ketiga pendekatan itu Gardner lalu mengembangkan tujuh entri point dalam membantu pemahaman siswa yang hampir sama dengan kecerdasan spesifik.
  1.  Narasi: Bagi siswa yang menikmati belajar melalui cerita.
  2. Kuantitatif/numerik: bagi siswa yang suka memilih angka dan pola. 
  3. Logika : kemampuan berpikir deduktif dan induktif 
  4. Eksistensi : Ini bisa menjadi titik masuk bagi siswa yang ingin tahu tentang jenis pertanyaan yang mendasar. 
  5. Estetika: Berniat untuk menarik siswa yang terinspirasi oleh karya seni. 
  6. Kinestetik  untuk siswa yang "belajar dengan berbuat"
  7. Sosial: Memanfaatkan dalam efektivitas kelompok belajar dimana siswa dapat berinteraksi satu sama lain dan menganggap peran yang berbeda.

Dibutuhkan Teknologi
Aliran fundamental dengan tegas berkata bahwa makna dan tujuan pendidikan seharusnya tidak bergantung pada teknologi tetapi menurut Gardner pendidikan tidak boleh menolak teknologi. Bukankah pendidikan telah memakai tekologi itu walau dalam bentuk sederhana sekalipun seperti buku, pensil, kertas, peralatan seni atau laboratoriun biologi yang sederhana.
Guru dapat membuat kurikulum sendiri di kelas tetapi teknologi dapat membantu melayani guru dan siswa. Sangat mungkin menciptakan software untuk setiap kecerdasan yang berbeda, menyediakan ruang untuk setiap entri poin, mengizinkan siswa untuk mengungkapkan pemahaman mereka masing-masing dalam simbol yang berbeda (bahasa, musik, grafis dll). Guru juga  dapat memeriksa tugas siswa dengan cepat, fleksibel atau sangat memungkinkan dilakukan walaupun dengan jarak jauh. Terima kasih kepada email, web, video conference dan sebagainya.
            Pengetahuan tidak sama dengan moralitas. Tetapi jika anak benar-benar paham suatu materi maka dapat mempengaruhi anak-anak untuk berbuat baik atau buruk. Gardner dengan tegas berkata ‘pendidikan harus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman’.

Implikasi Pada Pendidikan
Saya setuju bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda seperti kecerdasan ganda Howard Gardner yag terkenal itu. Pemahaman ini harus membuat guru belajar keras untuk dapat memenuhi kebutuhan individu anak yang berbeda. Bersyukur teknologi hadir membantu guru memfasilitasi gaya belajar siswa yang berbeda.
Ada anak yang cerdas bahasa, maka guru dapat menerangkan dengan bahasa. Ada anak yang cerdas musik maka guru dapat menyisipkan musik dalam ppt dan tentunya guru harus belajar lagi bagaimana manambahkan musik dalam pptnya. Ada anak yang cerdas gambar atau grafis maka guru bisa berangkat dari gambar-gambar saat mulai menstimulasi anak. Ada yang cerdas kinetik maka guru dapat memakai metode praktik dalam latihannya.
Selain membantu mengajar, teknologi juga dapat membantu guru dalam mengoreksi dan membuat nilai dengan cepat. Teknologi juga dapat membantu guru mengajar jarak jauh bila berhalangan hadir, misalnya dengan meninggalkan video camtasia. Dengan video ini guru tetap dapat menerangkan materi dan juga menuntun anak mengerjakan latihan. Tidak seperti selama ini, bila guru tidak hadir hanya meninggalkan catatan untuk disalin kembali pada anak-anak. Biasanya mereka akan menyalinnya di kamera hp masing-masing.
Tampaknya guru-guru kita belum siap dnegan pembelajaran berbasis teknologi ini :
1.      Masih banyak guru yang tidak bisa menggunakan laptop
Jangankan untuk menngunakan laptop, memilikinyapun masih banyak yang belum. Bahkan ada sebuah kabupaten, kepala dinasnya memaksa gurunya wajib membeli laptop khususnya yang baru pertama kali menerima dana sertifikasi maka langsung dipotongkan untuk membeli laptop tersebut.

Lima Keterampilan TIK yang harus dimiliki seorang guru
1. Mampu mengoperasikan komputer. Standarnya mampu menghidupkan, mengoperasikan, dan mematikan komputer dengan benar. Lebih jauh lagi mengerti hardware dan software komputer plus skill ilmu komputernya.
2. Menguasai aplikasi perkantoran (Office), wordprocessor (word), spreadsheet (excel), oresentations (powerpoint). Syukur-syukur mengerti aplikasi pengolah database semacam acces, dan lainya.
3. Mengerti internet. Minimal akrab dengan situs pencarian seperti google, email, wiki, upload-download, dan pengetahuan internet standar lainya. Lebih bagus lagi mengerti blogging, dan situs e-learning lainya.
4.  Mengerti manajerial data dikomputer. Standarnya mampu membuat folder, copy-paste.
5. Memiliki pengetahuan standar mengenai software pendukung lainya, semacam winrar, pdf, player, dan lainya.

Maka kepala sekolah dapat membuat latihan di sekolah misalnya memotivasi guru-guru TIK atau guru bidang studi lain tapi bisa dalam kemampuan dasar tersebut untuk mengajari guru-guru yang belum bisa yang biasanya guru-guru seperti ini adalah guru tua atau lebih halusnya lagi guru senior. Selain itu guru juga harus punya kemauan belajar sendiri. Bukankah pemerintah memberikan dana sertifikasi untuk meningkatkan profesionalisme guru.



2.      Masih banyak guru yang belum paham dengan kecerdasan ganda dan bagaimana menerapkannya dalam kelas.

Saya menyertakan beberapa penelitian yang menerapkan penggunaan teknologi dalam pembelajaran kecerdasan ganda di kelas.
Jenis Kecerdasan
Metode
Alat
Linguistik
Membaca dan menghafal
Kartu istilah
Kertas Karton spidol warna warni
Matematis Logis
Uji urutan tahapan pengelolaan UP
Uji besaran UP
Potongan kertas yang berisi urutan tahapan pengelolaan UP
Ruang / Spasial
Tebak kartu dan lafalkan angkanya
Kartu dengan berbagai bentuk dan warna yang berisi angka pembukuan
Kinestetis
Berjalan, tulis dan hubungkan
Flip chart yang ditempel di dinding sebagai lembar kerja
Musikal
Melalui musik, lagu nilai-nilai Kemenkeu
Tape recorder
Interpersonal
Pesan berantai
Soal bersambung
Intrapersonal
Mengetahui diri sendiri melalui orang lain, pembagian kelompok
Peluit, pensil buku tulis
Naturalis
Mind mapping
Kertas origami berbentuk bunga/ buah/ daun
Eksistensial
Pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”
Post it

Contoh lain dari beberapa affordances kecerdasan teknologi di dalam kelas CasaCanada (2000) meliputi :
ü  Wordprocessing, desktop publishing, blogging dan email (linguistik)
ü  Datahandling, memecahkan masalah, petualangan permainan, pemrograman - menggaruk Logis [1] - matematika)
ü  Menggambar / paint program, 3D pemodelan perangkat lunak, robot lantai, penyu grafis [2] (Visual - Spasial)
ü  Podcasting, komposisi software - Garageband (Musical - aural)
ü  Titik / klik petualangan permainan, animasi (tubuh - kinestetik)
ü  Program kerjasama, sosial jaringan - Club Penguin dll (Interpersonal)
ü  Blog pribadi - reflektif (Intrapersonal)

Guru dapat belajar mandiri membaca artikel dan menerapkannya. Mungkin belum bisa, tapi bila sudah bisa akan menjadi biasa. Mungkin belum mengerti tetapi bila dipraktikan akan mengerti. Sama seperti kalimat Gardner di awal makalah ini saya kutipkan kembali sebagai penutup, “Engkau tidak akan mengerti teori itu jika tidak mempraktikannya dan mempraktikkannya lagi”.



Sumber Literatur
1.      Chapter 10 : Multiple Approaches To Understanding (Gardner, H.(1999). Intelegence Reframed : Multiple Intellligences for 21 century