EMAK-EMAK
DILARANG SAKIT
![]() |
| Bersama kedua putriku di taman bermain |
Maka segala upaya harus dilakukan agar
sang bunda tetap fit. Terlebih lagi bagi saya yang sedang
menempuh pendidikan tugas belajar selama setahun ini. Tiga hari meninggalkan anak-anak demi studi.
Empat hari lagi bercengkerama bersama mereka. Terkadang perasaan bersalah
melanda meninggalkan anak-anak, tetapi percaya semua ini demi masa depan mereka
menguatkanku untuk menjalaninya.
Bila sudah di rumah, jangan
harap bisa membuka laptop mengerjakan tugas kuliah. Bila dibuka pasti anak-anak
minta main game atau menonton film. Belum lagi harus minta ditemanin
menontonnya. Bila sudah di rumah, harus beberes lagi. Apalagi bila hari minggu
adalah hari terempong bagiku. Bila bagi kebanyakan orang, hari minggu adalah
hari libur dan bersantai, maka tidak bagiku. Pukul 6 pagi harus ke pasar yang
berjarak 15 menit bila bersepeda motor. Kegiatan ini wajib, sebab harus
menyediakan ikan dan sayur segar untuk di kulkas sebagai bekal mereka selama
tiga hari.(Ada ‘bounya’ (kakak suami) yang akan memasak, membereskan rumah dan
menemani kedua putriku selama aku di Medan). Selesai belanja, menyiapkan
sarapan, membereskan anak-anak dan diri ke gereja pukul sembilannya. Jam 11
sepulang gereja, lanjut lagi berkutat di dapur dengan masak-memasak.
Membereskan pakaian mulai dari mencuci, menjemur, mengangkat, melipat dan harus
menyetrika. Apalagi pakaian seragam anak TK dan seragam kerja suami. Di sore hari pukul
limanya wajib membawa anak-anak ke luar
rumah. Entah bermain di taman anak atau naik odong-odong atau nongkrong di tempat makan atau ke plaza sambil belanja kebutuhan-kebutuhan yang sudah habis semisal diapers atau sampo
anak-anak. Pukul delapan malam harus mengantarkan anak-anak tidur dengan cerita
atau lagu nina bobo. Kemudian berkemas untuk
berangkat jam 11 malam dengan kereta api untuk tiba di Medan jam lima paginya.
Belum lagi tantangan untuk tetap tidur duduk bila penumpang padat merayap.
Tak terbayangkan penatnya raga ini. Berharap ‘seandainya tubuh ini terbuat dari
baja’.
Luar biasa, maka saya harus tetap
fit. Sesampai di Medan harus mencari teh manis atau susu hangat demi mengusir
si angin. Saya hanya berada di dua tempat, kamar kost dan kampus tetapi tetap
memerlukan ‘makanan yang banyak’. Perlu si susu murni, perlu si kue manis,
perlu si madu sesendok, perlu si telur sebutir, perlu si buah vitamin C yang biasa saya beli di ibu
pedagang buah potong di pintu masuk kampus.
Makanan bukan untuk energi bergerak tetapi energi
otak berpikir. Sebab raga memang diam di depan notebook, tetapi mata, telinga,
otak dan hati bisa ke penjuru dunia. Sebab saya harus menerjemahkan buku
Initiatives to Improve Quality of Education in the Kurdistan Region—Iraq yang ditulis
oleh Georges Vernez, Shelly Culbertson, Louay Constant, Rita Karam dan diterbitkan Rand Publishing tahun 2016 mengenai usaha-usaha peningkatan mutu pendidikan di Irak untuk tugas Critical Review Book. Saya harus membuat analisa SWOT apakah sekolah saya
berada pada tahap konsolidasi atau ekspansi untuk tugas Renstra Sekolah sembari mengetik
tulisan ini juga. Saya harus menyelesaikan tugas perkuliahan sebab mereka tak
akan sempat dilirik bila dibawa pulang ke rumah. Terkadang notebook-nya hang karena di standby hampir 24 jam sehari selama tiga hari penuh. Untung saja
bukan pemiliknya yang hang, he..he...
Tetapi tubuh memang lemah.
Batuk-batuk ringan adalah signal bahwa tubuh sedang tidak baik. Maka pesan itu
langsung dibaca otak bahwa daya tahan tubuh menurun. Untung saja teman saya si
memori mengingatkan ‘emak-emak tidak boleh sakit’. Inginnya istirahat sehari
saja, bergelayut dengan guling dan bantal di 'pulau kapuk'. Oh tidak....kedua
anakku langsung menyerbu mamanya dan jumping on the bed. Mamanya mengingatkan
lewat penggalan lagu bersama suara paraunya ‘mama go to the docter and the
docter said no more mongkey jumping on the bed’.
| Jus apel dan wortel sebagai booster di kala batuk melanda |
Terpaksalah mama mengeluarkan
jurusan andalan yaitu : sekilo apel ditambah tiga buah wortel dimasukkan ke
ekstraktor menghasilkan setengah gelas booster alami untukku. Saya percaya
sekali pepatah ‘apel sehari akan menjauhkanmu dari dokter’. Sayanganya harga
apel lebih mahal lebih beras itulah sebabnya saya membeli buah apel hanya untuk ‘obat’ saja.
Sehari-harinya kami sekeluarga cukup bersyukur mengonsumsi buah lokal yang
murah dan sehat : pisang, pepaya, sirsak, jambu merah, tiwung, nenas dll.
Selanjutnya, lauk tak boleh digoreng, harus 'diarsik' tanpa cabe dan andaliman (rempah ciri khas masyarakat Batak) dan aku memang suka sekali
akan arsik. Apapun boleh diarsik : ikan, tahu, tempe atau ikan teri. Sayur
juga tak boleh ‘banyak gaya dulu’. Cukup direbus dengan si bawang putih yang
telah dikeprek dan ditumis. Disertai banyak minum hangat. Biasanya satu atau dua hari
saja, si batuk akan minggat pulang kampung. Bila belum juga, maka saya akan
tetap lanjut denga pola di atas ditambah suplemen.
![]() |
| Ikan arsik ciri khas Batak |
Bicara tentang suplemen, ada yang baru ini. suplemen kaya vitamin dan mineral untuk daya tahan tubuh. Vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Yuk, mencoba si mungil Theragran-M.
"Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho."











Tak heran jika wanita disebut penolong. Karena sesungguhnya dia lebih kuat. Salut
BalasHapusYup...
Hapus“Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia”( Kej 2:18)
Bnar kk klu bunda tak bole skit. Klu bunda skit berabe smuaya. Smgt mnulis kk.
BalasHapusNikmat rasanya jadi emak-emak.
Hapusgret...aku mau jg jd emak2, kykya kenikmatan hidup seorang emak2 beda degan single. mau mau mauuuuuuuu....mau merasakan semua yg dirasakan emak2 jg
BalasHapusYoi...semoga s3 segera terwujud ya (s2 dan suami)
HapusTheragran-M emang membantu banget buat memulihkan kondisi sakit, aku pun sudah mencobanya. Bahkan saat sehat pun bisa di konsumsi sebagai vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh
BalasHapusBtw komentar baliknya ya Mbak di artikelku yg Theragran juga, terimakasih :-)