Tak banyak yang bisa kukenang darinya tapi sepanjang aku bisa mengingat kebersamaan kami, betapa aku tahu ia sangat menyayangiku
Mungkin karena adat suku Batak yang membuat hubungan kami kaku dan juga kebiasaan lamanya membuat aku menjauh darinya. Tapi lagi-lagi mengapa dari kejauhan pun dia tahu apa yang terdalam di hatiku.
Waktu itu, aku melihat paduan suara anak-anak di TVRI, terkesan akan seragam mereka maka kuminta ibu menjahitkan baju Natal seperti yang kumau. Baju itu akan kupakai saat liturgi Natal Sekolah Minggu di gereja. Sayangnya, saat baju itu selesai aku malah cemberut berhari-hari.
Tak berani meminta baju yang lain karena jatah cuma satu baju yang boleh, selain itu menjahitkan baju di masa itu sangat mahal. Entah mengapa, dia yang tak pernah di rumah bisa tahu makna cemberutku, “Pergi kalian ke Kanopan, cari baju Natal-nya yang lain”, perintahnya pada ibuku.
Sekali waktu, teman sekelas mengejekku dengan sebutan 'memble' yang aku tahu itu adalah ejekan untuk ayahku, maka dengan segera kulempar tas sekolahku sehingga talinya putus sementara gerombolan anak-anak es de semakin puas menertawaiku.
Pulangnya aku mengadu ke ibu, “Buatlah prestasimu sehingga mereka tak akan menghina ayahmu lagi", tutupnya ringkas atas sesenggukanku dan itu menjadi motivasi terbesar untuk bisa juara kelas.
Aku semakin tenggelam akan ambisi supaya keluarga kami tidak disepelekan dan ayah pun semakin kaku dalam kerja kerasnya. Hingga aku wisuda, duduk di sebelahku sebagai penghargaan atas prestasi putrinya. Ada bangga yang tak pernah diungkapkannya padaku tapi itulah yang membuatnya berubah perlahan-lahan.
Ketika mamaku ngotot akan menolak lamaran keluarga suami karena masalah 'sinamot', ayahku dengan rendah hati menyetujui jumlah 'sinamot' itu sembari berpesan, "Yang penting nanti keluargamu bagus-bagus".
Terkadang aku hanya bisa membelikan sepotong kemeja batik untuknya atau mengiriminya mujair asam manis sesekali tapi minimal sekali seminggu aku harus meneleponnya untuk bertanya kabar. Sampai kepada waktu dia sakit, ingin rasanya segera berlari mengantarkan mujair asam manis itu ke rumahnya, tapi aku hanya bisa sampaikan hatiku ke telinganya, "Sabar ya Pak, kalau sudah tua memang tubuh akan melemah dan kita bersyukur ada Kristus yang telah mengalami kesakitan itu dan akan terus menanggung kesakitan kita".
Foto ini diambil saat pesta pernikahan adik terkecilku di Agustus 2016. "Ayok, Pak, foto bersama mama, pengantin tuanya", ledekku dengan bangga kala itu. "Ya, siapa tahu ini yang terakhir kalinya", balasnya bercanda. Dan siapa sangka, Oktober 2016, aku menjerit karena kepergiannya.
![]() |
| Foto Terakhir Ayah |
Aku menyesal mengapa tak banyak kenangan bersamanya. Mengapa aku tak mengingat pernah digendong di pundaknya atau dibonceng di sepedanya. Aku mencari kenangan pernahkah dia hadir mengambil rapot putri sulung dan sekaligus boru sasadanya ini. Bahkan, aku ingin mengenang pernahkah dia sekedar mengusap kepalaku. 😢
Satu hal yang akan selalu kukenang di saat terakhir bersamanya adalah penyerahan hidupnya kepada Sang Pemilik. Sebab aku yakin barang siapa percaya dalam hatinya dan mengaku dengan mulutnya bahwa Kristus adalah Tuhan, maka Ia akan diselamatkan.
Teleponlah Ayahmu Sekarang dan buatlah kenangan bersamanya.








Kakak membuatku menangis ðŸ˜ðŸ˜. Aku teringat bapakku. Dimasa tuanya, dia merindukan menantu dan cucu dariku dan adik2ku. ðŸ˜ðŸ˜
BalasHapusTeleponlah sekarang. Tulisan ini juga sebagai pengingat bagi yang masih mempunyai ayah, he..he...
HapusAh iya, jadi ingat ayah saya yang baru meninggal awal tahun ini.
BalasHapusSelalu saja kita punya kenangan terhadap ayah, iya kan mbak
HapusCara ayah dan mamak memberikan kasih sayang untuk anaknya beda-beda, ya Mbak. Aku lebih dekat sama Mamak daripada sama ayah. Tapi aku tau, ayah pun sayang sama aku
BalasHapus