Curhatan Bunda

Selasa, 10 Mei 2016

Menjadi Jutawan Lewat Tulisan


'Mau Jadi Jutawan Lewat Tulisan’ adalah tajuk postingan pertama saya ketika membuat blog di akhir tahun 2014 lalu. Tulisan kosong yang menjadi popular entry hanya karena judulnya saja. Judul yang menjadi impian yang sedang saya kejar walau tidak menargetkan waktu untuknya. Berani bermimpi akan menjadi sayap untuk terbang membubung ke angkasa. 

Karangan saya yang berjudul ‘Intenfikasi dan Ekstensifikasi Pertanian pernah mewakili sekolah untuk ikut lomba mengarang tingkat kecamatan kala saya kelas 6 SD. Seingat saya tidak ada hasil. Memori ini menyemangati bahwa saya sebenarnya berbakat menulis walau bakat tak boleh ‘dikambingputihkan’ untuk menjadi penulis. 

Sampai saya menjadi guru sejak 2003, impian bahwa sketsa dan kumpulan soal yang saya pakai mengajar les sore persiapan Ujian Nasional kelas XII akan menjadi buku dan terbitlah 'Intisari Bahasa Indonesia untuk SMA' tahun 2008 . Walau belum best seller, saya tetap bermimpi akan menerbitkan buku lagi. Setidaknya saya sudah memberi sumbangsih untuk pendidikan Indonesia. Meninggalkan jejak dalam tulisan yang akan direkam oleh sejarah kelak. 
 Sampai saya tetap setia menulis to do list setiap paginya, menuliskan pemikiran-pemikiran yang terbersit saat mengajar dan menjadi seorang ibu di sebuah buku agenda guru. Mencurahkan apa yang di hati dan di pikiran setiap hari akan melatih kemampuan merangkai kata menuju paragraf-paragraf koherensif. Menikmati bahwa menulis adalah membebaskan. Meyakini bahwa verba volant scripta manent, ‘yang diucapkan akan berlalu dan dituliskan akan kekal’. Memercayai bahwa tulisan bisa menembus batas waktu dan tempat. Mengimani bahwa segala tulisan yang diilhamkan memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 

Sampai saya bergabung di Kompasiana di akhir tahun 2014 walau secara tak sengaja lewat even menulis ‘Mengapa Guru Harus Menulis’. Meski belum pernah menang, saya percaya tulisan di Kompasiana akan menjadi referensi, sama seperti halnya saya sering mengambil referensi dari Kompasiana demi tugas-tugas perkuliahan saya. Saya curiga mengapa para kompasianers mempunyai banyak pembaca, padahal baru beberapa menit tayang. Hasil pembelajaran menulis di Kompasiana saya testimonikan lewat even ‘Dear Diary’.
Sampai saya mulai bergabung dengan komunitas penulis, seperti SWC yang menyelenggarakan writing challenge seminggu dalam sebulan. Setidaknya saya menghasilkan minimal tujuh buah tulisan dalam sebulan. Bergabung dengan para komunitas penulis membuat saya berangkat dari sebuah lomba kepada lomba menulis berikutnya. Sampai saya jatuh cinta pada pendidikan. Cinta, harapan, kasih sayang , keraguan, kecemasan, kekuatiran yang saya nikmati sebagai guru dan seorang ibu dituangkan di Diana Note’s

Bersyukur bulan ini saya belajar bagaimana mempercantik blog. Yang saya tahu selama ini blog itu ibarat rumah dan saya isi dengan berbagai perabot seperti lemari, pakaian atau tempat tidur. Ternyata barang-barang itu bisa dirapikan dalam sebuah kamar atau laman. Pengalaman ini saya rekam dalam sebuah media pembelajaran di sini. Sampai saya juga sedang mempersiapkan sebuah ruang pembelajaran bahasa Indonesia SMA/SMK. Tahun ajaran baru mendatang akan menerapkan Kurikulum 2013 kembali. Salah satu ciri khas  K 13 adalah ‘menghasilkan’, membuat karya dan mengomunikasikannya lewat publikasi ke berbagai media di internet. Tak heran banyaknya slide share, scrib dan youtube yang diunggah siswa sehingga saya membangun pertemanan dengan anak-anak sekolah di Google Plus. 
Prihatinnya beberapa blog isinya sama. Punya guru mana ? Padahal guru bisa leluasa mengajar seperti di depan kelas dalam blog. Lagipula ini era anak belajar berbasis digital. Peluang besar yang saya lihat adalah jumlah pembaca wajib bila blog dijadikan media pembelajaran. Guru wajib membawa 24 jam, berarti mengajar di 12 kelas kali 30 orang per ruangan, maka 360 siswa akan pasti berkunjung ke blog tersebut. Bertepatan juga kami mempunyai koleksi soal-soal yang tadinya sudah direncanakan akan ditawarkan penerbit, lebih efisien naskah itu diterbitkan saja di ruang maya ini. Lagipula trendnya siswa lebih suka membaca di gadget mereka daripada di sebuah buku. 

Selanjutnya yang sedang saya usahakan untuk membangun sebuah wahana belajar guru. Salah satu mata kuliah saya di pascasarjana konsentrasi kepengawasan adalah Analisis Kebijakan Dikmen. Diterangkan bahwa guru wajib mengikuti Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Apapun jenis dan tingkat PKB tersebut setiap guru wajib mengakhirinya dengan Uji Kompetensi Guru (UKG). Hal ini menjadi peluang bisnis on line. Saya sudah mencoba menghubungi teman yang berbasis Teknologi Informasi Komputer (TIK) untuk membantu membuat latihan UKG seperti ini. Belum bersambut tetapi setidaknya masih ada teman Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang seide dengan saya, walau hanya berdua. Bukan tanpa kendala. Bagaimana tetap konsisten menghasilkan minimal satu tulisan satu minggu. Semoga mimpi akan berwujud. 

0 komentar:

Posting Komentar