Curhatan Bunda

Senin, 23 Mei 2016

Rahel, Si Bayi Tantrum

Minggu, 14 Februari 2016
Tak bisa tidur dalam perjalan kereta api enam jam menuju Medan malam ini. Bukan aku saja, seluruh penumpang dalam gerbong ini menggerutu akibat tangisan seorang anak usia satu tahun. Rewel terus sepanjang perjalanan, mungkin hanya dua jam saja ia tenang tertidur akibat keletihan.
Apakah kelaparan? Ia tidak mau diberi ASI. Apakah kedinginan ? Topi, kaus kaki dan selimut yang akan dipakaikan ditarikinya semua. Apakah sedang sakit? Ibunya bilang ia tadi sehat dan masih tenang sebelum kereta berjalan. Apakah ia ketakutan ? Tangisnya seperti tidak nyaman begitu. Apakah ia benar-benar trauma dengan goncangan dan suara kereta yang menderu-deru ?
Sudah dibujuk, dinyanyikan lagu bahkan didekap bundanya tapi tangis itu terhenti sebentar kemudian menangis lagi. Ada juga dua anak gadis beserta ibu muda ini, mereka juga mencoba menenangkannya dengan apa yang bisa mereka lakukan. Memanggil lembut, “Rahel, Rahel”. Memberi mainan atau musik dari gadget mereka. Meneleponkan seseorang yang mungkin adalah ayah bayi itu. Membawanya berjalan-jalan sepanjang gerbong dan tampak semua usaha belum memberi hasil.
Penumpang galau, tua muda, laki-laki ataupun perempuan. Semua protes dengan berbagai caranya masing-masing walau ada juga yang tidak peduli, mencoba menidurkan dirinya dengan merapatkan bantal ke telinganya (mungkin itu juga bagian dari aksi protes mereka). Ada yang bilang mungkin kelaparan. Ada yang berseru mungkin kedinginan. Ada yang berkata mungkin rindu pada ayahnya. Ada yang menyuruh membawanya berjalan-jalan dulu. Bahkan ada seorang ibu menyarankan pindah gerbong, mungkin ‘penghuni’ tempat duduk mereka mengganggu bayi itu. Semua berkomentar, 64 orang ditambah dua orang petugas kereta api yang khusus datang untuk menawarkan bantuan karena ketidaknyamanan penumpang malam ini.
Ibu muda itu sudah letih, mencoba berulang-ulang melaksanakan saran para penumpang. Bahkan dia marah dan sedikit menghentakkan suaranya. Ia malu dan canggung dan tak kuasa membendung titik air mata itu. Aku terhenyak, hampir menangis juga karena begitulah perasaanku bila anakku Gifty sedang tamtrum. Kutawarkan diri menggendongnya karena iba melihat kelelahan mamanya, eh, ia semakin meronta memeluk erat mamanya. Aku mundur, justru anak itu akan semakin tidak nyaman dengan orang asing, pikirku. “Sabar ya, memang beginilah kita mamak-mamak ini”, kataku sambil menepuk pundak mamanya.
Aku kembali ke tempat dudukku dua baris tepat di belakang mereka. Aku berdoa dalam hati semoga mamanya tenang supaya anaknya juga tenang. Aku berdoa semoga Rahel diliputi damai sejahtera seraya bersenandung kecil dalam hati, ‘Allah kuasa melakukan segala perkara, Allahku Maha Kuasa. Ia ciptakan seisi dunia, atur segala masa. Allahku Maha Kuasa’.

0 komentar:

Posting Komentar