Curhatan Bunda

Minggu, 08 Januari 2017

Tulislah Mimpi-Mimpimu

Tulislah mimpi-mimpimu! Ya, harus ditulis ya, dan lihatlahlah rahasia sebuah tulisan dan nikmatilah  keajaiban sebuah mimpi.

Saya selalu menulis resolusi sejak mengikuti sebuah seminar organisasi kerohanian kampus yang bertema manajemen diri.  Topik pengembangan diri meminta kita  menuliskan  mimpi 10 tahun yang  akan datang kemudian dirinci  dalam waktu lima tahun dan per tahunnya serta langkah-langkah hariannya. Saya sudah melihat rahasia tulisan itu dan menikmati keajaiban mimpi itu. Misalnya saja tahun ini untuk pertama kalinya saya naik pesawat. Pertama kalinya pergi ke luar negeri dan belajar sambil berwisata  di Australia. Mendapat beasiswa pascasarjana  dan menikmati hadiah dari lomba menulis blog. Biasanya saya menulis di agenda atau menempelkannya di meja belajar. Kali ini, saya harus berani terbuka membagikan mimpi-mimpi saya. Secara saya kan si introvert tertutup.

Sebelum membuat resolusi, tentu kita harus melihat diri sebelumnya. Melihat kekuatan dan kelemahan. Melihat apa yang tercapai dan apa yang gagal. Melihat apakah saya sedang jalan di tempat. Melihat grafik perjalanan hidup supaya menjadi lebih bermakna dan menjadi berkat.

Tahun 2016 bagiku menjadi tahun yang amat repot dan berat. Repot karena status baru sebagai mahasiswa pascasarjana membuatku harus bijak mengatur waktu. Tiga hari kuliah dan menjadi anak kost di ibu kota provinsi kemudian empat hari lagi harus ‘ada’ bersama anak-anakku di kota ini,  ibukota Kabupaten Labuhan Batu. Menjadi lebih repot lagi  karena aku harus  ‘nangkring’ di depan laptop hampir 24 jam demi tugas perkuliahan supaya bebas kendala dan bebas tugas kala bercengkerama bersama anak-anak.  Menjadi sangat berat apalagi bila anak-anak sakit. Sakit demam batuk, pilek tapi membuat saya sangat panik.  Soalnya bila si kakak terkena pasti akan menular pada si adik. Walaupun sudah dipisahkan tempat tidurnya, mereka tak bisa dilarang untuk saling bertengkar untuk kemudian semakin mesra bermain bersama lagi. Apalagi bila mendengar teman yang mencibir,
“Untuk apa si kau S2? Mau jadi kepala sekolah? Wong anak-anakmu rentan sakit”,  
“Sudahlah kau sudah sejahtera dengan gaji dan sertifikasimu, apalagi yang mau kau kejar”,
“Bukan hanya kau saja yang punya cita-cita, kami pun punya mimpi setinggi langitnya tapi kalu sudah punya anak semua  itu  harus dikesampingan”, .

Semua itu semakin melecutku untuk bangkit. Toh, tidak ada jaminan bila aku tidak S2 maka anakku tidak akan sakit. Semua ibu-ibu pasti mengalami balitanya rentan sakit bahkan bisa tiap bulan. Tekadku bahwa aku harus bisa sekolah pascasarjana hanya karena beasiswa. Selain karena memang aku tidak punya dana, beasiswa bagiku adalah prestasi dan prestise. Maka mulailah aku ‘mencari’ berbagai tawaran beasiswa. Mulailah aku ‘melihat’ bagaimana membuat esai diri. Mulailah aku ‘melirik’ tes TOEFL dan psikotes. Saat kesempatan itu di depan mata, haruskah kulepas ? Sementara ada teman-teman yang sudah tiga kali dalam tiga tahun mencoba ujian beasiswa itu. Ada juga yang begadang larut malam demi ujian itu. Ada juga yang sudah lulus tetapi tidak diizinkan oleh pemdanya untuk tugas belajar. Aku percaya studiku akan menjadi sesuatu yang baik, akan menjadi berkat.

Tahun ini juga menjadi tahun yang sangat berat karena pencobaan datang di trimester akhir . Mendadak Bapak sakit parah di awal Oktober. Kalut, galau dan berkecamuk saat Bapak diopname. Tuhan memanggil Bapak ke rumahNya. Tak beberapa hari berselang kami ‘piknik’ dari rumah sakit ke rumah sakit. Aku dan kedua putriku harus bolak-balik diopnamekan karena demam berdarah yang sedang mewabah di daerah kami. Biaya perobatan Bapak,  biaya adat pengebumian orang Batak yang menelan dana puluhan juta (walau ditanggung bersama anak-anaknya), biaya pengobatan di rumah sakit (rumah sakit umum dan rumah sakit swasta penerima BPJS  penuh, terpaksalah dua kali kami ke rumah sakit swasta dengan biaya delapan ratus ribu per malam), biaya perawatan pascasakit di rumah (yang biasanya daging hanya satu kali seminggu terpaksa dua kali sehari, yang biasanya buah pisang dan pepaya murah meriah terpaksa harus beli anggur dan apel untuk booster) telah menguras habis tabungan kami dan menyisakan 'tabungan utang'.

Berdasarkan kisahku tadi maka resolusi pertama di tahun 2017 adalah melunasi semua utang tersebut.

Yang kedua adalah menulis minimal lima artikel setiap bulannya. Saya yakin semakin sering menulis maka pikiran akan semakin tertib dan kalimatku pun akan semakin efektif. Dua tulisanku tahun lalu yaitu Kita dan Surat Lamaran dan ASI, Obat Mujarab PJB Anakku membuatku semakin semangat untuk menekuni dunia blogging.  Khususnya  ingin pindah dari dunia gratisan ke blog berbayar. Biar lebih profesional, toh motivasi awal menulis di blog adalah ingin mencari penghasilan tambahan.

Yang ketiga adalah menyelesaikan dan mengirimkan naskah buku yang sejak 2015 tertunda. Proyek kerjasama dengan temanku guru untuk membahas soal-soal ujian Bahasa Indonesia SMA. Rasanya aku sangat terutang apalagi sejak bukuku yang pertama terbit tahun 2008 lalu, sudah delapan tahun toh. Tetapi karena prioritas keluarga makanya tertunda.  “alah itu kan alasan pembelaan diri saja”, yang betul adalah saya terserang penyakit ‘kudis’ alias kurang disiplin.

Yang keempat adalah tentu  saja berkaitan dengan status saya sebagai mahasiswa. Saya harus segera menyelesaikan studi saya. Semoga saya bisa seminar proposal di Februari ini. Sidang tesis di Juli dan wisuda di Oktober. Sekali lagi magister saya bukan untuk kekayaan atau jabatan. Magister saya untuk sesuatu yang baik. Pendidikan untuk membuat orang terdidik.
#Resolusiku2017
Tulisan ini diikutsertalan dalam Hidayah-Art Giveaway "Resolusi Tahun 2017 Yang Paling Ingin Saya Wujudkan.







12 komentar:

  1. Mbca tulisn kk pnuh tantagan hidup kk tp di blik tu kk slu brsyukur di tengah msalah

    BalasHapus
  2. semangat mbakk...paling suka pada kalimat, toh kalau aku tidak S-2 tidak ada jaminan anakku bakalan tidak sakit...

    BalasHapus
  3. Aku ngeblog juga ingin mencari penghasilan tambahan. Dan itu telah terwujud.
    Ah jadi iri aku melihat orang atau teman-teman yang bisa kuliah. Ah,,,,,mimpi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetaplah bermimpi dan nikmati kekuatannya sama seperti keinginan awal ngeblog

      Hapus
  4. 2016 tahun penuh perjuangan ya kak. Tapi saya percaya di setiap kejadian ada hikmah, semoga 2017 diliputi banyak keajaiban. Sukses S2 dan sehat selalu untuk keluarga Kakak.

    Aniwei yuk Kak migrasi ke Top Level Domain, semoga membuka pintu rezeki. :-) apalagi kakak berencana nulis rutin 5 artikel di 2017 ini. SEmoga terwujud ya. Dan jangan sungkan japri DuniaBiza bila ada yg mau didiskusikan soal ini Kak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims ya mbak ira. Ntar sy japri ya klo mau pindahan rumah blognya

      Hapus
  5. Tetap semangat Kak Diana, abaikan orang yang mencibir. Anggap itu sebagai pelecut semangat untuk berkarya yang lebih baik. Semoga resolusinya terwujud ya. Turut berduka juga buat Bapak yang telah dipanggil Tuhan, moga keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran yang berlipat.

    Makasih juga udah ikutan GA saya, moga Kak Diana makin sukses :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims ya mbak. Semoga sy berjodoh dgn hadiah GA nya.

      Hapus