Tulislah
mimpi-mimpimu! Ya, harus ditulis ya, dan lihatlahlah rahasia sebuah tulisan dan
nikmatilah keajaiban sebuah mimpi.
Saya selalu
menulis resolusi sejak mengikuti sebuah seminar organisasi kerohanian kampus
yang bertema manajemen diri. Topik pengembangan
diri meminta kita menuliskan mimpi 10 tahun yang akan datang kemudian dirinci dalam waktu lima tahun dan per tahunnya serta langkah-langkah hariannya. Saya sudah
melihat rahasia tulisan itu dan menikmati keajaiban mimpi itu. Misalnya saja tahun
ini untuk pertama kalinya saya naik pesawat. Pertama kalinya pergi ke luar
negeri dan belajar sambil berwisata di
Australia. Mendapat beasiswa pascasarjana dan menikmati hadiah dari lomba menulis blog.
Biasanya saya menulis di agenda atau menempelkannya di meja belajar. Kali ini,
saya harus berani terbuka membagikan mimpi-mimpi saya. Secara saya kan si
introvert tertutup.
Sebelum membuat
resolusi, tentu kita harus melihat diri sebelumnya. Melihat kekuatan dan
kelemahan. Melihat apa yang tercapai dan apa yang gagal. Melihat apakah saya
sedang jalan di tempat. Melihat grafik perjalanan hidup supaya menjadi lebih
bermakna dan menjadi berkat.
Tahun 2016 bagiku
menjadi tahun yang amat repot dan berat. Repot karena status baru sebagai
mahasiswa pascasarjana membuatku harus bijak mengatur waktu. Tiga hari kuliah dan
menjadi anak kost di ibu kota provinsi kemudian empat hari lagi harus ‘ada’
bersama anak-anakku di kota ini, ibukota
Kabupaten Labuhan Batu. Menjadi lebih repot lagi karena aku harus ‘nangkring’ di depan laptop hampir 24 jam demi
tugas perkuliahan supaya bebas kendala dan bebas tugas kala bercengkerama
bersama anak-anak. Menjadi sangat berat
apalagi bila anak-anak sakit. Sakit demam batuk, pilek tapi membuat saya sangat
panik. Soalnya bila si kakak terkena pasti
akan menular pada si adik. Walaupun sudah dipisahkan tempat tidurnya, mereka
tak bisa dilarang untuk saling bertengkar untuk kemudian semakin mesra bermain
bersama lagi. Apalagi bila mendengar teman yang mencibir,
“Untuk apa si
kau S2? Mau jadi kepala sekolah? Wong anak-anakmu rentan sakit”,
“Sudahlah kau
sudah sejahtera dengan gaji dan sertifikasimu, apalagi yang mau kau kejar”,
“Bukan hanya kau
saja yang punya cita-cita, kami pun punya mimpi setinggi langitnya tapi kalu
sudah punya anak semua itu harus dikesampingan”, .
Semua itu semakin
melecutku untuk bangkit. Toh, tidak ada jaminan bila aku tidak S2 maka anakku tidak
akan sakit. Semua ibu-ibu pasti mengalami balitanya rentan sakit bahkan bisa
tiap bulan. Tekadku bahwa aku harus bisa sekolah pascasarjana hanya karena
beasiswa. Selain karena memang aku tidak punya dana, beasiswa bagiku adalah
prestasi dan prestise. Maka mulailah aku ‘mencari’ berbagai tawaran beasiswa.
Mulailah aku ‘melihat’ bagaimana membuat esai diri. Mulailah aku ‘melirik’ tes TOEFL
dan psikotes. Saat kesempatan itu di depan mata, haruskah kulepas ? Sementara
ada teman-teman yang sudah tiga kali dalam tiga tahun mencoba ujian beasiswa itu.
Ada juga yang begadang larut malam demi ujian itu. Ada juga yang sudah lulus
tetapi tidak diizinkan oleh pemdanya untuk tugas belajar. Aku percaya studiku
akan menjadi sesuatu yang baik, akan menjadi berkat.
Tahun ini juga
menjadi tahun yang sangat berat karena pencobaan datang di trimester akhir .
Mendadak Bapak sakit parah di awal Oktober. Kalut, galau dan berkecamuk saat Bapak
diopname. Tuhan memanggil Bapak ke rumahNya. Tak beberapa hari berselang kami
‘piknik’ dari rumah sakit ke rumah sakit. Aku dan kedua putriku harus
bolak-balik diopnamekan karena demam berdarah yang sedang mewabah di daerah
kami. Biaya perobatan Bapak, biaya adat
pengebumian orang Batak yang menelan dana puluhan juta (walau ditanggung
bersama anak-anaknya), biaya pengobatan di rumah sakit (rumah sakit umum dan
rumah sakit swasta penerima BPJS penuh,
terpaksalah dua kali kami ke rumah sakit swasta dengan biaya delapan ratus ribu
per malam), biaya perawatan pascasakit di rumah (yang biasanya daging hanya
satu kali seminggu terpaksa dua kali sehari, yang biasanya buah pisang dan
pepaya murah meriah terpaksa harus beli anggur dan apel untuk booster) telah menguras habis tabungan
kami dan menyisakan 'tabungan utang'.
Berdasarkan
kisahku tadi maka resolusi pertama di tahun 2017 adalah melunasi semua utang
tersebut.
Yang kedua
adalah menulis minimal lima artikel setiap bulannya. Saya yakin semakin sering
menulis maka pikiran akan semakin tertib dan kalimatku pun akan semakin
efektif. Dua tulisanku tahun lalu yaitu Kita dan Surat Lamaran dan ASI, Obat Mujarab PJB Anakku membuatku semakin semangat untuk menekuni
dunia blogging. Khususnya ingin pindah dari dunia gratisan ke blog
berbayar. Biar lebih profesional, toh motivasi awal menulis di blog adalah ingin
mencari penghasilan tambahan.
Yang ketiga
adalah menyelesaikan dan mengirimkan naskah buku yang sejak 2015 tertunda.
Proyek kerjasama dengan temanku guru untuk membahas soal-soal ujian Bahasa
Indonesia SMA. Rasanya aku sangat terutang apalagi sejak bukuku yang pertama
terbit tahun 2008 lalu, sudah delapan tahun toh. Tetapi karena prioritas keluarga
makanya tertunda. “alah itu kan alasan
pembelaan diri saja”, yang betul adalah
saya terserang penyakit ‘kudis’ alias kurang disiplin.
Yang keempat
adalah tentu saja berkaitan dengan
status saya sebagai mahasiswa. Saya harus segera menyelesaikan studi saya.
Semoga saya bisa seminar proposal di Februari ini. Sidang tesis di Juli dan
wisuda di Oktober. Sekali lagi magister saya bukan untuk kekayaan atau jabatan.
Magister saya untuk sesuatu yang baik. Pendidikan untuk membuat orang terdidik.
#Resolusiku2017
Tulisan ini diikutsertalan dalam Hidayah-Art Giveaway "Resolusi Tahun 2017 Yang Paling Ingin Saya Wujudkan.
#Resolusiku2017
Tulisan ini diikutsertalan dalam Hidayah-Art Giveaway "Resolusi Tahun 2017 Yang Paling Ingin Saya Wujudkan.









Mbca tulisn kk pnuh tantagan hidup kk tp di blik tu kk slu brsyukur di tengah msalah
BalasHapusSemua itu membuat hidup menjadi berwarna
Hapussemangat mbakk...paling suka pada kalimat, toh kalau aku tidak S-2 tidak ada jaminan anakku bakalan tidak sakit...
BalasHapusTrims mbak.
HapusAku ngeblog juga ingin mencari penghasilan tambahan. Dan itu telah terwujud.
BalasHapusAh jadi iri aku melihat orang atau teman-teman yang bisa kuliah. Ah,,,,,mimpi.
Tetaplah bermimpi dan nikmati kekuatannya sama seperti keinginan awal ngeblog
Hapus2016 tahun penuh perjuangan ya kak. Tapi saya percaya di setiap kejadian ada hikmah, semoga 2017 diliputi banyak keajaiban. Sukses S2 dan sehat selalu untuk keluarga Kakak.
BalasHapusAniwei yuk Kak migrasi ke Top Level Domain, semoga membuka pintu rezeki. :-) apalagi kakak berencana nulis rutin 5 artikel di 2017 ini. SEmoga terwujud ya. Dan jangan sungkan japri DuniaBiza bila ada yg mau didiskusikan soal ini Kak...
Trims ya mbak ira. Ntar sy japri ya klo mau pindahan rumah blognya
HapusTetap semangat Kak Diana, abaikan orang yang mencibir. Anggap itu sebagai pelecut semangat untuk berkarya yang lebih baik. Semoga resolusinya terwujud ya. Turut berduka juga buat Bapak yang telah dipanggil Tuhan, moga keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran yang berlipat.
BalasHapusMakasih juga udah ikutan GA saya, moga Kak Diana makin sukses :)
Trims ya mbak. Semoga sy berjodoh dgn hadiah GA nya.
Hapussukses untuk S2 nya ya Bu
BalasHapusTrims ya Bun. Sukses juga untuk Bunda.
Hapus