Perencanaan adalah prinsip pertama dalam ilmu manajemen. Setiap perusahaan, instansi, organisasi dan yang lainnya pasti melakukan evaluasi di akhir tahun untuk dipakai dalam perencanaan di awal tahun berikutnya. Perencanaan yang baik telah menyelesaikan setengah dari tujuan. So, let your dream come be true.
Secara pribadi saya pun demikian, setiap akhir tahun saya menuliskan apa yang disyukuri dan apa yang akan diperbaiki tahun berikutnya. Kemudian saya (kami sejak menikah) akan mendoakannya di malam pergantian tahun. Ingat, man propose but God dispose.
Menuliskan resolusi 2019, saya membuka kembali resolusi 2017 di sini dan 2018 di sini. Sejak belajar menjadi penulis, ternyata kita must be brave to publish your life, karena itu bagian dari branding.
Resolusi 2017 banyak tertunda khususnya penyelesaian studi karena kami sakit. Bersyukur kami bisa wisuda bersama di bulan yang sama tahun 2018 meski kami mulai kuliah di tahun yang berbeda dan kampus yang berbeda.
Berkaca di 2018, maka kesehatan pun masih tetap prioritas di 2019 bahkan di tahun-tahun yang selanjutnya.
Berikut adalah harapanku di 2019,
1. Jaga Kesehatan
Terlalu abstrak, harus ada yang dilakukan minimal satu untuk menjaga kesehatan.
Kalau suami sih sudah bisa konsisten renang sekali seminggu. Kalau saya, menjaga jangan terlalu letih. Khususnya dalam pekerjaan rumah, maka kami sepakat memakai jasa pembantu rumah tangga untuk mencuci, menyetrika dan membereskan rumah.
Sebab letih mengajar di sekolah, letih membereskan rumah, letih mengurus anak-anak dapat membuat letih jiwa. Kita akan mudah marah sehingga kesehatan mental anak-anak akan terganggu.
2. Tuntaskan ASI Ekslusif dan MPASI
Yup, memberi ASI ekslusif itu butuh perjuangan banget loh. Masih ada tiga bulan yang panjang lagi di 2019.
Terlebih ketika sudah masuk kerja dengan jadwal yang padat. Maka harus konsisten makan bergizi (lebih banyak sayur dan buah). Harus konsisten juga dengan jadwal memerah. Kendor sedikit saja, maka volume ASI bisa berkurang. Begitu seterusnya, bahkan sampai bayi saya nanti MPASI.
3. Memberikan Les Gratis
Memberikan les gratis bahasa Indonesia kepada siswa kelas XII, khususnya anak wali saya sebagai persiapan UNBK.
Les gratis ini adalah ungkapan hati saya yang tercabik-cabik melihat minat belajar anak SMK. Terkadang saya iri lihat anak SMA di kotaku. Pagi belajar, sore les di sekolah, malam masih bimbel (dengan harga jutaan bahkan puluhan juta) lagi sebagai persiapan mereka UNBK.
Les gratis ini juga sebagai jawaban apa yang bisa saya berikan kepada anak-anak untuk membantu mereka ujian. Bantuan diberikan sebelum ujian bukan saat ujian.
Saya juga harus siap patah hati, karena melihat minat belajar anak-anakku, bisa saja saya ditolak alias mereka tidak mau datang. Seperti pepatah orang Batak “haccit mulak mangido, humanciit mulak mangalean’, sakit ditolak meminta, lebih sakit ditolak memberi.
Ya, tiga sajalah dulu dan itu pun sudah cukup besar. Eh, harus lima ya sesuai permintaan BP. Baiklah saya tambahkan lagi.
4. Ikut Seleksi Tim Penulis Soal UNBK
Yup, setelah menerbitkan materi Ujian Nasional selanjutnya saya ingin mengikuti seleksi tim penulis soal UNBK. Syukurnya, seleksi dan proses penulisannya on line . Jadi, saya tidak perlu meninggalkan bayi saya nantinya.
5. Tetap Saja Menulis
Tetap saja menulis. Itu sajalah dulu. Belum berani menargetkan ulang untuk menerbitkan buku dan juga punya tabungan dari menulis karena tiga pekerjaan besar yang sudah saya sebutkan di atas. Tetap saja menulis dan tulisan ini adalah praktiknya.
Kalau kamu, apa harapanmu di 2019 ?
Kalau kamu, apa harapanmu di 2019 ?













Semoga dimudahkan y buuu
BalasHapusTerharu bagian bikin les gratis
Amin. Trims ya Mbak
Hapus