Disebut melegenda karena tetap bertahan melewati tahun-tahun yang panjang. Tentu ada kualitas yang membuat kuliner-kuliner di bawah ini tetap dicari penggemarnya dari generasi ke generasi.
Baca juga : Selamat Datang Di Kota Rantauprapat
Berikut adalah kuliner yang melegenda di Rantauprapat, yaitu :
1. Roti Bakar Akur
Toko yang beralamat di Jalan protokol Ahmad Yani No.24 ini dibuka pagi sampai siang harinya. Kaum bapak adalah pengunjung setianya karena sambil sarapan kopi dan roti bakar biasanya mereka juga membicarakan politik disertai kepulan asap rokok yang menyesakkan.
Kedai Akur ini sudah berdiri sejak tahun 1896, wah....bahkan sebelum Indonesia merdeka ya. Wajar deh sangat legendaris.
Yang khas adalah roti tawar dibuat sendiri kemudian dipanggang dengan arang. Harus ada gosong-gosongnya sehingga aroma roti bakarnya tercium.
Roti bakarnya akan bertambah nikmat dengan olesan selai kental nan legit. Terkadang pengunjung hanya membeli selainya saja untuk dikonsumsi atau dijadikan oleh-oleh ciri khas Rantauprapat. Yup, dulu kami sering mengirimnya ke Bandung, sekarang ke Jambi juga karena dapat bertahan sebulan.
Jika dilihat dari lamanya mereka bertahan, seharusnya cabangnya sudah ada di seluruh Indonesia, 😀, tapi mereka lebih memilih bertahan di rentetan ruko ( sehingga sulit mencari tempat parkir) yang sempit seraya tetap mempertahankan originilitas produk mereka.
Jika dilihat dari lamanya mereka bertahan, seharusnya cabangnya sudah ada di seluruh Indonesia, 😀, tapi mereka lebih memilih bertahan di rentetan ruko ( sehingga sulit mencari tempat parkir) yang sempit seraya tetap mempertahankan originilitas produk mereka.
![]() |
| Melegenda Sejak 1896 |
![]() |
| Ciri khasnya masih dipanggang dengan arang |
![]() |
| Ibu-ibu lebih memilih membeli roti dan selainya untuk dibawa pulang |
2. Mi Ayam Bandung Simpang Enam
Kuliner ini berada di Simpang Enam Rantauprapat, dibuka pagi hingga siang harinya.
Dinamakan Mi Ayam Bandung karena dulunya tempat itu adalah kedai kopi bandung. Sayangnya jualan kopinya tidak bertahan, justru mi ayamnya menjadi populer.
Awalnya dulu dibuka oleh Mas Nano yang sekarang sudah kembali ke Jawa dan dilanjutkan oleh adiknya Mas Anto yang memilih untuk menetap di Rantauprapat.
Mie ayam ini sudah ada sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di Rantauprapat ( untuk bersekolah) sekitar tahun 1995 yang lalu. Selalu ramai dikunjungi setiap harinya, terkadang pengunjung harus antri menunggu tempat duduk.
Penampilan mi nya sih biasa saja tapi saya suka rasa manis di kuahnya. Saya memilih tidak menambahkan saus atau kecap lagi demi mendapatkan rasa kuah aslinya.
Dihargai tujuh ribu rupiah per mangkuknya cukup terjangkau untuk semua kalangan. Biasa pelanggannya terdiri atas para pekerja kantoran di sekitar jalan-jalan protokol bundaran simpang enam tersebut. Ada juga para pe en es dan masyarakat lainnya. Sayangnya para pengunjung kurang menjaga kebersihan sehingga banyak sekali tisu berserakan di lantai.
Dinamakan Mi Ayam Bandung karena dulunya tempat itu adalah kedai kopi bandung. Sayangnya jualan kopinya tidak bertahan, justru mi ayamnya menjadi populer.
Awalnya dulu dibuka oleh Mas Nano yang sekarang sudah kembali ke Jawa dan dilanjutkan oleh adiknya Mas Anto yang memilih untuk menetap di Rantauprapat.
Mie ayam ini sudah ada sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di Rantauprapat ( untuk bersekolah) sekitar tahun 1995 yang lalu. Selalu ramai dikunjungi setiap harinya, terkadang pengunjung harus antri menunggu tempat duduk.
Penampilan mi nya sih biasa saja tapi saya suka rasa manis di kuahnya. Saya memilih tidak menambahkan saus atau kecap lagi demi mendapatkan rasa kuah aslinya.
Dihargai tujuh ribu rupiah per mangkuknya cukup terjangkau untuk semua kalangan. Biasa pelanggannya terdiri atas para pekerja kantoran di sekitar jalan-jalan protokol bundaran simpang enam tersebut. Ada juga para pe en es dan masyarakat lainnya. Sayangnya para pengunjung kurang menjaga kebersihan sehingga banyak sekali tisu berserakan di lantai.
![]() |
| Penampilan sih biasa tapi kuahnya manis |
![]() |
| Bersama Mas Anto pengelolanya sekarang ini |
3. Martabak Paguruyung
Cobalah datang ke sana untuk membelinya dan biasanya Anda sudah berada di antrian sekian. Pembeli lebih suka memesan terlebih dahulu dari pada menunggu lama dan datang tinggal membayar saja.
Nama Paguruyung diambil dari Rumah Makan sebelahnya yang juga cukup terkenal di sekitaran Jalan Veteran Rantauprapat. Buka mulai jam enam sore sampai malam hari.
Dihargai delapan ribu per porsinya. Banyak pilihan rasa, ada keju, ketan hitam, kelapa, selai nenas dan varian kesukaan anak-anak : ceres kacang dan srikaya.
![]() |
| Antri Pembeli |
![]() |
| Selalu banyak pesanan |
4. Mi Pangsit Multatuli
Warung mi pangsit nonhalal ini berada di Jalan Multatuli, lebih dekat bila kita datang dari Jalan Imam Bonjol.
Kami sudah sering juga membelinya sejak saya masih SMK sekitar 20 tahun yang lalu. Mi nya halus dan lembut diproduksi oleh mereka sendiri. Dihargai duabelas ribu per porsinya dan sudah cukup banyak dibanding porsi penjual mi pangsit lainnya yang ada di Rantauprapat.
Ada yang berjualan pagi dan ada juga sore ke malam. Artinya mereka dua penjual mi pangsit yang berbeda dan bersebelahan. Terkadang bila tak jeli memperhatikan bentuk ruangan tempat makannya sama, he..he..
![]() |
| Pangsit Multatuli |
5. Warung Nasi Tennis Club
Warung ini berada di Jalan Menara. Disebut Warung Tennis Club karena memang dibelakang warung ini ada lapangan tenis. Ada juga yang menyebutnya dengan warung camat karena memang dekat dengan Kantor Camat Rantauutara.
Rumah makan khas jawa ini banyak digemari karena masakan rumahan, bersih dan nyaman.
Kami sering menyebutnya 'rumah makan sigodang arga' artinya rumah makan mahal. Warungnya sih hanya berdinding papan tapi pengunjungnya dari mobil ke mobil, artinya dari kelas atas.
Harganya memang mahal, ayam kampung saja per potongnya Rp.35.000. Wajar sih mahal karena memang semua ikannya pilihan. Udang dan kerangnya saja besar-besar. Tapi tidak semua mahal, ada juga kok yang masih terjangkau kelas bawah seperti kami ini 😀, harga ikan cuma sepuluh ribu rupiah dan kami lebih suka membelinya untuk dibawa pulang karena dibungkus daun pisang yang wanginya menambah selera makan.
![]() |
| Masakan rumah, bersih dan nyaman |
![]() |
| Daun pisang membuat makanan jadi wangi |
Itulah lima kuliner yang melegenda di kotaku. Kalau di kotamu, apa saja yang melegenda?


























