Curhatan Bunda

Kamis, 29 November 2018

Lima Kuliner Yang Melegenda Di Rantauprapat



Disebut melegenda karena tetap bertahan melewati tahun-tahun yang panjang. Tentu ada kualitas yang membuat kuliner-kuliner di bawah ini tetap dicari penggemarnya dari generasi ke generasi.

Baca juga : Selamat Datang Di Kota Rantauprapat

Berikut adalah kuliner yang melegenda di Rantauprapat, yaitu :

1. Roti Bakar Akur


Toko yang beralamat di Jalan protokol Ahmad Yani No.24 ini dibuka pagi sampai siang harinya. Kaum bapak adalah pengunjung setianya karena sambil sarapan kopi dan roti bakar biasanya mereka juga membicarakan politik disertai  kepulan asap rokok yang menyesakkan.

Kedai Akur ini sudah berdiri sejak tahun 1896, wah....bahkan sebelum Indonesia merdeka ya. Wajar deh sangat legendaris.

Yang khas adalah roti tawar dibuat sendiri kemudian dipanggang dengan arang. Harus ada gosong-gosongnya sehingga aroma roti bakarnya tercium. 

Roti bakarnya akan bertambah nikmat dengan olesan selai kental nan legit. Terkadang pengunjung hanya membeli selainya saja untuk dikonsumsi atau dijadikan oleh-oleh ciri khas Rantauprapat. Yup, dulu kami sering mengirimnya ke Bandung, sekarang ke Jambi juga karena dapat bertahan sebulan.

Jika dilihat dari lamanya mereka bertahan, seharusnya cabangnya sudah ada di seluruh Indonesia, 😀, tapi mereka lebih memilih bertahan di rentetan ruko ( sehingga sulit mencari tempat parkir) yang sempit seraya tetap mempertahankan originilitas produk mereka.

Melegenda Sejak 1896


Ciri khasnya masih dipanggang dengan arang

Ibu-ibu lebih memilih membeli roti dan selainya untuk dibawa pulang

2. Mi Ayam Bandung Simpang Enam

Kuliner ini berada di Simpang Enam Rantauprapat, dibuka pagi hingga siang harinya.

Dinamakan Mi Ayam Bandung karena dulunya tempat itu adalah kedai kopi bandung. Sayangnya jualan kopinya tidak bertahan, justru mi ayamnya menjadi populer.

Awalnya dulu dibuka oleh Mas Nano yang sekarang sudah kembali ke Jawa dan dilanjutkan oleh adiknya Mas Anto yang memilih untuk menetap di Rantauprapat.

Mie ayam ini sudah ada sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di Rantauprapat  ( untuk bersekolah) sekitar tahun 1995 yang lalu. Selalu ramai dikunjungi setiap harinya, terkadang pengunjung harus antri menunggu tempat duduk.

Penampilan mi nya sih biasa saja tapi saya suka rasa manis di kuahnya. Saya memilih tidak menambahkan saus atau kecap lagi demi mendapatkan rasa kuah aslinya.

Dihargai tujuh ribu rupiah per mangkuknya cukup terjangkau untuk semua kalangan. Biasa pelanggannya terdiri atas para pekerja kantoran di sekitar  jalan-jalan protokol bundaran simpang enam tersebut. Ada juga para pe en es dan masyarakat lainnya. Sayangnya para pengunjung kurang menjaga kebersihan sehingga banyak sekali tisu berserakan di lantai.

Penampilan sih biasa tapi kuahnya manis

Bersama Mas Anto pengelolanya sekarang ini

3. Martabak Paguruyung

Cobalah datang ke sana untuk membelinya dan biasanya Anda sudah berada di antrian sekian. Pembeli lebih suka memesan terlebih dahulu dari pada menunggu lama dan datang tinggal membayar saja.

Nama Paguruyung diambil dari Rumah Makan sebelahnya yang juga cukup terkenal di sekitaran Jalan Veteran Rantauprapat. Buka mulai jam enam sore sampai malam hari.

Dihargai delapan ribu per porsinya. Banyak pilihan rasa, ada keju, ketan hitam, kelapa, selai nenas dan varian kesukaan anak-anak : ceres kacang dan srikaya.

Antri Pembeli

Selalu banyak pesanan

4. Mi Pangsit Multatuli

Warung mi pangsit nonhalal ini berada di Jalan Multatuli, lebih dekat bila kita datang dari Jalan Imam Bonjol.

Kami sudah sering juga membelinya sejak saya masih SMK sekitar 20 tahun yang lalu. Mi nya halus dan lembut diproduksi oleh mereka sendiri. Dihargai duabelas ribu per porsinya dan sudah cukup banyak dibanding porsi penjual mi pangsit lainnya yang ada di Rantauprapat.

Ada yang berjualan pagi dan ada juga sore ke malam. Artinya mereka dua penjual mi pangsit yang berbeda dan bersebelahan. Terkadang bila tak jeli memperhatikan bentuk ruangan tempat makannya sama, he..he..

Pangsit Multatuli

5. Warung Nasi Tennis Club

Warung ini berada di Jalan Menara. Disebut Warung Tennis Club karena memang dibelakang warung ini ada lapangan tenis. Ada juga yang menyebutnya dengan warung camat karena memang dekat dengan Kantor Camat Rantauutara.

Rumah makan khas jawa ini banyak digemari karena masakan rumahan, bersih dan nyaman.

Kami sering menyebutnya 'rumah makan sigodang arga' artinya rumah makan mahal. Warungnya sih hanya berdinding papan tapi pengunjungnya dari mobil ke mobil, artinya dari kelas atas.

Harganya memang mahal, ayam kampung saja per potongnya Rp.35.000. Wajar sih mahal karena memang semua ikannya pilihan. Udang dan kerangnya saja besar-besar. Tapi tidak semua mahal, ada juga kok yang masih terjangkau kelas bawah seperti kami ini 😀, harga ikan cuma sepuluh ribu rupiah dan kami lebih suka membelinya untuk dibawa pulang karena dibungkus daun pisang yang wanginya menambah selera makan.

Masakan rumah, bersih dan nyaman

Daun pisang membuat makanan jadi wangi

Itulah lima kuliner yang melegenda di kotaku. Kalau di kotamu, apa saja yang melegenda?


Rabu, 28 November 2018

Lima Benda Yang Wajib Ada Dalam Tas Guru Milenial

Tas dalam berbagai rupa dan bentuk berfungsi membawa barang agar mudah membawanya kemanapun. Tetapi seiring perkembangannya, tas mempunyai banyak fungsi seperti :
  • Menambah penampilan
  • Menunjukkan kelas sosial
  • Melatih otot perut dan punggung ( tas ransel)
  • Membuat investasi

Selain itu, isi tas juga dapat menggambarkan kepribadiannya. Berikut adalah lima hal yang wajib ada dalam tas seorang guru,

Barang-barang yang ada dalam tas guru

Lima barang yang wajib di tas seorang guru yaitu :

1. Sisir ( bedak dan lipstik)

Iya dong, guru itu kan artis, jadi harus tampil rapi dan cantik. Meski wajah  pas-pasan tapi wajib tampil eye catching di depan kelas. Penampilan yang apik menambah kepercayaan diri guru. Siswa pun akan nyaman dengan out standing guru.

Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya wujudkanlah kesan itu. Mata adalah penangkap kesan itu. Begitu siswa melihat guru di pintu kelas, pastikan mata mereka menyambut kehadiran kita.

Seragam guru yang standar (dinas coklat, kemeja putih dan batik biru), bahkan siswapun tahu berapa harganya  jangan membatasi guru untuk tetap good looking. Dari jam 7 pagi ke jam 2 siang mengudara, selalu periksa apakah rambut perlu disisir, bedak perlu dipoles atau lipstik yang sudah keluar dari jalurnya.

2. Spidol


Spidol senjata utama guru mengajar. Terkadang memang sudah ada spidol kelas tapi bila spidol tertinggal ada saja alasan siswa untuk tidak belajar. Usahakan minimal tiga warna spidol, hitam, merah dan biru untuk menjadikan coretan Bapak Ibu guru berwarna di depan kelas.

Memang sih, seharusnya guru sudah mengajar dengan audio visual. Guru menayangkan materi ajar lewat infokus. Tapi, mari lihat langsung ke kelas-kelas, colokan listrik saja banyak yang ‘tidak sehat’, bahkan saluran listrik pun belum terpasang di sekolah itu.

3. Buku Pegangan


Pantang loh guru bertanya, "Halaman berapa sekarang Nak?. Seharusnya guru berkata, "Seperti struktur cerpen yang di ada di halaman 98, maka... ."

Kelihatan kan beda ke dua kalimat di atas? Yup, kalimat kedua adalah guru yang persiapan sebelum masuk kelas. Meski guru bisa mengajar luar kepala ( karena berpuluh-puluh tahun) mengajar materi yang sama, maka tetap jugalah membaca buku pegangan. Bila perlu pun, hafal di halaman berapa saja yang perlu disampaikan ke siswa.

4. Botol Minum

Guru kan pekerjaanya menjual ilmu dengan bersuara, maka pastikan tenggorokan kita tidak kering. Selalu menyediakan air putih dalam botol minuman membantu guru hidup hemat karena tidak membeli air mineral. Membantu guru hidup sehat karena terpastikan kebutuhan air per harinya. Menolong guru menyelamatkan dunia karena tidak menghasilkan sampah botol plastik air mineral setiap harinya.

5. Hape

Hape merupakan barang pribadi yang selalu dibawa ke mana pun. Sebab hape menyimpan banyak hal pribadi sekarang ini.

Mulai nomor kontak atau berbagai akun media sosial untuk tetap terkoneksi. Merekam berbagai memori di galeri foto. Mendapatkan hiburan lewat musik dan video. Bahkan menyimpan catatan penting.

Lho, RPP, absensi dan daftar nilai kan adalah benda paling wajib juga bagi guru? Yup, benar dan semuanya itu bisa disimpan di hape. Bila perlu diprint, kan tinggal dihubungkan lewat kabel data.

Sisir, spidol, buku pegangan, botol minum dan hape adalah barang yang wajib ada di tas guru milenial. Kalau kamu, apa saja yang ada di tasmu?

Senin, 26 November 2018

Hotdiana : Diana Berdarah Panas

Diana Si Berdarah Panas

Ini beneran loh. Darah saya itu panas. Cobalah sentuh tangan atau kulit saya,  maka saudara akan percaya saya bersuhu tubuh tinggi ( tapi bukan demam loh). 

Teman-teman memang sering mengejek saya ‘ diana panas’ sejak SMP padahal ‘hot’ itu sebenarnya dari bahasa Batak loh, seperti yang saya ceritakan di sini.
Semasa kuliah pernah juga saya periksakan mengapa telapak tangan saya selalu panas, tapi tidak ada apa-apa. Apa mungkin karena saya pemarah ya sehingga darah saya mendidih. Bila orang melihat, saya itu pendiam dan tidak percaya saya itu pemarah. 

Apa saja sekarang membuat saya marah. Anak-anak lompat di tempat tidur. Kamar bagai gudang. Bak mandi dianggap kolam renang. Sepatu mamanya sudah peot dipakai buat guru-guruan. Bahkan lipstik mamanya dijadikan spidol. Ah, sebenarnya mamanya hanya butuh piknik.

Si Perfeksionis


Segala sesuatu harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Akibatnya sering kaku dan terkesan lambat.

Misalnya untuk ikut #bpn30daychallenge, saya harus cari paket internet yang unlimited untuk 30 hari. Semua harus diselesaikan dulu supaya bisa fokus untuk minimal tiga ratus kata. Pagi memasak, kemudian berangkat mengajar. Siangnya harus fokus ke bayi saya yang baru dua bulan. Belum lagi harus mengurus kedua kakaknya minimal menemani mereka membuat PR. Harapannya jam 10 atau 11 malam sudah tenang untuk buka laptop, alhasil saya keletihan dan kantuk membawa saya terlelap.

Itulah  yang menyebabkan saya menyerah terhadap tantangan ini. Padahal itu bukan alasan sebab banyak  juga member BP (yang memang semuanya adalah perempuan) juga punya baby, tapi mengapa mereka bisa tetap menulis. Mereka juga full time working mom tetapi mengapa tetap konsisten one day one post. Ada yang mengetik di android sambil mengantar anak sekolah. Mungkin perlu juga ditiru seperti itu walau minus akan bertambah karena kecilnya tuts di android.


The Lucky One


Banyak teman yang bilang saya ini orang beruntung. Tamat SD dengan ( Nilai Ebtanas Murni) NEM super tinggi. Sebenarnya NEM  saya sudah tinggi tetapi karena mama saya terhasut orang tua lainya bahwa nilai saya bisa tergeser bila ada yang 'menguangi', maka pergi jugalah mama menjumpai kepala sekolah sehingga jadilah NEM-ku super tinggi.

SMP dapat beasiswa. SMK dapat beasiswa Supersemar yang lembaganya dipimpin oleh Suharto dan ini adalah salah satu kenangan yang bisa kuingat tentang  Suharto, he..he..

Kuliah juga mendapat beasiswa dan pernah memimpin hampir 1000-an orang wisudawan membacakan Tri Darma Perguruan Tinggi.

Juara satu dari 60 orang yang lolos tes CPNS guru bahasa Indonesia di Labuhan Batu tahun 2008 (tidak tahu dari berapa ratus peserta ujian saat itu).

Mendapat kesempatan S2 juga dari Kementrian Pendidikan sekaligus juga punya kesempatan studi banding ke Australia.

Saya bukan pintar, hanya beruntung saja. Yang pintar itu adalah orang yang bisa menulis. Sebab saya pernah membaca, sepintar apa pun seseorang, belumlah pintar apabila tidak menulis. Ini jugalah yang mencambukku untuk belajar menulis.

Yup, dulu semasa kuliah, saya bilang kalau saya akan S2 dengan beasiswa dan itu terwujud. Saat mengajar, kumpulan sket dan soal saat mengajar akan jadi buku dan benar terbitlah Inti sari  Bahasa Indonesia SMA yang diterbitkan Kawan Pustaka tahun 2008. Saya bilang saya akan ke luar negeri gratis dan benar tahun 2016 saya ke Singapura dan Australia tanpa biaya, he..he..

Benarkah saya ini peramal ? BUKAN. Saya hanya menuliskan mimpi-mimpi dan melihat mimpi itu akan terwujud. Tapi harus ditulis ya. Tulis dalam jangka panjang, menengah dan pendek. Sungguh ajaib, tulisan itu bagai sayap yang mendorong kita maju mewujudkan mimpi. Seperti menerbitkan buku, sket dan soal yang tadinya di papan tulis saya simpan ke laptop kemudian mencari penerbit. Yang tadinya ingin mendapat beasiswa S2, maka rajin mencari info beasiswa dan belajar apa saja yang harus dipersiapkan untuk beasiswa tersebut.

Kedepannya saya masih bermimpi untuk menjadi instruktur nasional, menulis buku lagi dan berlibur ke asia bersama keluarga kecilku. Ah,....semoga tetwujud.

Terakhir Membeli Buku Tahun 2011


Dulu saya selalu membeli buku sekali sebulan dan bermimpi punya perpustakaan pribadi. Eh, sejak berkeluarga dan mempunyai penghasilan tetap tak pernah lagi membeli buku. Jangankan membeli, membaca saja pun tidak lagi. Sekali setahun, minimal ada dua buku baru dari pelayanan, itu pun tidak pernah tuntas dibaca. Kemarin sewaktu kuliah pasca sarjana buku yang dibeli dan dibaca hanya sekedar memenuhi tugas kuliah saja.

Serasa tiada lagi waktu untuk membaca. Membaca hanya keterpaksaan tugas-tugas mengajar. Membaca tidak lagi menyenangkan. Membaca tidak lagi menyegarkan jiwa.

Itulah lima fakta mengenai saya. O Lord, help me, what You want me to be.







Berkah Media Sosial


Sebenarnya saya sudah menyerah di #day4 kemarin untuk tidak melanjutkan #bpn30blogchallenge ini, tapi ketika membuka sekilas face book, tak sengaja mataku tertuju pada status beliau yang eye cathing berikut dan aku diingatkan lagi dan ini adalah salah satu berkah media sosial,


Besi Menajamkan Besi, Manusia Menajamkan Manusia


Yup, sejak awal penciptaan, manusia itu tidak baik seorang diri maka diberi Tuhanlah Hawa kepada Adam. Hakikat manusia itu mahluk sosial. Maka dari dulu manusia perlu bersosialisasi. Bahkan sampai sekarang pun, media sosial itu diciptakan untuk berkomunikasi. Tidak ada yang salah dengan media sosial, yang salah adalah pemakainya. Sejak dulu pun ada saja penyimpangan bersosialisasi. Jadi, tidak perlu heran bila sekarang pun tetap ada penyalahgunaan media sosial.

Awalnya dulu saya hanya pengguna facebook. Senang rasanya punya dunia baru. Memaksimalkan media sosial adalah bagian yang tak terpisahkan dari ngeblog. Maka mulailah saya menjelajah ke kampung sosial lainnya seperti instagram dan twitter.

Belakangan saya tidak suka lagi buka efbi karena semua teman pada berjualan sehingga saya ingin menguninstallnya. Tapi bukankah saya pun sedang berdagang juga, berdagang ide? Maka saya pun tetap bersilahturahmi dengan tetangga-tetangga maya saya.

Belakangan banyak penyebar hoax maka saya putuskan mendelete mereka. Tapi apakah itu menimbulkan efek jera? Maka saya tetap berteman sambil menahan jari untuk tidak berkomentar. Pasalnya banyak penyebar hoaks itu adalah guru. Maka saya akan laporkan akun mereka bila sudah membahayakan terlebih bila sudah sampai kepada rasisme. Soalnya follower mereka mayoritas siswa dan siswa biasanya belum bisa bernalar tetapi lebih percaya apa kata gurunya. Jadi, saya harus melindungi siswa saya dari paparan rasisme atau radikalisme.

Belakangan konten negatif semakin merajalela maka guru (saya) harus berlomba-lomba menulis konten positif sesuai kebutuhan siswa.

Belakangan ngeblog itu butuh komunitas maka saya menjalin pertemanan dengan berbagai penulis. Selain dapat materi ilmu, materi konsumtif, materi persahabatan, dapat juga materi inspiratif seperti yang saya ceritakan di awal tadi.

Belakangan saya jenuh di dunia maya maka saya harus kembali ke dunia nyata. Harus ambil  waktu-waktu khusus untuk puasa on line.

Belakangan saya butuh curhat maka saya harus pergi ke orang-orang terdekat karena selain telinga, saya juga butuh pelukan mereka.

Belakangan saya sudah letih maka segera saya sudahi ini dulu. Off line.


Sabtu, 24 November 2018

Perlu Setahun Untuk Banner BP


Awal aku berkenalan dengan Blogger Perempuan memang disengajakan. Artinya aku memang berniat bergabung  dengan komunitas blogger sebagai bagian mempratikkan apa yang saya baca bahwa blogger harus masuk dalam komunitas untuk terus belajar dan  juga membangun networking.

Bergabung ke Blogger Perempuan cukup mudah, mendaftar lewat email dan memasang banner. Saya sudah mendaftar tahun 2017 tapi belum bisa memasang banner BP di blog saya. Saya sudah search bagaimana cara memasangnya. Saya sudah otak-atik layout blog, yang ada makin berantakan. Kemudian sehari sebelum #bpn30hariblogchallenge, saya kerja keras lagi memasang banner tersebut di blog ini. Perlu sepuluh kali membaca dan mencobanya.

Lalu apa yang saya dapatkan dengan bergabung di BP

1. Belajar A-Z Dunia Blogging

Sama seperti ide penggagas BP ini supaya anggotanya banyak belajar, maka saya banyak belajar di sini. Ternyata banyak yang harus dipelajari.

Supaya bukan sekedar menulis tetapi bermanfaat. Supaya banyak pembaca, kita harus mencari pembacanya dengan aktif di media sosial. Supaya orang senang berkunjung ke rumah kita, maka blog harus bersih, rapi, indah dan cantik.  Supaya alamat rumahnya mudah ditemukan maka usahakan satu nama untuk blog, face book, instagram dan yang lainnya. Supaya terjalin silahturami dengan tetangga maka harus rajin blogwalking. Supaya para tamu berdatangan di hajatan kita maka adakanlah giveaway. Supaya menghasilkan uang maka blog perlu di monetize dan supaya-supaya yang lain.

Saya sering cemburu melihat blogger  di kota punya kesempatan meet up dan belajar bareng dalam komunitas. Saya ini sangat gaptek, untuk membuat blog pun saya harus dibantu teman meski sudah berulang kali membaca tutorialnya. Jangan heran bila membuat banner BP ini pun perlu setahun, he..he... O,iya, saat ini saya sangat butuh mentor yang menolong saya bisa hijrah ke blog berbayar.

2. Blogwalking        

Banyak berjalan, banyak melihat. Yup, dari blogwalking saya tahu (belum kenal) Mbak Shinta sebagai Co-founders dan Mbak Alaika yang sering ngepost face book. Adminnya juga rajin kirim email update blog post tiap minggunya. Membernya  cukup banyak hampir 4000-an dan mayoritas blogger senior. Itulah sebabnya saya minder dan lebih sering jadi silent reader daripada meninggalkan jejak.

Di dunia nyata pun sebenarnya saya ini introvert. Di sebuah kumpulan saya terbiasa tidak banyak bicara. Kalaupun menyapa, hanya satu dua orang, itu pun dari belakang kerumunan. Saya berhasil juga punya satu dua orang  teman blogger. Dari blogwalking, saya tahu bagaimana membuat atau membeli berbagai pernak-pernik untuk mempercantik rumah mereka seperti canva atau pinterest.

Saya juga sering blogwalking ke blog pemenang lomba menulis. Wajar banget sih mereka menang. Lah saya, menulis lebih dari 1000 kata saja belum pernah. Ada blogger yang bisa minimal satu per hari. Lah saya, ikut #30bpnblogchallenge ini baru beberapa hari saja sudah ngos-ngosan.

3. Mengikuti Lomba Blog

Sekali dua kali ikut juga lomba blog yang ada di BP. Sekali dua kali ikut juga lomba blog per orangan atau giveaway yang sering dibuat blogger untuk menarik pengunjung ke rumah mereka. Sekali dua kali pernah beruntung dan alangkah senangnya mendapatkan hadiah seperti mug keren  di bawah ini.


 Lah, teman-teman, apa yang didapat dari BP?

Kamis, 22 November 2018

Arti Sebuah Nama

Menurut pakar dunia perbloggingan, ada beberapa tips untuk memilih nama blog, yaitu :

Unik maksudnya lain dari yang lain. Tidak umum seperti nama  kebanyakan sehingga para blogger lebih memilih menggunakan nama pribadi masing-masing.

Singkat maksudnya tidak terlalu panjang . Boleh memakai nama lengkap tapi hendaklah tidak lebih dari dua kata. Ada juga yang memakai nama kecil atau panggilan supaya singkat. Bahkan ada juga yang membuat namanya berupa akronim yaitu singkatan beberapa huruf atau kata yang membentuk sebuah kata.

Mudah diucapkan, jangan sampai salah mengucapkan terlebih bila berasal dari bahasa asing. Misalnya pengucapan dairy dan diary.

Mudah diketik, Hati-hati dalam penggunaan tanda baca misalnya penggunaan tanda hubung.

Sesuai tema blog, misalnya bila tema parenting boleh menambahkannya dengan moms, bunda atau emak.

Berdasarkan tips tersebut, saya mencoba menganalisis nama blog saya.

Kita harus menolak pepatah yang mengatakan ‘apalah arti sebuah nama’ ( meski makna sebenarnya adalah untuk merendahkan diri). Setiap nama itu berarti dan  pastinya memberikan harapan tertentu.  Dalam setiap suku juga ada perayaan adat dalam pemberian nama. Lebih dari itu, dalam kepercayaan yang saya anut, nama itu dicatat dalam kitab kehidupan.

Sebagai bunda dan juga guru
Lengkapnya nama saya Hotdiana Nababan. Nababan adalah marga suku Batak. Nababan ini marga yang cukup unik, nama yang tahan banting. Sebab bila dibalikkanpun ia tetap nababan, he...he. Sementara Hotdiana bukanlah diana yang panas seperti yang sering diejekkan teman-teman sejak SMP dulu. Hot sebenarnya dalam bahasa Batak bermakna teguh atau tetap. Ceritanya dulu itu orang tua saya sering bertengkar ( mungkin faktor adaptasi berumah tangga kali ya). Jadi, ketika saya lahir diberi nama hot supaya keluarga  mereka tetap teguh.

1. Hotdiana berdasarkan maknanya sebenarnya unik tetapi justru diana itu adalah nama pasaran, he...he...

2. Diana’s Note sebenarnya sudah cukup singkat tapi sayangnya terlalu singkat sehingga kurang menggambarkan karakter pemiliknya.

3. Nama blog saya cukup mudah diucapkan tapi sebaiknya menghindarkan bahasa asing terlebih penggunaan bentuk jamak.

4. Wah, yang ini berat, cukup sulit juga karena bisa saja lupa mengetikkan tanda apostrop /koma di atas.

5. Belum juga menggambarkan tema blog saya yaitu parenting dan edukasi. Note bisalah menggambarkan catatan seorang guru tetapi untuk parenting? Kira-kira bisalah lah ya bahwa sebagai emak-emak pun banyak yang menjadi note alias catatannya.

Wah, sesuai analisis di atas, maka dapat disimpulkan nama blog saya kurang tepat. Wah, bubar...bubar...😀


Tulislah Apa Yang Mau Kau Tulis


Tulislah Apa Yang Mau Kau Tulis

“Bu, nggak tahu lagi apa yang mau ditulis”, seru seorang siswa yang menyerah di menit terakhir batas pengerjaan tugas menulis sebuah paragraf tentang apa saja sebagai bentuk pemanasan sebelum belajar kalimat efektif.

“Tulis saja apa yang ingin kau tulis. Lihat jendela tulis jendela, lihat temanmu tulis temanmu, atau lihat Ibumu yang cantik tulislah tentang ibu, satu paragraf saja,” jelasku mengulangi.

“Tetap saja belum bisa Bu” serunya lagi pasrah.

“Kalau begitu tulis sajalah, hari ini kami disuruh guru menulis tentang apa saja dalam satu paragraf. Menurutku itu aneh. Teman-teman sibuk berpikir dan menulis, sementara aku belum tahu apa yang harus kutuliskan. Sementara waktu yang diberikan sudah habis, aku hanya bisa menuliskan ini. Kan sudah satu paragraf?”, tantangku padanya dan dia pun tersenyum malu-malu.

Bagiku menulis adalah menulis tentang apa saja. Apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasa. Jangan risau apakah nanti dimengerti orang lain, karena saat menulis kita berlatih menertibkan pikiran dan dari kebiasaan tertib pikiran maka lisan pun akan tertib. Soalnya kita terbiasa berpikir atau pakai otak saat menulis, tetapi kalau bicara bisa keluar begitu saja tanpa berpikir.

Menulis tentang apa saja yang kita rasakan. Karena kita seorang ibu, kita merasakan seorang ibu, makanya kita pun menulis tengtang apa saja sebagai ibu. Karena kita melihat Danau Toba, merasakan Danau Toba, maka kita pun menulis tentang Danau Toba.

Karena kita mendengar tsunami di Palu, kita penasaran apa itu tsunami, lalu kita mencari tahu, lalu kita membaca. Lalu kita menuliskan apa yang kita dengar dan yang kita tahu. Apa yang masuk ke pikiran itu yang kita keluarkan lewat tulisan. Orang luar bilang GIGO, garbage in, garbage out. Sampah yang masuk, sampah yang keluar tetapi ‘emas yang masuk, emas yang keluar’.

Kupilih Yang Kusuka

1. Pendidikan
Tentu karena aku seorang guru, maka pendidikan adalah yang utama kupilih.
Tentang perkembangan terbaru dunia pendidikan atau isu-isu mutakhir pendidikan seperti :
1. Kecakapan abad 21
2. Literasi
3. Pendidikan karakter
4. Pembuatan soal HOTS
5. Revolusi industri 4.0

Awalnya dulu saya ingin membuat blog ‘all about Bahasa Indonesia’. RPP, materi, soal, jawaban pelajaran bahasa Indonesia SMA. Terinspirasi dari buku saya yang terbit di 2008, Inti Sari Bahasa Indonesia SMA, yang diterbitkan Kawan Pustaka, Jakarta. Buku ini pun dulu terbit dari kumpulan sketsa saya mengajar di kelas. 

Karena saya sekarang sedang mengumpulkan soal-soal UN dan SMPMB bahasa Indonesia, saya juga berniat membuat blog kumpulan soal dan pembahasan Ujian Nasional bahasa Indonesia. Selain itu saya punya metode-metode yang sering saya terapkan saat mengajar. Misalnya penulisan daftar pustaka. Siswa cukup sulit mengingat ataurannya bila mencontohkan penulis atau buku yang tidak dekat dengan mereka, misalnya Aji Septiaji, Bahasa Indonesia X. Tetapi mereka cepat mengingat aturan menulis daftar pustaka tersebut bila kita mencontohkan nama mereka sendiri seperti Yose Siagian dengan judul buku Cintaku Bersemi di Kelas Hijau.

2. Parenting
Pastinya, karena saya adalah seorang ibu. Pergulatan mengurus dan mendidik tiga orang putri membuatku banyak membaca parenting. Bagaimana semasa hamil, menyusui, mendidik kemandirian dan sebagainya. Ada banyak teori dasar mendidik, tetapi menjadi kaya karena setiap anak unik, setiap anak berbeda. Mungkin karena kepenatan yang dirasa, semua emak-emak akan senang bila disuruh curhat tentang anak mereka masing-masing dan semua cerita itu akan memperkaya pengalaman bagaimana mendidik anak.

3. Blogging
Berhubung saya masih terus belajar dunia blogging ini, maka saya rajin mengumpulkan atau mengarsipkan semua hal tentang blogging. Walau kadang belum sempat semua dibaca dan dipraktikkan. Dari sana saya belajar bagaimana cara membuat nama blog atau cara memasang banner. Saya juga sedang belajar bagaimana membuat ilustrasi dengan canva  atau pinterest misalnya. Sekarang juga saya sedang belajar menjajaki bagaimana saya beralih dari blog gratis ke blog berbayar.

Meski saya belum pernah menulis tentang blog, saya yakin dari kegemaran mengarsipkan dan membaca 'all about blogging' akan membawa saya menjadi blogger di kotaku, blogger Rantauprapat.

Selain ketiga topik yang saya suka di atas, ada juga topik yang saya tidak suka karena topik tersebut cukup sulit menurut saya. Life style, travelling, kuliner dan juga review produk adalah tema yang saya rasa cukup sulit padahal justru tema tersebut banyak menghasilkan uang sekarang ini.

Kalau teman-teman, tema apa yang paling disukai?

Selasa, 20 November 2018

Lima Alasan Mengapa Guru Harus Ngeblog


Guru Belajar Ngeblog

“Bu, tugas cerpenku itu kumasukkan ke dalam blogku”, cerita Ayuna Sari, seorang siswa kelas XI jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) di sekolah menengah kejuruan tempatku mengajar.

“O, iya, apa itu blog?”, tanyaku pada dia dan dari dialah pertama kalinya aku mendengar blog di tahun 2014.

“Itu loh Bu, semacam website pribadi atau rumah pribadi kita yang bisa bebas dilihat siapa saja. Aku juga menulis blog terinspirasi dari seorang mahasiswa TKJ juga Bu, dia membuat antivirus di blognya, kemudian banyak orang mendownloadnya dan dia dibayar oleh Google dan jadi kaya dari situ. Aku juga berniat memasukkan semua tugas-tugas sekolahku di blog, siapa tahu ada yang perlu bisa dilihat di sana”, jelasnya.

Selanjutnya aku banyak googling bahwa ternyata blog memberi sejuta manfaat, bisa sebagai diari, sebagai terapi, sebagai mata pencaharian, sebagai tambahan penghasilan, sebagai portofolio, sebagai rumah kedua, sebagai aktualisasi diri, sebagai tempat berbagi dan tentunya bagi guru sebagai media pembelajaran. 

Cara membuatnya pun sangat mudah, tinggal ikutin langkah-langkah yang diajarkan google. Ada yang gratis, ada pula yang berbayar. Ada yang serius mengelola blognya, adapula yang sambil lalu saja.


Mengapa Guru Harus Ngeblog

1. Karena Guru Harus Mengikuti Zaman

Zaman ini generasi melenial, zaman anak mudanya terhubung dengan internet. Mereka tak bisa lagi duduk diam mendengar ceramah tetapi belajar secara digital. Mereka tak lagi mendengar satu sumber tetapi mencari berbagai referensi. Mereka sangat melek teknologi, maka guru pun tak boleh tertinggal. Guru harus meng-upgrade skill-nya sesuai tuntutan pasar pendidikan. Tidak ada lagi alasan "aku tak tahu komputer". Dana sertifikasi guru, selain untuk kesejahteraan guru harus dipakai juga untuk meningkatkan profeseonalisme guru, termasuk di dalamnya kursus internet. Bahkan banyak pelatihan yang diselenggarakan  oleh pemerintah secara gratis untuk membantu guru membuat blog. Guru go blog, yang sering dipelesetkan guru  go blog (goblok) he...he...

2. Karena Guru Harus Menjadikan Blog Sebagai Rumah Kedua

Sekolah (dengan kelas digitalnya) harus menjadi rumah kedua bagi siswa. Blog  dapat menjadi rumah kedua bagi mereka. Sejauh mereka berselancar di dunia maya, mereka harus pulang ke rumah mereka sendiri, baik blog kelas atau blog gurunya. Blog bisa homy sesuai karakter siswa. Blog juga sebagai media pembelajaran. Guru menyajikan materi belajar, media latihan dan evaluasi belajarnya. Tentu ada banyak blog yang sama atau sejenis. Tetapi guru yang mengenal gaya belajar siswanya dan menyajikan materi sesuai kebutuhan siswanya maka sang anak akan lebih mendengar apa kata 'emaknya' di blog sendiri daripada 'emak lain' dari blog yang lain. 

3. Karena Guru Harus Melakukan Penelitian Tindakan Kelas

Tentu ada saja masalah dalam pembelajaran. Syukurnya semua masalah itu tercatat dalam rekaman digital blog. Sehingga memudahkan untuk dianalisis, dilakukan uji coba, dilakukan evaluasi dan hasilnya sangat mudah untuk dibagikan dan dipublikasikan di blog. 

Misalnya, selesai penyajian materi Anekdot, nilai Analisis struktuk anekdot rendah. Maka, guru dengan mudah mengevaluasi dari blog tersebut, apakah penjajian bagian-bagian anekdot kurang "eye cathing". Apakah cara pemberian tugasnya kurang tepat dan sebagainya.

Semua tindakan di atas adalah proses penelitian tindakan kelas. PTK adalah karya tulis yang wajib bagi setiap guru sebagai syarat untuk kenaikan pangkat atau golongan.

4. Karena Guru Wajib Berkolaborasi dengan Semua Unsur Pendidikan

Blog bukan saja penting untuk siswa, tapi penting bagi orang tua, stake holders dan juga pemerintah. Semuanya wajib berkoloborasi dalam networking pendidikan. Misalnya blog dapat menghubungkan dengan orang tua bagaimana nilai anak-anak mereka. Bagi stake holders, bagaimana penyelenggaraan pendidikan di tiap-tiap kelas. Bagi pemerintah, bagaimana blog dapat di-link-an ke Dapodik atau try out UNBK misalnya.

5. Karena Guru Bisa Mendapatkan Tambahan Penghasilan Dari Blog

Tambahan penghasilan dari blog ini adalah bonus dari keharusan mengapa guru harus ngeblog. Saya sendiri pernah menikmati bonus ini berupa uang ataupun barang ketika tulisan  proses pembelajaran saya di kelas saya ikutkan dalam lomba menulis blog. Bagi guru, menulis blog adalah tambahan karena tugas utama guru adalah mengajar. Eh, banyak loh teman-teman bloger yang meninggalkan pekerjaannya seperti pegawai bank atau kantoran demi menjadi fulltime blogger.

Jadi, mengapa guru harus ngeblog? Bolehlah ditambahkan lagi oleh teman-teman di kolom komentar ya..

#Day1 BPN