Curhatan Bunda

Senin, 26 November 2018

Hotdiana : Diana Berdarah Panas

Diana Si Berdarah Panas

Ini beneran loh. Darah saya itu panas. Cobalah sentuh tangan atau kulit saya,  maka saudara akan percaya saya bersuhu tubuh tinggi ( tapi bukan demam loh). 

Teman-teman memang sering mengejek saya ‘ diana panas’ sejak SMP padahal ‘hot’ itu sebenarnya dari bahasa Batak loh, seperti yang saya ceritakan di sini.
Semasa kuliah pernah juga saya periksakan mengapa telapak tangan saya selalu panas, tapi tidak ada apa-apa. Apa mungkin karena saya pemarah ya sehingga darah saya mendidih. Bila orang melihat, saya itu pendiam dan tidak percaya saya itu pemarah. 

Apa saja sekarang membuat saya marah. Anak-anak lompat di tempat tidur. Kamar bagai gudang. Bak mandi dianggap kolam renang. Sepatu mamanya sudah peot dipakai buat guru-guruan. Bahkan lipstik mamanya dijadikan spidol. Ah, sebenarnya mamanya hanya butuh piknik.

Si Perfeksionis


Segala sesuatu harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Akibatnya sering kaku dan terkesan lambat.

Misalnya untuk ikut #bpn30daychallenge, saya harus cari paket internet yang unlimited untuk 30 hari. Semua harus diselesaikan dulu supaya bisa fokus untuk minimal tiga ratus kata. Pagi memasak, kemudian berangkat mengajar. Siangnya harus fokus ke bayi saya yang baru dua bulan. Belum lagi harus mengurus kedua kakaknya minimal menemani mereka membuat PR. Harapannya jam 10 atau 11 malam sudah tenang untuk buka laptop, alhasil saya keletihan dan kantuk membawa saya terlelap.

Itulah  yang menyebabkan saya menyerah terhadap tantangan ini. Padahal itu bukan alasan sebab banyak  juga member BP (yang memang semuanya adalah perempuan) juga punya baby, tapi mengapa mereka bisa tetap menulis. Mereka juga full time working mom tetapi mengapa tetap konsisten one day one post. Ada yang mengetik di android sambil mengantar anak sekolah. Mungkin perlu juga ditiru seperti itu walau minus akan bertambah karena kecilnya tuts di android.


The Lucky One


Banyak teman yang bilang saya ini orang beruntung. Tamat SD dengan ( Nilai Ebtanas Murni) NEM super tinggi. Sebenarnya NEM  saya sudah tinggi tetapi karena mama saya terhasut orang tua lainya bahwa nilai saya bisa tergeser bila ada yang 'menguangi', maka pergi jugalah mama menjumpai kepala sekolah sehingga jadilah NEM-ku super tinggi.

SMP dapat beasiswa. SMK dapat beasiswa Supersemar yang lembaganya dipimpin oleh Suharto dan ini adalah salah satu kenangan yang bisa kuingat tentang  Suharto, he..he..

Kuliah juga mendapat beasiswa dan pernah memimpin hampir 1000-an orang wisudawan membacakan Tri Darma Perguruan Tinggi.

Juara satu dari 60 orang yang lolos tes CPNS guru bahasa Indonesia di Labuhan Batu tahun 2008 (tidak tahu dari berapa ratus peserta ujian saat itu).

Mendapat kesempatan S2 juga dari Kementrian Pendidikan sekaligus juga punya kesempatan studi banding ke Australia.

Saya bukan pintar, hanya beruntung saja. Yang pintar itu adalah orang yang bisa menulis. Sebab saya pernah membaca, sepintar apa pun seseorang, belumlah pintar apabila tidak menulis. Ini jugalah yang mencambukku untuk belajar menulis.

Yup, dulu semasa kuliah, saya bilang kalau saya akan S2 dengan beasiswa dan itu terwujud. Saat mengajar, kumpulan sket dan soal saat mengajar akan jadi buku dan benar terbitlah Inti sari  Bahasa Indonesia SMA yang diterbitkan Kawan Pustaka tahun 2008. Saya bilang saya akan ke luar negeri gratis dan benar tahun 2016 saya ke Singapura dan Australia tanpa biaya, he..he..

Benarkah saya ini peramal ? BUKAN. Saya hanya menuliskan mimpi-mimpi dan melihat mimpi itu akan terwujud. Tapi harus ditulis ya. Tulis dalam jangka panjang, menengah dan pendek. Sungguh ajaib, tulisan itu bagai sayap yang mendorong kita maju mewujudkan mimpi. Seperti menerbitkan buku, sket dan soal yang tadinya di papan tulis saya simpan ke laptop kemudian mencari penerbit. Yang tadinya ingin mendapat beasiswa S2, maka rajin mencari info beasiswa dan belajar apa saja yang harus dipersiapkan untuk beasiswa tersebut.

Kedepannya saya masih bermimpi untuk menjadi instruktur nasional, menulis buku lagi dan berlibur ke asia bersama keluarga kecilku. Ah,....semoga tetwujud.

Terakhir Membeli Buku Tahun 2011


Dulu saya selalu membeli buku sekali sebulan dan bermimpi punya perpustakaan pribadi. Eh, sejak berkeluarga dan mempunyai penghasilan tetap tak pernah lagi membeli buku. Jangankan membeli, membaca saja pun tidak lagi. Sekali setahun, minimal ada dua buku baru dari pelayanan, itu pun tidak pernah tuntas dibaca. Kemarin sewaktu kuliah pasca sarjana buku yang dibeli dan dibaca hanya sekedar memenuhi tugas kuliah saja.

Serasa tiada lagi waktu untuk membaca. Membaca hanya keterpaksaan tugas-tugas mengajar. Membaca tidak lagi menyenangkan. Membaca tidak lagi menyegarkan jiwa.

Itulah lima fakta mengenai saya. O Lord, help me, what You want me to be.







0 komentar:

Posting Komentar